Tampilkan postingan dengan label Ebook. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ebook. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 April 2015

Review buku : A Game of Thrones (A Song of Ice and Fire #1) by George R.R. Martin


Fyuuuhhh akhirnya kelar juga bacanya *kipas kipas*. What an awesome read, bener-bener blew my mind.

Karena saya masih suci dari spoiler dan gak punya kesempatan nonton serialnya, saya betul-betul menikmati buku tebal ini. Saya jadi tahu kenapa orang-orang pada tergila-gila sama Game of Thrones, buku ini memang candu, meracuni hati dan pikiran. Di tempat kerja kepikiran terus pengen cepat pulang lanjut baca. :)

Ahhhh, benar-benar deh, ini buku yang plotnya paling epic yang pernah saya baca. Cintaaaa, pokoknya saya jatuh cinta dengan buku ini. Dan saya beri buku ini 5 bintang yang berkilauan seindah batu akik, dengan alasan sebagai berikut :

1. Dari awal sampai akhir ketegangannya nggak pernah turun. Penuh dengan petualangan, perang, politik, perebutan tahta, penghianatan, sex, kekerasan, ughhh pokoknya komplit.

2. Membuat emosi saya meluap-luap, otak saya meleleh, dan mengakibatkan kelelahan fisik dan mental just the way I like it. Saya, kalo baca buku ini mirip ibu-ibu yang nonton sinetron, emosi sendiri sampe teriak-teriak gaje n jedotin kepala ke kursi saking serunya.

3. Karakternya lengkap, dari yang lovable pengen aku peluk (Arya, Bran, dan Jon) sampe yang pengen dijambak *cough*Joffrey dan Cersei *cough*.

4. Perkembangan karakternya jelas terutama Tyrion dan my love, my moon, my Khaleesi Daenery , aghhhhh, dari yang masih lugu sampe berubah jadi ibu naga, perkembangannya alami dan tidak dipaksakan.

5. Plot yang tidak tertebak, bisa saja karakter yang kamu puja-puja di awal tiba-tiba mati dengan tragis di tengah-tengah buku. Seperti saya yang sempat mogok baca dua hari gara-gara si Itu dibunuh sama penulis, sampe sekarang saya gak rela kalo si Itu mati, sakit hati bangetttttt.

6. Cliff-hanger yang menyiksa, naga nya baru muncul eh sudah ending *lempar buku* .

Minggu, 22 Maret 2015

Book Review : The Martian by Andy Weir


Mungkin sebelum masuk ke inti pembahasan ada baiknya kalo saya melakukan pengakuan dosa dulu: saya baca ebook bajakan, download dari t*rrent, dan sekarang saya merasa bersalah dan menyesal, buku sebrilian The Martian tidak layak diperlakukan seperti ini.

Liat cover langsung wuoooh, heh?. Kok astronotnya kayak di gurun Sahara terus kena badai pasir gitu?. Kok warnanya gak gelap? *krik*. Maaf pemirsa, karena kurangnya pengetahuan saya di bidang astronomy, jadi kalo ngomong luar angkasa pikiran saya langsung terbayang tempat yang gelap, dingin dan penuh batu meteor. Belakangan baru saya tau ini lokasinya di Mars (woy judulnya udah jelas2 The Martian!!!). Seperti di bumi, planet mars juga ada siang dan malamnya, dapat sinar matahari, ada gurunnya, trus ada badainya juga.

Karena bukunya dalam English, maka mulailah saya sok sok-an membaca walaupun dengan level bahasa inggris saya yang masih saingan sama Tukul Arwana. Ceritanya sebenarnya simpel, berkisah Mark Watney seorang astronot yang "ketinggalan" sendirian di planet Mars. Ia harus bertahan hidup di permukaan planet Mars yang tidak mendukung adanya kehidupan, melawan badai, suhu dan tekanan yang rendah, kurangnya oksigen, tidak adanya air, persediaan makanan yang menipis dan tidak bisa berkomunikasi untuk minta tolong ke bumi. Sedangkan di bumi, NASA dan pemerintah bahu membahu melawan waktu berusaha mengirim bantuan, sebelum Mark Twain tewas melawan kejamnya planet Mars.

Kedengarannya sangat depressing ya, but no no no, buku ini tidak bikin depresi seperti di film Gravity nya Sandra Bullock atau Cast Away nya Tom Hanks, jauh dari itu, sebagian besar isi bukunya lucu, gak percaya baca sendiri hehehe. Yang lucu bukan plot nya tapi si pemeran utama Mark Watney. Itu orang lucu, ceroboh, kalo ngomong gak ada saringannya, nerd. tapi dia pintar (botanis, engineer, chemist), periang, banyak akal dan tidak gampang menyerah hehehe.

Dan jangan berharap adanya kemunculan alien di sini, no no no, buku ini menyuguhkan hal-hal yang realistis saja. Buku ini memberikan pesan betapa pentingnya sains untuk bertahan hidup. Tidak menutup kemungkinan kan, suatu saat kita tersesat di suatu tempat dan kita hanya mengandalkan akal untuk menyelamatkan diri.

Settingnya di tiga tempat, di Mars, di bumi, dan di roket yang seharusnya membawa kembali Mark Watney ke bumi.

Untuk bagian di Mars, kita akan berhadapan dengan sudut pandang si Astronaut yang dituangkan dalam semacam diary a la Princess Diaries gitu. Jadi, siap siap saja berhadapan dengan gaya bahasa yang humoris, absurd, nyeleneh, dan apa adanya. Satu lagi, ingat-ingat kembali pelajaran matematika, fisika , kimia dan biologi kamu karena akan sangat berguna. Percaya deh!.

Halaman-halaman pertama saja saya sudah kaget, kemudian terpingkal-pingkal. Ini buku science fiction atau bukunya Raditya Dika sih. Penjelasan yang harusnya serius ujung -ujungnya ngakak gara-gara ditambain line-line yang lucu sama si Mark Witney. Puncaknya waktu dia ngumpulin eek nya sendiri untuk dijadikan pupuk buat tanam kentang, itu bikin saya gak tahan, ketawa sampai sakit perut.

Sedangkan bagian yang di bumi, diceritakan dengan sudut pandang orang ketiga, tetap lucu dengan dialog yang cerdas a la serial tv amerika, agak "drama", tapi tidak semenyenangkan bagian di Mars, dan diselipkan sedikit intrik politik. Tiap baca bagian ini saya pengen cepat-cepat lanjut ke bagian nya Mark Watney.

Bagian yang di roket ahhh, saya merasakan persahabatan Mark dengan astronot yang lain, mereka rela melakukan apa saja dan mengorbankan nyawa mereka sendiri untuk menyelamatkan Mark.

Buku ini juga berhasil bikin saya nangis (dikitttt) bahagia, tegang, tahan napas, lalu kemudian sujud syukur, dan sempat juga sedih kasian sama Mark di beberapa bagiannya tapi tidak usah saya tuliskan lebih rinci, baca sendiri lah.

Overall, buku ini ibaratnya Armageddon + Gravity + Cast away + selipan tulisan Raditya Dika. Memikat saya dari kalimat pertama. 5 bintang untuk :

1. Karakter utama yang unik dan lovable,
2. humor yang bikin saya ngakak,
3. suspense yang terjaga dari awal sampai akhir,
4. science, science, science, and math.
5. Dialog a la serial TV komedi Amerika hehehe.

See you at the next book.

Sabtu, 21 Maret 2015

Book Review : Paper Towns (Paperback) by John Green



3,75 bintang.

Buku ini mengisahkan pemuda Quentin di ujung masa SMA nya berjuang mencari cinta pertama dari masa kecilnya yang tiba-tiba menghilang.

Buku ini ada 3 bagian.

Yang pertama, menceritakan petualangan tengah malam Margo dan Quentin. Di sela-selanya kita bisa mengetahui back story persahabatan antara Q dan tetangganya Margo. Saat masih kecil mereka sahabat, tetapi memasuki masa SMA mereka makin menjauh. Di sini juga diperkenalkan karakter-karakter lain, favorit saya Ben. Ben itu tipikal karakter teman dari pemeran utama di film-film remaja. Membaca petualangan mereka berdua dalam satu malam, saya bisa membayangkan jika ini dijadikan film, pasti akan seru dan lucu.

Bagian kedua, adalah cerita hari berikutnya ketika Margo tiba-tiba menghilang dan meniggalkan petunjuk-petunjuk kepada Q. Bersama kedua temannya Radar dan Ben, Q berusaha memecahkan clue-clue tersebut. Mereka juga mulai menemukan sisi laindari Margo, dan mulai merasakan dampak hilangnya Margo dari kehidupan mereka. Bagian ini saya merasa nonton film misteri. Saya juga merasa iba kepada Q yang terobsesi mencari Margo, dan mulai berpikir Margo pergi untuk bunuh diri. Ke belakang-belakang mulai agak membosankan, dan membuat saya sempat tertidur, dan kalimat-kalimatnya terlalu panjang dan bikin depresi. Saya berusaha terus membaca karena hanya penasaran Margo-nya kemana???

Bagian ketiga, setelah petunjuk terkumpul, Q and the gang melakukan perjalanan lintas provinsi eh maksudnya negara bagian, untuk pergi menemukan si Margo. Perjalanan mereka seru, lucu, mendebarkan dan saya makin jatuh cinta dengan tingkah Ben. Endingnya, tidak seperti yang saya harapkan, tidak memuaskan, tapi cukuplaj mengobati penasaran.

Keseluruhan, saya merasa buku ini ditulis bukan untuk saya, dan karena saya membacanya dalam bahasa Inggris ada bagian yang kurang saya mengerti, terutama petunjuk-petunjuk dari Margo yang sebagian besar berasal dari puisi dan lirik lagu yang belum pernah saya baca.

Senin, 16 Maret 2015

Book Review : Jurassic Park


Note: I am terribly sorry if you find I made so many grammar mistakes in my babbling here. English is not my first language. I'm still learning. I just have to write something to express my excitement about this book. And also, in order to release the adrenaline that build up pressure in my body and it can burst out anytime after reading this great book. I wrote this in english because I read this book in english ;) .

Fyuuuuuh finally, finished this book, oh my goooddd what an intense reading. For the first half of this book I have to stumbled to open Google translate app on my phone every time I find difficult since-y words, but it didn't make me put this book down. I even read it in class on my smartphone when I supposed to watch my students do their test. I didn't even hear my student asked how many time left. I even ignored a girl who need extra paper, I didn't even care if they're cheating or not. I just want to know if Tim and Lex survive till the end. (Please don't tell the headmaster).

I love this book, I love it. I love how the intensity build up and make me clutched hard my phone, I love Tim and Lex, I want to punch Mr. Hammond, and Malcolm's explanations about chaos theory and nature give me somethings to think of before I go to bed hehehe.

I don't want to talk about the science part about this book, I'm not an expert in science. I just want to say I'm fascinated by Malcolm philosophic thoughts. And Alan Grant's warm blooded dinosaurs make my brother went like really, I have to tell my teacher.

And thank you for the internet especially Google and Wikipedia for providing the images and explanations of all kind dinosaurs mentioned in this book, and information about chaos theory, and DNA/RNA compositions.

Now, I'm curious about the movie, I totally should watch it this weekend. I think I've seen it with my family long time ago, but i don't remember any scene from the movie.

+555555 stars, I want more!!!

Minggu, 22 Februari 2015

Book Review : The Death Cure (The Maze Runner #3)

Note: This is my review using my very limited English language. I write it in English merely for practice my writing skill. I'm so sorry for any grammar mistakes that you'll find. I hope my writing not make your eyes and brain bleeding.

 
This is the third installment of The Maze Runner Series. Books that I read just because the hype of the Maze Runner movie was so high and I can't go to the cinema to watch it, because I was stranded in the middle of the jungle my uncle called home for weeks.

The first book was superb, the 2nd book was disappointing i should say, so in the 3rd book i don't want to put my hope high, I just wanted to know what would happen to Thomas, Newt and Minho, I don't care about the other gladers let alone the runners from the maze B.

It is a good thing to read this book with a low expectation. several of My friends told me they're a bit disappointed with this book and said the 3rd book is not as good as the first and the second one. They literally loathed it, i tell you.

But surprisingly I enjoy this book, the adventure is unpredictable and make me curious what happened next. And then emotional/drama parts in the middle make me want to tear my hair and yank the writer neck shouting "why you do this to me, you heartless human being, how could you do that to him!!!".

Even though my reaction not as negative as my friends. I know why they disappointed with this series. I make my own complain list about this book:
  1. The plot could have been better and deeper, I liked the story but it don't leave a deep impression to me like the first book. It didn't make me want to re-read this book.
  2. I appreciate the writer effort to build the intensity, but sometimes it is not succeeded or enough for me to engage my attention.
  3. Writer wasted some good characters, I mean Minho and Newt, everybody rooting for them, we want more Minho sassyness.
  4. I want *spoiler*Newt's*spoiler* fate will be fixed in the next book. (i know this is a trilogy but every reader can hope).
  5. I'm not satisfied with the ending, I don't know, I just need more baaammm.
But anyway this book is not that bad, I enjoy almost every page of it. I gave it 4/5 stars.

Sabtu, 21 Februari 2015

Review Novel: Totto-Chan, The Little Girl at the Window

 
Tidak perlu waktu lama menghabiskan buku ini, karena mulai dari paragraf pertama saya sudah terpikat dengan kepolosan dan rasa ingin tahu yang tinggi.

Gadis cilik 7 tahun yang walau baru kelas satu SD sudah dikeluarkan dari sekolah, karena dianggap tukang buat onar di kelas. Ia sering berdiri di depan jendela dan kemudian memanggil pemusik keliling untuk memainkan musik di samping kelas. Guru nya tidak tahan dan mengeluarkannya dari sekolah.

Ibunya memindahkannya ke SD Tomoe, sekolah yg sangat berbeda dari sekolah lainnya. Gedung sekolahnya saja dari gerbong kereta api. Metode belajarnya apalagi, mereka bisa memilih pelajaran mana yg mereka sukai untuk dipelajari lebih dulu, pokoknya Totto-chan sangat menyukai sekolah barunya.Semua itu berkat pak kepala sekolah yg pintar dan baik hati serta disayangi oleh seluruh murid SD Tomoe.

Cerita ini yang merupakan pengalaman nyata sang penulis berlatar di SD Tomoe Tokyo Jepang pada masa sebelum perang dunia ke II, sebelum Amerika menjatuhkan bom-bom atom di Jepang. Kita mengikuti kehidupan sehari-hari Totto-chan, sebagian besar pengalaman nya di sekolah. Saya di bawa kembali ke masa-masa SD melalui sudut pandang Totto-chan yang polos dan penuh rasa ingin tahu yang kadang-kadang membuatnya mendapat masalah. Saya juga diperkenalkan kepada teman-temannya. Saya terkikik sendiri membayangkan kenakalan mereka. Terpukau dengan ritual makan siangnya. Tegang ketika Totto-chan membantu temannya yang polio memanjat pohon. Terharu ketika mereka bernyanyi memuji kehebatan sekolah mereka sendiri. Sedih ketika Totto-chan merasakan kehilangan sahabat dan anjingnya. Prihatin ketika keluarganya kesulitan saat menghadapi perang. Dan tidak percaya ketika sekolah nya di bom oleh Amerika namun kemudian optimis kembali ketika Pak Kobayashi ternyata sama sekali tidak sedih. Banyak emosi yang muncul dari buku ini.

Karakter yang paling menonjol adalah Mr. Kobayashi sang pendiri sekolah ini. Saya sangat kagum dengan caranya mengajar dan mendidik muridnya yang sangat tidak konvensional, yang saya yakin bahkan pada jaman modern ini masih ada yang mengerutkan dahi jika membaca buku ini. Mr. Kobayashi mendidik muridnya dengan sangat sabar dan kreatif serta menanamkan nilai nilai moral yang sangat berharga di masa depan.

Buku ini sangat cocok untuk para guru dan orang tua. Banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik dan metode Mr. Kobayashi mungkin bisa dijadikan contoh untuk mengembangkan kurikulum di Indonesia. Untuk anak-anak, buku ini bisa dijadikan hiburan karena Totto-chan sangat lucu, dan kisahnya bersama teman-teman dan Mr. Kobayashi memiliki pesan moral yg bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Buku ini membuat saya menambahkan satu lagi ke daftar nama sekolah yg saya harap bisa saya datangi: 1. Hogwarts, 2. SD Muhammadiah Gantong, 3. McKinley High hehehe. Yang terbaik dari buku ini adalah: Mr. Kobayashi dan metode mengajarnya. Yang terburuk: Bom yang jatuh menghancurkan SD Tomoe.
5/5 bintang.