Tampilkan postingan dengan label Inggris. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inggris. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 April 2015

Review buku : A Game of Thrones (A Song of Ice and Fire #1) by George R.R. Martin


Fyuuuhhh akhirnya kelar juga bacanya *kipas kipas*. What an awesome read, bener-bener blew my mind.

Karena saya masih suci dari spoiler dan gak punya kesempatan nonton serialnya, saya betul-betul menikmati buku tebal ini. Saya jadi tahu kenapa orang-orang pada tergila-gila sama Game of Thrones, buku ini memang candu, meracuni hati dan pikiran. Di tempat kerja kepikiran terus pengen cepat pulang lanjut baca. :)

Ahhhh, benar-benar deh, ini buku yang plotnya paling epic yang pernah saya baca. Cintaaaa, pokoknya saya jatuh cinta dengan buku ini. Dan saya beri buku ini 5 bintang yang berkilauan seindah batu akik, dengan alasan sebagai berikut :

1. Dari awal sampai akhir ketegangannya nggak pernah turun. Penuh dengan petualangan, perang, politik, perebutan tahta, penghianatan, sex, kekerasan, ughhh pokoknya komplit.

2. Membuat emosi saya meluap-luap, otak saya meleleh, dan mengakibatkan kelelahan fisik dan mental just the way I like it. Saya, kalo baca buku ini mirip ibu-ibu yang nonton sinetron, emosi sendiri sampe teriak-teriak gaje n jedotin kepala ke kursi saking serunya.

3. Karakternya lengkap, dari yang lovable pengen aku peluk (Arya, Bran, dan Jon) sampe yang pengen dijambak *cough*Joffrey dan Cersei *cough*.

4. Perkembangan karakternya jelas terutama Tyrion dan my love, my moon, my Khaleesi Daenery , aghhhhh, dari yang masih lugu sampe berubah jadi ibu naga, perkembangannya alami dan tidak dipaksakan.

5. Plot yang tidak tertebak, bisa saja karakter yang kamu puja-puja di awal tiba-tiba mati dengan tragis di tengah-tengah buku. Seperti saya yang sempat mogok baca dua hari gara-gara si Itu dibunuh sama penulis, sampe sekarang saya gak rela kalo si Itu mati, sakit hati bangetttttt.

6. Cliff-hanger yang menyiksa, naga nya baru muncul eh sudah ending *lempar buku* .

Minggu, 22 Maret 2015

Book Review : The Martian by Andy Weir


Mungkin sebelum masuk ke inti pembahasan ada baiknya kalo saya melakukan pengakuan dosa dulu: saya baca ebook bajakan, download dari t*rrent, dan sekarang saya merasa bersalah dan menyesal, buku sebrilian The Martian tidak layak diperlakukan seperti ini.

Liat cover langsung wuoooh, heh?. Kok astronotnya kayak di gurun Sahara terus kena badai pasir gitu?. Kok warnanya gak gelap? *krik*. Maaf pemirsa, karena kurangnya pengetahuan saya di bidang astronomy, jadi kalo ngomong luar angkasa pikiran saya langsung terbayang tempat yang gelap, dingin dan penuh batu meteor. Belakangan baru saya tau ini lokasinya di Mars (woy judulnya udah jelas2 The Martian!!!). Seperti di bumi, planet mars juga ada siang dan malamnya, dapat sinar matahari, ada gurunnya, trus ada badainya juga.

Karena bukunya dalam English, maka mulailah saya sok sok-an membaca walaupun dengan level bahasa inggris saya yang masih saingan sama Tukul Arwana. Ceritanya sebenarnya simpel, berkisah Mark Watney seorang astronot yang "ketinggalan" sendirian di planet Mars. Ia harus bertahan hidup di permukaan planet Mars yang tidak mendukung adanya kehidupan, melawan badai, suhu dan tekanan yang rendah, kurangnya oksigen, tidak adanya air, persediaan makanan yang menipis dan tidak bisa berkomunikasi untuk minta tolong ke bumi. Sedangkan di bumi, NASA dan pemerintah bahu membahu melawan waktu berusaha mengirim bantuan, sebelum Mark Twain tewas melawan kejamnya planet Mars.

Kedengarannya sangat depressing ya, but no no no, buku ini tidak bikin depresi seperti di film Gravity nya Sandra Bullock atau Cast Away nya Tom Hanks, jauh dari itu, sebagian besar isi bukunya lucu, gak percaya baca sendiri hehehe. Yang lucu bukan plot nya tapi si pemeran utama Mark Watney. Itu orang lucu, ceroboh, kalo ngomong gak ada saringannya, nerd. tapi dia pintar (botanis, engineer, chemist), periang, banyak akal dan tidak gampang menyerah hehehe.

Dan jangan berharap adanya kemunculan alien di sini, no no no, buku ini menyuguhkan hal-hal yang realistis saja. Buku ini memberikan pesan betapa pentingnya sains untuk bertahan hidup. Tidak menutup kemungkinan kan, suatu saat kita tersesat di suatu tempat dan kita hanya mengandalkan akal untuk menyelamatkan diri.

Settingnya di tiga tempat, di Mars, di bumi, dan di roket yang seharusnya membawa kembali Mark Watney ke bumi.

Untuk bagian di Mars, kita akan berhadapan dengan sudut pandang si Astronaut yang dituangkan dalam semacam diary a la Princess Diaries gitu. Jadi, siap siap saja berhadapan dengan gaya bahasa yang humoris, absurd, nyeleneh, dan apa adanya. Satu lagi, ingat-ingat kembali pelajaran matematika, fisika , kimia dan biologi kamu karena akan sangat berguna. Percaya deh!.

Halaman-halaman pertama saja saya sudah kaget, kemudian terpingkal-pingkal. Ini buku science fiction atau bukunya Raditya Dika sih. Penjelasan yang harusnya serius ujung -ujungnya ngakak gara-gara ditambain line-line yang lucu sama si Mark Witney. Puncaknya waktu dia ngumpulin eek nya sendiri untuk dijadikan pupuk buat tanam kentang, itu bikin saya gak tahan, ketawa sampai sakit perut.

Sedangkan bagian yang di bumi, diceritakan dengan sudut pandang orang ketiga, tetap lucu dengan dialog yang cerdas a la serial tv amerika, agak "drama", tapi tidak semenyenangkan bagian di Mars, dan diselipkan sedikit intrik politik. Tiap baca bagian ini saya pengen cepat-cepat lanjut ke bagian nya Mark Watney.

Bagian yang di roket ahhh, saya merasakan persahabatan Mark dengan astronot yang lain, mereka rela melakukan apa saja dan mengorbankan nyawa mereka sendiri untuk menyelamatkan Mark.

Buku ini juga berhasil bikin saya nangis (dikitttt) bahagia, tegang, tahan napas, lalu kemudian sujud syukur, dan sempat juga sedih kasian sama Mark di beberapa bagiannya tapi tidak usah saya tuliskan lebih rinci, baca sendiri lah.

Overall, buku ini ibaratnya Armageddon + Gravity + Cast away + selipan tulisan Raditya Dika. Memikat saya dari kalimat pertama. 5 bintang untuk :

1. Karakter utama yang unik dan lovable,
2. humor yang bikin saya ngakak,
3. suspense yang terjaga dari awal sampai akhir,
4. science, science, science, and math.
5. Dialog a la serial TV komedi Amerika hehehe.

See you at the next book.

Sabtu, 21 Maret 2015

Book Review : Paper Towns (Paperback) by John Green



3,75 bintang.

Buku ini mengisahkan pemuda Quentin di ujung masa SMA nya berjuang mencari cinta pertama dari masa kecilnya yang tiba-tiba menghilang.

Buku ini ada 3 bagian.

Yang pertama, menceritakan petualangan tengah malam Margo dan Quentin. Di sela-selanya kita bisa mengetahui back story persahabatan antara Q dan tetangganya Margo. Saat masih kecil mereka sahabat, tetapi memasuki masa SMA mereka makin menjauh. Di sini juga diperkenalkan karakter-karakter lain, favorit saya Ben. Ben itu tipikal karakter teman dari pemeran utama di film-film remaja. Membaca petualangan mereka berdua dalam satu malam, saya bisa membayangkan jika ini dijadikan film, pasti akan seru dan lucu.

Bagian kedua, adalah cerita hari berikutnya ketika Margo tiba-tiba menghilang dan meniggalkan petunjuk-petunjuk kepada Q. Bersama kedua temannya Radar dan Ben, Q berusaha memecahkan clue-clue tersebut. Mereka juga mulai menemukan sisi laindari Margo, dan mulai merasakan dampak hilangnya Margo dari kehidupan mereka. Bagian ini saya merasa nonton film misteri. Saya juga merasa iba kepada Q yang terobsesi mencari Margo, dan mulai berpikir Margo pergi untuk bunuh diri. Ke belakang-belakang mulai agak membosankan, dan membuat saya sempat tertidur, dan kalimat-kalimatnya terlalu panjang dan bikin depresi. Saya berusaha terus membaca karena hanya penasaran Margo-nya kemana???

Bagian ketiga, setelah petunjuk terkumpul, Q and the gang melakukan perjalanan lintas provinsi eh maksudnya negara bagian, untuk pergi menemukan si Margo. Perjalanan mereka seru, lucu, mendebarkan dan saya makin jatuh cinta dengan tingkah Ben. Endingnya, tidak seperti yang saya harapkan, tidak memuaskan, tapi cukuplaj mengobati penasaran.

Keseluruhan, saya merasa buku ini ditulis bukan untuk saya, dan karena saya membacanya dalam bahasa Inggris ada bagian yang kurang saya mengerti, terutama petunjuk-petunjuk dari Margo yang sebagian besar berasal dari puisi dan lirik lagu yang belum pernah saya baca.

Senin, 16 Maret 2015

Book Review : Jurassic Park


Note: I am terribly sorry if you find I made so many grammar mistakes in my babbling here. English is not my first language. I'm still learning. I just have to write something to express my excitement about this book. And also, in order to release the adrenaline that build up pressure in my body and it can burst out anytime after reading this great book. I wrote this in english because I read this book in english ;) .

