Tidak perlu waktu lama menghabiskan buku ini, karena mulai dari paragraf
pertama saya sudah terpikat dengan kepolosan dan rasa ingin tahu yang tinggi.
Gadis cilik 7 tahun yang walau baru kelas satu SD sudah dikeluarkan dari sekolah, karena dianggap tukang buat onar di kelas. Ia sering berdiri di depan jendela dan kemudian memanggil pemusik keliling untuk memainkan musik di samping kelas. Guru nya tidak tahan dan mengeluarkannya dari sekolah.
Ibunya memindahkannya ke SD Tomoe, sekolah yg sangat berbeda dari sekolah lainnya. Gedung sekolahnya saja dari gerbong kereta api. Metode belajarnya apalagi, mereka bisa memilih pelajaran mana yg mereka sukai untuk dipelajari lebih dulu, pokoknya Totto-chan sangat menyukai sekolah barunya.Semua itu berkat pak kepala sekolah yg pintar dan baik hati serta disayangi oleh seluruh murid SD Tomoe.
Cerita ini yang merupakan pengalaman nyata sang penulis berlatar di SD Tomoe Tokyo Jepang pada masa sebelum perang dunia ke II, sebelum Amerika menjatuhkan bom-bom atom di Jepang. Kita mengikuti kehidupan sehari-hari Totto-chan, sebagian besar pengalaman nya di sekolah. Saya di bawa kembali ke masa-masa SD melalui sudut pandang Totto-chan yang polos dan penuh rasa ingin tahu yang kadang-kadang membuatnya mendapat masalah. Saya juga diperkenalkan kepada teman-temannya. Saya terkikik sendiri membayangkan kenakalan mereka. Terpukau dengan ritual makan siangnya. Tegang ketika Totto-chan membantu temannya yang polio memanjat pohon. Terharu ketika mereka bernyanyi memuji kehebatan sekolah mereka sendiri. Sedih ketika Totto-chan merasakan kehilangan sahabat dan anjingnya. Prihatin ketika keluarganya kesulitan saat menghadapi perang. Dan tidak percaya ketika sekolah nya di bom oleh Amerika namun kemudian optimis kembali ketika Pak Kobayashi ternyata sama sekali tidak sedih. Banyak emosi yang muncul dari buku ini.
Karakter yang paling menonjol adalah Mr. Kobayashi sang pendiri sekolah ini. Saya sangat kagum dengan caranya mengajar dan mendidik muridnya yang sangat tidak konvensional, yang saya yakin bahkan pada jaman modern ini masih ada yang mengerutkan dahi jika membaca buku ini. Mr. Kobayashi mendidik muridnya dengan sangat sabar dan kreatif serta menanamkan nilai nilai moral yang sangat berharga di masa depan.
Buku ini sangat cocok untuk para guru dan orang tua. Banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik dan metode Mr. Kobayashi mungkin bisa dijadikan contoh untuk mengembangkan kurikulum di Indonesia. Untuk anak-anak, buku ini bisa dijadikan hiburan karena Totto-chan sangat lucu, dan kisahnya bersama teman-teman dan Mr. Kobayashi memiliki pesan moral yg bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Buku ini membuat saya menambahkan satu lagi ke daftar nama sekolah yg saya harap bisa saya datangi: 1. Hogwarts, 2. SD Muhammadiah Gantong, 3. McKinley High hehehe. Yang terbaik dari buku ini adalah: Mr. Kobayashi dan metode mengajarnya. Yang terburuk: Bom yang jatuh menghancurkan SD Tomoe.
5/5 bintang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar