Jumat, 20 Maret 2015

Book Review : Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh (Supernova #1) by Dee


That's it, saya menyerah, bendera putih, saya berhenti,  tepat di halaman 154 dari 343. Ini buku pertama di 2015 yang tidak saya baca sampai selesai. Sebenarnya sayang juga, mengingat ini buku pertama dari serial supernova dan masih ada 3 buku selanjutnya, tapi mau bagaimana lagi hati tidak bisa dipaksa hehehe. Dan  lagi pula buku yang lain masih banyak yang antri.

Sumber ketidakpuasan saya terhadap buku ini sebenarnya dari kebodohan dan ekspektasi saya sendiri yang tidak tepat. Saya belinya sudah berminggu minggu yang lalu karena tertarik dengan iklan filmnya yang berisikan model/aktris yang sedap dipandang mata, apalagi judulnya "Supernova" seperti menjanjikan petualangan dramatis perang antar bintang a la film Star Wars. Hmmm, tapi bodohnya saya, beli buku hanya bermodalkan duit, tidak baca-baca resensinya dulu. Inilah kira-kira penyebab saya tidak "sreg" dengan buku ini dan kemudian berhenti, ekspektasi sayalah yang terlampau berbeda dari kenyataan isi buku ini. Wess lah...

Secara fisik bukunya kecil, baca 1-2 hari harusnya tamat. Tapi baru bab pertama saya butuh dua hari (dua hari!!!!) menyeberanginya menuju bab kedua. Entahlah apa saya yang terlalu blo'on atau bukunya yang canggih. Bukunya juga tidak terlalu tebal tapi isinya wuooow "berattt",  bikin otak saya sakit. Eh, bukan berat juga sih, tapi lebih tepatnya berat sebelah, plotnya sederhana tapi ditempeli dengan hiasan-hiasan yang berat. (Nah loh, saya ngomong apa sih? Pusing sendiri, udah lah, lanjut).

Reuben dan Dimas, karakter mereka lumayan, awalnya langsung tertarik sekaligus bingung. Kan, tidak tiap hari baca pasangan gay yang cerdas dan bukan hanya jadi karakter sampingan yang biasa cuma dapat bagian  penggembira. Percakapan mereka yang ngalor ngidul soal teori-teori yang beraneka rupa itu cukup menarik, tapi ada beberapa bagian saya merasa sedang membaca buku teks pelajaran. Sebagai pembaca awam yang IQ nya agak jongkok, saya cuma bisa mengagumi dan baca pelan lalu mengulang-ulang beberapa beberapa kalimat biar ngerti.

Re, Rana, dan suaminya Rana: *putar bola mata*, errrr, kisah perselingkuhan lagi *menahan diri supaya tidak jedotin kepala di dinding*. Saya mengapresiasi selipan puisi-puisi di kisah tiga orang ini, tapi menurut saya masih terlalu enghhhhh gitu deh...

Diva: awalnya menarik, kalimat yang keluar dari mulutnya seperti ceramah, kemudian biasa saja, dan Gio muncul dan... *cari dinding buat jedotin kepala*

Saya akui gaya penulisan  mbak Dee berkelas, "sastra banget dah" kalo pembaca awam seperti saya bilang. Penggunaan istilah yang canggih dan teori yang asing di telinga saya seharusnya membuat buku ini menarik, tapi bagi saya justru membuat tidak nyaman dan terlalu dipaksakan. Kadang saya berpikir ini ada hubungannya gak sih dengan cerita utama, kok berasa cuma "ditempel".

Kesimpulan: Saya sadar, seorang penulis tidak bisa menyenangkan semua pembaca. Buku Supernova, bukan ditulis untuk pembaca seperti saya, karya Mbak Dee yang satu ini terlalu canggih buat saya yang awam ini.

Lain kali lah, saya lanjutkan bacanya, siapa tau rating dan opini saya bisa berubah. Teman-teman saya mau bertanya, apakah saya harus baca buku ini untuk bisa lanjut ke buku kedua, ketiga dan keempat?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar