Tampilkan postingan dengan label Terjemahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Terjemahan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Desember 2014

One Man Guy by Michael Barakiva


Disclaimer : ini adalah hasil terjemahan saya untuk novel berjudul One Man Guy yang ditulis oleh Michael Barakiva, saya tidak mengambil keuntungan materil dalam jenis apapun, saya hanya meminjam karya penulis ini untuk dijadikan bahan latihan.

One Man Guy
1
Alek memandang menu dengan curiga. Ia mencium aroma marinara dan sebuah perangkap.
"Selamat datang di Trattoria dell'Arte. Nama saya Lizzy. Bisa saya tawarkan minuman sebagai pembuka?" pelayan itu masih muda, mungkin seorang anak kuliahan yang sedang pulang kampung untuk liburan musim panas, dengan wajah ramah, bulat, dibingkai oleh rambut yang ujung-ujungnya keriting. Alek kasihan padanya. Pelayan itu tidak tahu dengan siapa ia berhadapan.
"Air mineral botolan apa yang kau punya?" tanya ibu Alek, sementara ayah dan saudara laki-lakinya mengamati daftar menu seperti seorang penjahat yang mencari titik lemah lawannya. Meskipun kedua orang tuanya lahir di negara ini, ibu Alek berbicara dengan sedikit aksen yang diwarisinya dari lingkungan Little Armenia di Los Angeles di mana ia dibesarkan. Seringkali aksen itu terdengar halus saat ibunya berbicara, dengan huruf hidup agak dipanjangkan sehingga memberikannya aura misterius dari eropa yang tidak terlacak. Tapi jika ibunya mau, ia bisa mengubah aksennya seperti laba-laba yang menenun sebuah jaring yang sangat indah sehingga menarik mangsanya mendekat untuk dibunuh.
“Air mineral segera datang!” Lizzy merespon dengan ceria, salah paham.
“Tidak, kami ingin tahu merk air mineralnya,” ayah Alek menekankan maksud ibunya.
“Oh,” kata Lizzy, seakan-akan ayahnya bercanda
“Kamu tahu, banyak air mineral yang sebenarnya memiliki level kontaminasi yang sama dengan air ledeng.” Ibu Alek memberikan informasi kepada Lizzy yang malang seolah-olah telah menyelamatkan nyawa pelayan itu.
Alek melihat kakaknya, Nik, tapi ia terus saja mengacuhkan Alek. Alek kembali memandang Lizzy dengan kasihan, dengan sia-sia melalui telepati, ia memberikan kode ke pelayan itu untuk bersiap menghadapi cobaan berat yang akan terjadi.
“Kami punya Evian,” Lizzy menawarkan.
“Evian bagus,” ayahnya menyetujui.
Lizzy kembali relaks. “Jadi, Evian?”
“Apa kau menyimpannya di suhu ruangan?” ibu Alek bertanya
“Maaf?” Lizzy bertanya dengan gugup. Alek curiga situasi penuh horor akan mulai menyongsong.
Ibu Alek meraih kesempatan ini untuk memberikan kuliah. “mencerna air dingin akan menyulitkan tubuh,” jelasnya, “karena tubuh harus menyesuaikan suhu bahan yang dicerna dengan suhu tubuh sebelum sampai ke perut. Itu mengapa kami lebih memilih air dengan suhu ruangan.”
“Itu sehat untuk sistem pencernaan” Nik menambahkan, seakan ini adalah sesuatu yang harus diketahui oleh semua orang.
“Saya bisa siapkan,” Lizzy menawarkan dengan pelan, sadar berada posisi tiga lawan satu.
“Bagus sekali,” lanjut ibu Alek. “Dan jika tidak, bisa kau minta sesorang di dapur untuk menghangatkannya ke suhu ruangan?”
Lizzy tertawa, seolah ibu Alek sedang bercanda. Tapi Alek tahu ibunya sedang tidak bercanda.
“Tidak lebih dari enam puluh delapan derajat. Tujuh puluh paling tinggi” instruksinya. “Aku tidak mau airnya panas, karena nanti kami harus memasukkan es ke dalamnya, dan itu hanya akan menambah kontaminasi, yang mana sama saja. Saya yakin kamu mengerti.” Alek mencurigai Lizzy sedang memikirkan dosa apa yang telah diperbuatnya di kehidupan sebelumnya yang membuat ia harus melayani meja ini. “kecuali, tentu saja, kamu punya es yang terbuat dari air mineral.”
“Tidak,” Lizzy mengatakan dengan pelan, seakan-akan dia berbicara dengan penjahat berbahaya. “Saya rasa semua es kami terbuat dari air keran.”
“Jadi mari kita lihat apa kami bisa mendapatkan Evian dengan suhu ruangan,” ibu Alek memutuskan. Lizzy pergi terbirit-birit.
Alek pikir seharusnya ilegal untuk orang Armenia makan di restoran. Atau harus ada peringatan seperti pada pembungkus rokok: “Melayani Orang Armenia Bisa Sangat Berbahaya Untuk Kesehatan Anda.” Masalahnya adalah orang Armenia sangat bangga dengan diri mereka sebagai juru masak yang hebat, mereka menolak membayar untuk sesuatu yang mereka rasa bisa melakukannya dengan lebih baik.
“Aku harap mereka punya zatar di sini.” Nik menaikkan nada suaranya cukup keras sehingga para staff bisa mendengarnya mengeluhkan tentang tidak adanya makanan pedas a la timur tengah di restoran ini.
“Kita bisa membuatnya nanti saat kita pulang” timpal ibunya. Alek berfikir apakah keluarga non-Armenia juga menghabiskan waktunya di restoran merencanakan makanan cadangan jika makanan yang mereka pesan tidak sesuai selera mereka.
“Jadi, Alek, ibumu dan ayah punya suatu hal yang perlu kami bicarakan denganmu,” ayahnya memulai.
“Aku tahu.” Alek merespon. “dan pasti, itu hal yang buruk karena sudah berbulan-bulan aku minta kalian membawaku kesini.” Ia mencelupkan sepotong roti ke dalam minyak zaitun.
“Kau tahu, mereka mungkin saja ingin melakukan sesuatu yang menyenangkanmu,” kata Nik. Alek bisa mendengar walapun sebenarnya kau tidak pantas mendapatkannya ikut di belakang kalimat itu.
“Terus, katakan saja” kata Alek
“Kamu akan ikut sekolah musim panas!” ibunya mengumumkan, seperti ia baru saja mendapatkan penghargaan.
“Aku apa?” Alek melupakan potongan roti yang berlumuran minyak zaitun di piringnya.
“Mereka bilang kamu akan pergi ke sekolah musim panas,” Nik mengulang perkataan ibunya dari seberang meja.
“Aku bukannya tidak bisa mendengar mereka, bodoh. Tapi aku tidak percaya,” potong Alek.
“Aleksander, tolong pelankan suaramu,” ayahnya memperingatkannya, sambil menggosokkan tangan ke janggut yang mulai beruban yang dipanjangkannya tahun ini. “kita di tempat umum.”
Jika Alek berada di mood yang lebih baik, ia mungkin membalasnya dengan bercanda. “Kenapa aku harus ke sekolah musim panas? Seperti aku tidak lulus saja.” Alek mulai mengira-ngira, mencoba mencari keajaiban apa yang telah dilakukannya di minggu terakhir sekolah yang membuatnya harus menerima takdir buruk ini.
“Sayang, Ibu Schmidt bilang ia bisa membuat pengecualian untukmu,” ibu Alek menjelaskan  “jika kamu mengulang bahasa inggris dan matematika dan mendapatkan nilai yang cukup, kamu bisa tetap berada di kelas unggulan tahun dapan.”
“Ibu bicara dengan ibu Schmidt di belakang ku? Ini konspirasi.”
“Aleksander, kamu empat belas tahun. Kami orang tuamu. Ketika kami berbicara dengan guru pembimbingmu, itu untuk kebaikanmu sendiri,” ayah mengomelinya.
“Well, mungkin saja aku masih bisa meningkatkan nilaiku— “
Ibu Alek memotongnya. “Ibu Schmidt memberitahu kami meskipun kamu mendapatkan skor tertinggi, itu masih belum menjamin kau berada di kelas unggulan.”
“Well, siapa yang perduli tentang itu?” Alek melawan. “aku akan mengambil kelas biasa tahun depan. Itu tidak berarti kiamat kan.”
“Kau tahu Alek” ayahnya memulai, “South Windsor memiliki sistem sekolah umum terbaik di New Jersey. Kakek buyutmu terbang dari Turki saat terjadi pembunuhan massal terhadap orang Armenia hampir seratus tahun yang lalu dan tiba di negeri ini tanpa membawa apa-apa. Mereka menyerahkan tanah mereka, harta mereka, dan sejarah mereka untuk datang ke negara di mana mereka bisa aman dan di mana anak-anak mereka akan tumbuh tanpa penyiksaan dan menerima pendidikan terbaik di dunia.”
Alek tahu ketika ayahnya mulai berceramah mengenai “masa lalu”, itu berarti hal ini serius.
“Pengorbanan mereka berarti bahwa kau memiliki sebuah tanggung jawab untuk melakukan yang terbaik yang kau bisa”, ayahnya mengakhiri.
“Tapi bagaimana dengan tennis camp?” Tangis Alek.
Orang tuanya melihat Lizzy kembali dengan sebuah botol Evian dan kemudian berhenti berbicara. Jangan sampai orang luar mengetahui rahasia keluar Khederian, pikir Alek.
“Aku punya berita bagus—kami menyimpan beberapa Evian pada suhu ruangan di dalam gudang,” kata Lizzy, dengan naif membuka botol.
“Aku harap tadi kau mengatakan airnya berada dalam botol plastik,” ibu Alek menyesal dengan nada sedikit meminta maaf sebelum Lizzy menuangkan air dari botol.
“Maaf?” tanya Lizzy
“Kami tidak minum air yang dari botol plastik,” ibu Alek menjelaskan, seakan kata-kata yang keluar dari mulutnya masuk akal. “Pertama, poliyvinil klorida membawa polutan yang dicurigai mengganggu kesimbangan hormon. Kedua, bisphenol A telah lama dihubungkan dengan obesitas dan ke-abnormalan pada kromosom. Dan kamu tidak akan mau tahu apa yang terjadi pada plastik jika terkena sinar matahari!” Alek sangat mengagumi kemampuan ibunya dalam menyampaikan hal-hal gila secara masuk akal. “kami minta teh hijau saja,” ibu Alek memutuskan.
“Bisa saya jelaskan menu spesial kami?” Lizzy menanyakan, mengambil satu langkah ke belakang bersiap mengantisipasi serangan.
“Sebenarnya, bisa kami menanyakan beberapa pertanyaan dulu?” ayah Alek membalas.
“Tentu,” Lizzy merespon dengan letih. Orang tua Alek bersatu melakukan interogasi.
“Kalian mendapatkan mozarella dari perkebunan mana?”
“Sayuran apa saja yang kalian dapatkan dari petani lokal?”
“Apakah tomatnya organik?”
“Apa acarnya direbus sebelum diasinkan?”
“Apa kacang polongnya segar atau beku?”
“Apa dombanya internasional atau lokal?
Lizzy mengintip catatan yang dibuatnya denga tergesa-gesa “um saya liat dulu. mozarellanya dari pasar umum, saya pikir beberapa dari labu dan ketimunnya lokal, dan saya tidak tahu mengenai tomatnya. Apalagi yang kalian tanyakan? Sesuatu tentang acar?”
Lizzy melakukan sebisanya selama pengeroyokan berlangsung, tapi pada akhirnya, spiritnya telah hancur. Senyuman sinis Nik setiap kali si pelayan gagal menjawab pertanyaan juga tidak membantu.
“Apa kalian sudah tahu apa yang akan kalian pesan?” Lizzy bertanya lembut, memegang erat buku catatan kecilnya seperti sebuah tameng. “atau kalian masih butuh waktu lagi?”
“Saya pikir kami masih memutuskan,” kata ayah Alek.
Alek bersumpah mendengar Lizzy yang tadinya ramah mulai mengeluarkan kata-kata kotor ketika berbalik pergi. “Setidaknya dengan teh, mereka harus merebus airnya terlebih dahulu, jadi kita tahu itu aman,” ibunya berbisik “jadi, sampai di mana kita tadi?”
“Aku tanya bagaimana bisa aku pergi ke sekolah musim panas kalau tennis camp mulai dua minggu lagi. Ingat tennis camp? Hal yang kalian janjikan bisa aku lakukan karena kalian melarangku ikut tim sekolah?”
“Kami tidak menginginkan kau ikut tim karena kami pikir akan labih baik jika kau konsentrasi meningkatkan nilaimu. Ayah takut latihan tennis harus menunggu juga,” ayahnya menjelaskan.
“Bagaimana dengan uang pangkalnya? Ayah tahu mereka tidak akan mengembalikan uangnya kan?” balas Alek.
“Kami tahu Alek”. Respon ibunya. “Tapi uangnya kita relakan saja. Akademis yang kita dahulukan di rumah kita.”
“this is suck,” desis Alek.
“jangan pakai kata itu,” kata ayahnya refleks. Alek mengingat pertama kali ia mendengar temannya mengumpat di depan orangtuanya—umpatan yang sebenarnya, bukan damn atau suck. Itu tidak akan terjadi di rumahnya.
“Well, kalau kau menganggap tugas-tugasnya terlalu menantang, aku senang membantu mu.” Nick senyum mengejek.
Alek menendang kakaknya di bawah meja.
“Alek, hentikan itu!” ibu mengingatkannya. “Orang akan membicarakan kita!” Ibunya mengedarkan pandangannyan ke sekeliling untuk melihat apakah ada yang melihat tindakannya.
“Tuhan, bu, apa ibu mengerti, tida ada yang melihat kita. Tidak ada yang peduli apa yang kita lakukan. Aku bisa berdiri di atas meja ini dan melempar roti ke mereka dan mereka tidak akan perduli.” Untuk mendemonstrasikan perkataannya, Alek memotong rotinya yang kini sudah lembek, terendam dalam minyak dan cuka balsamik, dan kemudian membidikkannya ke seberang meja ke arah Nik.
“Aleksander, cukup,” ayahnya memarahinya. “sekarang letakkan roti itu, duduk seperti orang dewasa, yang selalu kau minta untuk diperlakukan, dan nikmati makanan yang kita bayar.”
Makanan yang dibayar oleh ibu, kata Alek pada dirinya sendiri. Tapi Alek tahu lebih baik tidak mengatakannya keras-keras. Sejak ayahnya dipecat dari perusahan arsitektur tahun lalu dan ibunya harus kembali bekerja dengan waktu penuh, ayahnya menjadi sangat sensitif soal uang.
“Well, makasih, guys,” kata Alek, dengan nada berpemanis buatan. “Mari kita lihat—kalian pikir aku idiot, kalian memberi tahu seminggu sebelum sekolah berakhir bahwa aku harus menghabiskan sisa musim panas di dalam gua keputus-asaan yang mana di gedung SMA-ku, aku bahkan tidak bisa ikut latihan tenis meskipun kalian berjanji bahwa aku bisa ikut—apa masih ada siksaan yang ingin kalian tambahkan?”
“Well,” Ibu Alek berkata, memainkan ujung serbet dengan gugup.
“Oh, tuhan, kalian bercanda kan? Apa lagi?”
Ibu melihat ke arah ayahnya meminta pertolongan, tapi ayahnya sendiri sedang mengamati dengan cermat daftar menu seolah-olah itu adalah cetak biru bahtera nabi Nuh.
“Kau tidak perlu berada di atas lima persen dari ranking kelasmu,” jawab Nik. “Jika kau ikut sekolah musim panas, kamu tidak bisa ikut di liburan keluarga.”
“Andranik, biar kami yang jelaskan,” kata ayahnya, akhirnya melepaskan pandangannya dari menu. Nik, yang telah tumbuh empat inchi selama tahun ketiganya di SMA, masih punya kesopanan untuk diam sekali saja. “Alek, ketika kami berjanji untuk ikut ke air terjun Niagara bersama dengan para keluarga dari gereja di musim panas ini, kami membelinya dalam paket grup. Jika kami keluar sekarang, kita akan merusak liburan orang lain.”
“Belum lagi aku harus minta izin khusus dari camp-camp yang kuikuti,” tambah Nik.
“Jadi, kalian mengatakan padaku bahwa kalian memilih orang-orang dari gereka dibandingkan anak kalian sendiri untuk liburan keluarga?” tanya Alek. “dan aku yakin dengan fakta bahwa pacar Nik adalah salah satu dari orang-orang itu adalah kebetulan, kan? Maksudku, aku sudah terbiasa kalian memilih Nik daripada aku, tapi memilih Nanar dibandingkan darah daging kalian sendiri?”
“Nanar tidak ada hubungannya dengan ini,” Nik memotong
“Terserah.”
“Alek, keluarga Nanar hanya salah satu dari banyak keluarga yang kami kecewakan jika kami mambatalkannya sekarang,” ibunya menjelaskan.
Nik meletakkan Coke yang dihirupnya dengan tampang sangat puas. “Lagipula, kami semua dari Armenian Youth merencanakan melakukan penelitian tugas sejarah kami di Toronto Archives.”
“Belum lagi kami harus merelakan uang yang telah kami bayarkan,” sambung ayahnya.
“Aku masih belum mengerti kenapa kita tidak melakukan liburan sendiri seperti keluarga normal lainnya,” tanya Alek tidak sabar.
“Well, jika itu yang kamu mau lakukan tahun depan, itu yang akan kita lakukan, ayahmu dan ibu telah memutuskan bahwa kamu tidak bisa ikut tahun ini, kamu yang akan menentukan kemana kita akan liburan tahun depan.”
“Jika aku tidak kembali sekolah musim panas tahun depan kan, maksud kalian.” serobot Alek. “Karena siapa tahu? Mungkin aku akan mendapatkan”—Alek menarik nafas dengan efek dramatis—“oh jangan sampai—nilai C lagi, dan mereka akan mengancam akan menendangku keluar dari kelas unggulan lagi, dan aku harus mengorbankan musim panasku yang lain kepada institusi paling kejam dalam sejarah peradaban manusia.”
“Yang benar saja . . .” ayahnya mulai, tetapi berhenti ketika ia melihat Lizzy jalan kembali dengan perlahan, berusaha menyeimbangkan sebuah cerek air panas dan empat cangkir dengan empat the celup di dalamnya.
Ibu Alek tersenyum ke pada pelayan ketika ia sampai ke meja. Lizzy pikir ini sebagai tanda yang baik, tetapi Alek lebih tahu yang sebenarnya. “apa kau punya teh bubuk?” ibunya bertanya.
“Teh bubuk?” tanya Lizzy dengan pelan.
“Penelitian menunjukkan bahwa kertas yang digunakan di teh celup—“
Oh my God!” Alek meledak. “kenapa ibu menyiksa gadis ini? Dia bahkan tidak ada hubungan dengan ibu! Dan tidak ada yang mendapat penyakit kanker dari meminum teh celup. Ibu mendengarku? TIDAK ADA. Dan tidak ada yang sakit kanker setelah meminum Evian dari botol plastik!” cara pengunjung restoran lain memandang Alek memberitahunya mungkin saja dia menggunakan suara luar ruangannya, tapi dia tidak perduli. “apa ini seharusnya makan malamku? Hadiah pengganti sakit hatiku karena dikhianati orang tuaku, untuk musim panas neraka? Kalau begitu kita makan malam dengan caraku.” Ia melihat ke arah Lizzy, yang wajah bingungnya seketika berubah menjadi ekspresi terima kasih. “Teh nya enak, terima kasih.” Alek membuka menu dengan cepat. “Saya pesan carbonara. Mereka pesan steak. Dan orang tolol di sudut itu yang mulutnya terbuka seperti ikan pesan lasagna. Dan pastikan dagingnya matang sempurna, oke?”
Lizzy mengangguk ya, dengan cepat mencatat pesanan ke buku kecilnya.
“sekarang cepat pergi, sebelum mereka punya kesempatan mengatakan sesuatu!”
Lizzy tidak butuh dorongan lagi. Ia berlari pergi, ikatan apronnya melambai di belakangnya.
Saat Lizzy sudah tidak bisa mendengar, ibu Alek membungkuk ke arah Alek. “Aku harap mereka memasak dagingnya dengan baik,” bisiknya. “Kalau tidak, aku akan menyuruh mereka memasaknya kembali.” 

Kamis, 06 November 2014

Keane - Russian Farmer's Song (Translate Lyric Bahasa Indonesia)



I watched you walking
(aku memperhatikanmu berjalan)
Late in the day
di ujung hari
Where old men were talking
di mana para pria tua
Binding up the hay
sedang mengikat jerami
I watched you drinking
aku memperhatikanmu minum
Shutting your eyes and thinking
menutup mata dan berpikir
Late in the day
di ujung hari

You were signalling with your hands
kau memberi isyarat dengan tangan mu
Going, going out of my way
pergi, keluar dari jalanku
You're out of my way
kau pindah dari jalanku
Where you're banging on hollow land
di mana kau memukul-mukul jalan kosong

A hunter-gatherer and
seorang pemburu-pengumpul dan
Blowing, blowing out of the rain
meniup hujan pergi
In out of the rain
hujan pergi

Ooooh, Oooh

After several uneventful days
setelah beberapa hari yang membosankan
We gathered all the faithful
kita mengumpulkan seluruh keyakinan
To come and have their say
untuk datang dan lakukan yang mereka katakan
Drinking, greeting
minum, salam
Sellers and farmers meeting
penjual dan petani bertemu
Late in the day
di petang hari

You were signalling with your hands
kau memberi isyarat dengan tangan mu
Going, going out of my way
pergi, keluar dari jalanku
You're out of my way
kau pindah dari jalanku
Where you're banging on hollow land
di mana kau memukul-mukul jalan kosong
A hunter-gatherer and
seorang pemburu-pengumpul dan
Blowing, blowing out of the rain
meniup hujan pergi
In out of the rain
hujan pergi

I wish all my words were unsaid
kuharap semua kata-kataku tak terucap
I wish all my words were unsaid
kuharap semua kata-kataku taj terucap
If I could eat my words would I be standing here
seandainya aku dapat tarik kembali kata-kataku akankah ku berdiri di sini
Biding my time and feeling so young
menunda waktuku dan merasa sangat muda

In the summer when the rain begins
di musim panas ketika hujan mulai turun
Better hurry, don’t bide your time
lebih baik cepat, jangan ulur waktumu
Better get all your winter things
lebih baik siapkan benda-benda musim dinginmu
Better gather, don’t bide your time
lebih baik kumpulkan, jangan ulur waktumu

In the summer when the rain begins
di musim panas ketika hujan mulai turun
Better hurry, don’t bide your time
lebih baik cepat, jangan ulur waktumu
Better get all your winter things
lebih baik siapkan benda-benda musim dinginmu
Better gather, don’t bide your time
lebih baik kumpulkan, jangan ulur waktumu

download music
download lyrics

Tears in Heaven


kemarin, di pagi hari yang cerah sambil menyeruput segelas kopi herbal peluntur lemak di ruang tamu, telinga saya tiba-tiba menangkap lirik yang sangat indah dari sebuah lagu. lagunya dinyanyikan oleh Boyce Avenue, itu loh grup musik dari Amerika yang suka meng-cover lagu-lagu terkenal. lagu itu berjudul Tears in Heaven yang kalo diartikan dalam bahasa indonesia menjadi Air mata di dalam surga atau Tangis di surga bisa juga kali ya. lagunya bertempo lambat dan hanya diiringi oleh satu instrumen gitar. mendengar dari kalimat pertama saja, hati saya langsung tiba "cyuuuusss" meleleh. ini ditambah lagi dengan penjiwaan vokalisnya yang dalam, berhasil membuat saya melupakan getirnya teh herbal di dalam mulut.
kemudian lagunya saya putar lagi sampai berulang ulang, asli deh ini lagu sedih abeeesss *nyeka air mata*. setelah cari referensi sana sini, akhirnya saya tahu lagu ini aslinya dinyanyikan oleh Eric Clapton. Seperti penyanyi aslinya, pastinya ini lagu juga sudah jadul. tapi, untunglah ada Boyce Avenue yang meng-covernya jadi telinga saya masih bisa mendengar lagu ini. Tears in heaven ibarat sebuah harta karun yang sudah lama terkubur dan pada akhirnya ditemukan kembali untuk dikagumi keindahannya.


Tears In Heaven / Air mata di surga

Would you know my name / Akankah kau tahu namakuif I saw you in heaven? / jika aku melihatmu di surga?
Would it be the same / akankah menjadi sama
if I saw you in heaven? / jika aku melihatmu di surga?
I must be strong / Aku harus kuat
and carry on / dan terus berlalu
'Cause I know I don't belong / karena kutahu aku tak pantas
here in heaven / di dalam surga ini

Would you hold my hand / akankah kau menggenggam tanganku
if I saw you in heaven ? / jika aku melihatmu di surga?
Would you help me stand / akankah kau menolongku berdiri
if I saw you in heaven ? / jika aku melihatmu di surga?
I'll find my way / kukan temukan jalanku
through night and day / lalui siang dan malam
'Cause I know / karena kutahu
I just can't stay / aku tak dapat tinggal
here in heaven / di dalam surga ini

Time can bring you down / waktu dapat menjatuhkanmu
time can bend your knees / waktu dapat membengkokkan lututmu

Time can break your heart / waktu dapat mematahkan hatimu
have you begging please / membuatmu memohon pertolongan
begging please / memohon pertolongan

Beyond the door / di luar pintu
there's peace I'm sure / terdapat kedamaian kuyakin
Cause I know there'll be no more / karena kutahu tak akan ada lagi
tears in heaven / air mata di dalam surga

Would you know my name / Akankah kau tahu namaku
if I saw you in heaven? / jika aku melihatmu di surga?
Would it be the same / akankah menjadi sama
if I saw you in heaven? / jika aku melihatmu di surga?
I must be strong / Aku harus kuat
and carry on / dan terus berlalu

'Cause I know I don't belong / karena kutahu aku tak pantas
here in heaven / di dalam surga ini

download music (Boyce Avenue Version)
download music (Eric Clapton Version)
Download Lyrics

Selasa, 10 Desember 2013

The Day, Chapter 2: The End ~ Akhir (terjemahan novel online Daniela Rubio)



Chapter 2: The End ~ Akhir

Perjalanan ke sekolah tidak terlalu buruk, hanya kemacetan di jalan yang sama, seperti pagi-pagi sebelumnya. Aku mendengarkan radio dan ikut menyayikan lagu apa saja yang diputar, apapun genrenya. Saat ini, genre lagu tidak berarti lagi bagiku.
Aku mampir di rumah Brent, dan membunyikan klakson tiga kali untuk memberitahukan aku sudah ada disini.
“Hey squirt! Selamat ulang tahun!” dia tersenyum lebar padaku, kubalas dengan senyum pura-pura. “Ini untukmu,” ucapnya, memberiku sebuah kotak dengan lagak gentleman.
Aku mengambilnya, berpura-pura tersanjung. Aku merobek pembungkusnya, ber-acting terkejut meskipun sudah tahu apa isi kotak itu. “Aww Brent! Kau tidak perlu repot-repot!” Aku menahan napas saat mengeluarkan gelang Tiffany dengan berlian berbentuk bola tennis dari dalam kotaknya.
“Tapi aku ingin repot,” Ia mengatakannya disertai dengan kedipan mata.
Aku menoleh padanya, termangu melihat penampilannya. Wajah Brent seperti wajah milik dewa-dewa Yunani. Rahangnya terpahat sempurna, ditambah sebuah hidung sempurna untuk mendampingi rahang itu. Matanya hijau teduh yang warnanya hanya akan kau dapatkan di dalamnya samudera antah berantah. Rambutnya sewarna kayu – sejenis kayu yang ayah dan aku biasa beli di toko bangunan, lalu menghabiskan waktu seminggu bersama-sama mengubahnya menjadi sebuah meja untuk rumah kami.
Pada dasarnya, dia cowok dengan tampang sempurna. Kau tahu, tipe yang biasa gadis-gadis gambarkan dalam novel percintaan? Cowok yang kau cintai karena dia oh dia-so hot atau oh dia-so sweet? Yeah, Brent adalah cowok sejenis itu.
Aku bahkan tidak menyadari aku sedang menangis hingga Brent menampakkan ekspresi sedih. “Hailee, kau baik-baik saja?” Ia bertanya pelan, menggunakan ibu jarinya untuk menghapus air mata dari pipiku.
Oke. Kenangan tentang saat-saat yang kuhabiskan dengan ayah selalu membuatku menangis. Aku cepat-cepat menyadarkan diri seketika kenyataan menampar wajahku. Tidak, aku tidak boleh menangis. Tidak di depan Brent.
Ini aneh; orang lain tidak menyadari apapun yang terjadi padaku kecuali kejadian yang terjadi hari ini. Tetapi Brent, dia menyadarinya. Jangan-jangan . . . ah, aku mengaggap otakku saat ini sedang mengada-ada dan buru-buru membuang pikiran itu.
Aku meyakinkannya aku tidak apa-apa dan menyalakan mobilku lagi, keluar dari halaman rumahnya menuju jalan raya.
Brent terus memandangi wajahku sepanjang perjalan menuju sekolah, yang makan waktu sekitar sepuluh menit. Aku berusaha berpura-pura tidak menyadari, tetapi tatapannya membuat pipiku memerah, dan aku berusaha untuk tidak menampakkannya. Caranya menatapku seperti ia bisa melihat sampai kedalam diriku, ke dalam jiwaku, membuat diriku ingin ditelan oleh kursi mobil ini saja.
Maksudku, tentu saja kami sudah berteman akrab sejak taman kanak-kanak, saat ada anak yang mengejekku, dia akan melawannya, lalu mengusir mereka. Suatu hari, dia menemaniku jalan kaki pulang ke rumah dan meyakinkanku bahwa aku adalah gadis tercantik yang pernah ia lihat dan anak-anak pengganggu itu hanya cemburu padaku.
Tentu saja, dia waktu itu mengatakannya, hanya karena ia kasihan padaku. aku yakin dia tidak pernah menyangka kami akan menjadi sahabat. Tetapi saat mama mengundangnya untuk datang esok harinya, dia setuju. Dan itulah saat di mana semua ini bermula.
Aku menyayangi Brent. Aku tidak benar-benar tahu apa yang aku lakukan jika hari-hariku tidak mengikutsertakan Brent di dalamnya. Dia satu-satunya yang mendukungku, dan meskipun aku punya banyak teman, hanya dia yang kupercaya.
Kami akhirnya sampai di sekolah dan seketika dikerubuti teman-teman.
“Selamat ulang tahun Hailee!”
“Aw Hailee! Akhirnya kau legal juga!”
“Kau berhasil! 18!”
“Ha, akhirnya kau cocok menjadi seorang senior seperti kami.”
“Bagus Hailee! Akhirnya kau bertampang dan bertingkah seperti anak dua tahun.”
Komentar terakhir membuat semua orang berhenti lalu tertawa, tetapi seketika mereka menyorot si empunya suara saat menyadari itu adalah Ivellise, satu-satunya orang di sekolah ini – di dunia ini – yang tidak menyukaiku.
Rambutnya blonde, makeup nya sempurna, dan bentuk tubuhnya diinginkan oleh semua orang yang bermata dua, termasuk para cowok. Dia itu boneka Barbie, membawa anjing Chihuahua di tas 1), dan memakai rok lebih dari dua puluh senti di atas lutut, menyalahi dress code sekolah
Aku membencinya, dia membenciku
Masalahnya adalah . . . dulunya kami sahabat.
Brent, Ivellise dan aku dulunya adalah Three Musketeers; selai kacang, dan jelly di tambah pisang 2); Miranda, Lizzie, dan Gordon 3); Miley, Lilli ,dan Olliver 4). Tak terpisahkan.
Hingga, tiba hari dimana Ivellise mulai mencukur alisnya, dia menjadi terlalu keren untuk kami. Ritual harian bermain video games dan memesan pizza menjadi sangat “tidak berguna dan menggemukkan” baginya. Jadi, kami berdua mebiarkannya meniggalkan kami. Dan untuk itu, ia membenci kami. Ia ingin mengubahku menjadi seperti dirinya, dan menjadikan Brent pacar. Tapi kami tidak mau itu. Akhirnya, sejak kelas 9, hanya tersisa Brent dan aku, dan aku baik-baik saja dengan itu.
Aku terkejut mendengar Ivellise. Bukan karena terhina, tapi karena setiap hari dia mengatakan hal yang sama persis kepadaku. Tetap saja aku membalasnya dengan kata-kata yang lebih pedas.
“Bukannya mamamu lebih pantas dipanggil anak umur dua tahun? Maksudku, hasil operasi plastik, pasti membuat wajahnya lebih kencang dari anak dua tahun,” balasku puas, sadar apa yang kukatakan tidak hanya kenyataan, tapi juga sangat telak.
Semua orang mulai tertawa, dan muka Ivellise menjadi merah karena marah atau mungkin malu, aku tidak yakin. Ia melotot ke arahku, dan kubalas dengan senyum.
“Okay . . . tenang-tenang, Ivy, tolong pergi saja, aku yakin Hailee punya janji bertemu degan orang yang lebih penting. Jadi . . . bye.” Brent bicara, memastikan dirinya berdiri ada dekat di sampingku -- jaga-jaga kalo si Ivy berubah menjadi liar, dan Brent ingin menghalaunya.
“BAIK,” Ivy menggerutu, dan berlalu, aku memberinya lambaian tangan mengejek.
Brent berbalik kepadaku dan mendengus, ia sudah memasang muka “ceramah” nya, dan aku tidak ingin mendengarnya hari ini.
“Dengar, aku tidak mau mendengarnya saat ini,” gerutuku, lalu berbalik dan menyilangkan tangan di depan dada.
“Dia hanya ingin membuatmu kesal, Hails,” dia mengatakannya dengan nada yang menenangkan, berusaha membuatku mengerti.
“Aku tidak perduli! Dia selalu melakukannya!” teriakku, dan semua orang menoleh padaku.
“Kalau kau melawan api dengan api, kau hanya akan mendapat-“
“Api yang lebih besar. Aku tahu,” potongku cepat.
“Jadi kenapa kau masih menanggapi permainanannya?”
Aku sangat tidak ingin menjawab pertanyaan itu, jadi aku hanya membalas dengan melempar pertanyaan kepadanya. “Kenapa kau memanggilnya Ivy?” tanyaku, lalu menatapnya dan mengeretkan alisku.
Mulutnya terbuka seakan mau mengatakan sesuatu, dan kemudian kembali menutupnya, seakan berpikir keras. Dia menghela napas dan menjawab “itu menenangkannya.”
Aku menatapnya seakan dia baru saja kedapatan berbohong dan mengatakan, “uh-uh, tentu saja.”
Ia memberiku tatapan memohon dan aku memutuskan berhenti membahasnya. Tiba-tiba bel berbunyi dan kami tergopoh-gopoh masuk kelas.
Setengah hari selalu berlalu dengan lancar seperti biasanya. Orang-orang dari kiri kananku mengatakan “selamat ulang tahun!” Ponselku terus bergetar menandakan pemberitahuan dari Facebook, bahwa seseorang menulis di dindingku.
Saat Brent dan aku berjalan menuju makan siang, kami berpapasan dengan Ivellise berjalan menuju kantor, dan aku merasa melihatnya menangis.
“Kayaknya dia …” aku berbisik, tapi tertahan, takut Ivellise mendengarku.
Brent menunggu hingga kami cukup jauh dan menjawab, “menangis? Yah dia menangis. Ingat tidak, hari ini ayahnya keluar dari penjara?
“Oh, iya.” Aku menggumam, dan mengingat kembali bulan itu.
Ivellise dan aku masih berteman, dan dia datang padaku suatu hari menangis. Dia memberitahuku kalau ayahnya yang bekerja sebagai broker dipanjara, dan dituduh menipu. Kami masih delapan tahun waktu itu, dan ayahnya dihukum sepuluh tahun, jadi aku mengerti kenapa dia begitu emosional. Dia mungkin merindukan ayahnya.
Brent dan aku pergi ke kantin, mengambil makanan, dan keluar dari antrian, aku melihat sahabatku yang lain, Sarah, membawa kue ulangtahun raksasa, dengan lilin menyala di atasnya. Oh tidak, pikirku, dan aku mencari wajah Brent dengan panik Aku benci adegan ini. Brent hanya tersenyum polos balik kepadaku dan mengedipkan mata. Lalu, ia menarik tanganku dan menyeretku ke arah Sarah yang menunggu bersama kue dan microphone
“Selamat pagi, Beverly High! Seperti yang kalian tahu, hari ini adalah ulang tahun Hailee Ann Windsor yang ke-18 dan ini sangat istimewa untuknya,” Sarah mendekat kepadaku dan melingkarkan satu lengannya di leherku. “Ini adalah kejutan untuknya yang diatur oleh orang-orang hebat di sana” ia menunjuk ke sebuah meja yang diisi oleh teman-temanku yang lain melambaikan tangan kepadaku. “Jadi, untuk merayakannya, kami mengadakan pesta Masquarade 5) di klub Pham’s, dan kalian semua diundang! Pastikan kalian membawa hadiah!” dia mematikan mikrofon dan memberi tanda kepada band. Band dan teman-temanku mulai menyanyikan “Happy Birthday.” Semua orang ikut bernyanyi. Aku sangat malu, aku belum pernah mendapatkan perhatian sebesar ini dari orang-orang di sekolah. Saat lagu berakhir, semua orang bersorak dan aku meniup lilin. Aku tersenyum ke semua orang lalu memeluk Brent dan Sarah.
“Kalian tidak perlu repot-repot melakukannya,” kataku.
“Kami yang mau baby girl! Kau pantas mendapatkannya,” Balas Brent.
“Yeah! Dan kau terlihat sangat lucu, dengan pipimu yang memerah, Hailee,” Sarah menggoda.
Wajahku makin memerah, saat kusadari aku makin terlihat bodoh di depan seluruh penghuni sekolah.
“Aw! Dia sangat cute!” Brent ikut menggoda, dan aku memukul lengannya pelan, kemudian mulai berjalan menuju meja, mempercayakan Brent membawakan kue dan makanan kami dari antrian makan siang.
“Aku benci kalian guys!” aku menggeram kepada teman-temanku yang memenuhi meja, yang malah membuat mereka serentak tertawa terpingkal-pingkal.
“Aw, Hailee, kami tahu kau suka menjadi pusat perhatian seperti tadi,” ucap salah satu temanku, Ana.
“Oh suka, suka sekali,” balasku dengan sarkasme. Kemudian aku menghela nafas dan mengambil tempat duduk di antara Brent dan Sarah.
“Jadi, teman-teman, pestanya dimulai pukul tujuh.” Sarah mengumumkan dengan semangat.
Aku hampir saja tersedak kue yang kumakan. “Tujuh? Aku bahkan belum punya gaun! Atau topeng!”
Aku benci bagaimana orang sudah punya persiapan dan aku belum. Sekarang, aku harus ke mall, dan cepat-cepat membeli gaun, dan topeng! Masih menjadi misteri bagaimana bisa mereka menyimpan rahasia tentang pesta ini dariku selama ini.
Tapi, aku juga tahu apa yang akan terjadi setelah ini, jadi aku tidak khawatir, aku hanya berpura-pura terlihat khawatir.
“Jangan khawatir, wahai kutil yang mungil, aku sudah menyiapkan untukmu,” Kata Sarah, seolah-olah itu hal yang paling jelas di dunia.
Lagi-lagi, aku sudah tahu bentuk gaunku.
“Sebuah gaun Max Azria warna pink, dan aku punya topeng khusus dibuat untukmu dan disesuaikan dengan topengnya,” lanjut Sarah saat melihat ekspresiku.
Aku meringis. “Trims.”
“Kembali.” Ia balas tersenyum, dan perbincangan berlanjut seperti biasanya.
***
Tujuh jam kemudian, Brent menjemput kami dari rumah Sarah. Aku tidak punya waktu untuk pulang ke rumah. Aku hanya mengirim pesan kepada mama aku harus pergi ke pesta – yang sudah diketahuinya – dan dia hanya membalas dia akan menungguku esok pagi, sudah tahu aku akan menghabiskan malam bersama Sarah atau Brent. Aku setuju, dan lanjut menuju kursi penumpang di mobil Brent, aku duduk di samping sedangkan Sarah mengambil yang belakang.
Sekarang aku memikirkan rumahku, seandainya aku pulang ke rumah waktu itu. Mungkin hal itu tak akan terjadi …
“Hey.” Lamunanku terpotong oleh Brent yang mencoba menarik perhatianku. “Kita akan bersenang-senang malam ini, kau baik-baik saja?
Lagi-lagi, aku terkejut bagaimana dia tahu ketika ada yang salah denganku, dan bagaimana dia menyadari segala yang kulakukan, tidak seperti orang lain, yang kelihatan seperti robot, diprogram untuk melihat dan mendengar apa yang terjadi di hari itu.
“Ya, kita akan bersenang-senang.” Aku tersenyum padanya, mencoba menutup kesedihanku, dan dia melihatku tidak yakin, tapi kemudian mengangguk akhirnya.
Ketika kami sampai, pestanya sudah memanas. Orang-orang menari, tertawa, dan bersenang-senang. Ada yang minum, dan aku menutup hidung, jijik. Alcohol itu menjijikkan, dan aku tidak akan pernah meminumnya, tapi lain ceritanya dengan anak-anak di sekolahku.
“Hey kawan!” anak yang kukenal bernama Austin mendekati kami, napasnya berbau alkohol. Faktanya dia bilang “kawan” membuatku berpikir dia benar-benar mabuk, karena tak seorang pun di Beverly Hills High School Academy pernah mengatakan itu tanpa mendapatkan tatapan aneh dari orang-orang. Brent dan aku hanya mengangguk padanya sebagai pengganti kata hello, tidak mungkin kami untuk tinggal dan dan bercakap-cakap kemudian minum teh bersama anak itu.
Kami sampai di belakang, bagian VIP di mana semua teman dekatku berkumpul. Rupanya Sarah tidak ingin berdansa dengan orang-orang penuh keringat yang tidak benar-benar dikenalnya, dan dia tidak menginginkan aku dikelilingi para lelaki yang merayu untuk berdansa.
Aku menyalami dengan hangat semua orang di area VIP, dan kami mulai menikmati pesta.
***
Aku mulai haus, dan melihat sebuah botol cola yang terlihat unik, jadi aku membukanya dan mulai menenggaknya. Aku terkejut, perasaan panas ditenggorokanku bukan karena gelembung-gelembung cola, tapi karena alkohol dalam minuman itu.
“Hailee! Apa yang kau lakukan?” Tanya Brent, memukul pelan punggungku, berusaha meredakan cegukanku. Ia melihat botol di tanganku dan matanya membelalak. “Kamu minum Jack Daniel’s?” Brent meraih air dari meja di sebelahku kemudian menyerahkannya di tanganku.
Aku mengambilnya, dan meminum air itu, menikmati rasa murni nya, “aku mengira itu coca cola dalam botol yang mewah,” aku berkata malu-malu.
Brent menggelangkan kepala dan tertawa kecil. “Ah, Hails, lain kali baca label sebelum minum.”
Aku melihat sekelilingku, menyadari tidak ada yang memperhatikan kami berdua, dan kemudian aku menyadari ini kali pertama itu terjadi, di hari-hari ku yang repetitif.
Aku mengangguk mengiyakan, dan Brent mengaitkan lengannya di tanganku. “Ayo kita cari udara segar,” ajaknya.
Aku mengangguk, dan kami ada di pintu belakang. Kami membuka topeng, dan berjalan sepanjang lorong kecil. Sebagian besar orang akan takut, tapi aku sedikit mabuk dari alkohol yang tak sengaja kuminum, dan aku merasa aman karena ada Brent di sampingku,
“Kayaknya kita harus pulang,” dia mengatakannya khawatir sambil berjuang untuk membuatku berjalan lurus.
“No! Aku ingin tinggal di sini selamanya! Dan—“  aku tiba-tiba dihentikan oleh suara senjata api dan aku merasakan sebuah sensasi rasa kosong di sebelah kiri, tepat di bawah paru-paruku. Tiba-tiba aku tak bisa bernapas, dan akupun jatuh terkapar.
“Oh Tuhan! Hailee!” Brent berteriak tak berdaya. Ia melihat ke arah penembak itu, tapi aku rasa dia tidak melihat siapa-siapa. Aku mulai merasa ngantuk, usahaku untuk tetap membuka mata membuatku letih. Pendengaranku mulai samar-samar dan kembali terdengar suara tembakan dari kejauhan. Brent tiba-tiba terlonjak. Aku memalingkan kepalaku untuk melihat kemana dia pergi, dan melihatnya dia terlentang di sampingku, sebuah lubang di tengah dadanya.
Dia memandang ke arahku, dan aku merasa tertusuk di dalam jantungku. Ia meraih dan menggengam tanganku, kami saling berpandangan.
Aku benar-benar mencintainya, dan seharusnya aku sudah mengatakan itu. Aku sudah hampir melakukannya, aku melihat mata hitamnya terputar ke belakang, dan tubuhnya terkapar kaku, tak bernyawa. Dan yang bisa kulakukan hanya menangis dalam hati saat mataku semakin berat.
Seandainya aku punya satu hari lagi, aku akan memberi tahunya, bahwa aku mencintanya.
Dan segalanya pun menghitam.

(catatan penerjemah: 1. gaya Paris Hilton, 2. Snack kesukaan remaja Amerika, 3. Karakter dalam serial anak Lizzy McGuire di Disney Channel; 4. Para pemain Hannah Montana; 5. Pesta topeng)