Fyuuuuuh finally, finished this book, oh my goooddd what an intense reading. For the first half of this book I have to stumbled to open Google translate app on my phone every time I find difficult since-y words, but it didn't make me put this book down. I even read it in class on my smartphone when I supposed to watch my students do their test. I didn't even hear my student asked how many time left. I even ignored a girl who need extra paper, I didn't even care if they're cheating or not. I just want to know if Tim and Lex survive till the end. (Please don't tell the headmaster).

I love this book, I love it. I love how the intensity build up and make me clutched hard my phone, I love Tim and Lex, I want to punch Mr. Hammond, and Malcolm's explanations about chaos theory and nature give me somethings to think of before I go to bed hehehe.

I don't want to talk about the science part about this book, I'm not an expert in science. I just want to say I'm fascinated by Malcolm philosophic thoughts. And Alan Grant's warm blooded dinosaurs make my brother went like really, I have to tell my teacher.

And thank you for the internet especially Google and Wikipedia for providing the images and explanations of all kind dinosaurs mentioned in this book, and information about chaos theory, and DNA/RNA compositions.

Now, I'm curious about the movie, I totally should watch it this weekend. I think I've seen it with my family long time ago, but i don't remember any scene from the movie.

+555555 stars, I want more!!!

Minggu, 07 Desember 2014

One Man Guy by Michael Barakiva


Disclaimer : ini adalah hasil terjemahan saya untuk novel berjudul One Man Guy yang ditulis oleh Michael Barakiva, saya tidak mengambil keuntungan materil dalam jenis apapun, saya hanya meminjam karya penulis ini untuk dijadikan bahan latihan.

One Man Guy
1
Alek memandang menu dengan curiga. Ia mencium aroma marinara dan sebuah perangkap.
"Selamat datang di Trattoria dell'Arte. Nama saya Lizzy. Bisa saya tawarkan minuman sebagai pembuka?" pelayan itu masih muda, mungkin seorang anak kuliahan yang sedang pulang kampung untuk liburan musim panas, dengan wajah ramah, bulat, dibingkai oleh rambut yang ujung-ujungnya keriting. Alek kasihan padanya. Pelayan itu tidak tahu dengan siapa ia berhadapan.
"Air mineral botolan apa yang kau punya?" tanya ibu Alek, sementara ayah dan saudara laki-lakinya mengamati daftar menu seperti seorang penjahat yang mencari titik lemah lawannya. Meskipun kedua orang tuanya lahir di negara ini, ibu Alek berbicara dengan sedikit aksen yang diwarisinya dari lingkungan Little Armenia di Los Angeles di mana ia dibesarkan. Seringkali aksen itu terdengar halus saat ibunya berbicara, dengan huruf hidup agak dipanjangkan sehingga memberikannya aura misterius dari eropa yang tidak terlacak. Tapi jika ibunya mau, ia bisa mengubah aksennya seperti laba-laba yang menenun sebuah jaring yang sangat indah sehingga menarik mangsanya mendekat untuk dibunuh.
“Air mineral segera datang!” Lizzy merespon dengan ceria, salah paham.
“Tidak, kami ingin tahu merk air mineralnya,” ayah Alek menekankan maksud ibunya.
“Oh,” kata Lizzy, seakan-akan ayahnya bercanda
“Kamu tahu, banyak air mineral yang sebenarnya memiliki level kontaminasi yang sama dengan air ledeng.” Ibu Alek memberikan informasi kepada Lizzy yang malang seolah-olah telah menyelamatkan nyawa pelayan itu.
Alek melihat kakaknya, Nik, tapi ia terus saja mengacuhkan Alek. Alek kembali memandang Lizzy dengan kasihan, dengan sia-sia melalui telepati, ia memberikan kode ke pelayan itu untuk bersiap menghadapi cobaan berat yang akan terjadi.
“Kami punya Evian,” Lizzy menawarkan.
“Evian bagus,” ayahnya menyetujui.
Lizzy kembali relaks. “Jadi, Evian?”
“Apa kau menyimpannya di suhu ruangan?” ibu Alek bertanya
“Maaf?” Lizzy bertanya dengan gugup. Alek curiga situasi penuh horor akan mulai menyongsong.
Ibu Alek meraih kesempatan ini untuk memberikan kuliah. “mencerna air dingin akan menyulitkan tubuh,” jelasnya, “karena tubuh harus menyesuaikan suhu bahan yang dicerna dengan suhu tubuh sebelum sampai ke perut. Itu mengapa kami lebih memilih air dengan suhu ruangan.”
“Itu sehat untuk sistem pencernaan” Nik menambahkan, seakan ini adalah sesuatu yang harus diketahui oleh semua orang.
“Saya bisa siapkan,” Lizzy menawarkan dengan pelan, sadar berada posisi tiga lawan satu.
“Bagus sekali,” lanjut ibu Alek. “Dan jika tidak, bisa kau minta sesorang di dapur untuk menghangatkannya ke suhu ruangan?”
Lizzy tertawa, seolah ibu Alek sedang bercanda. Tapi Alek tahu ibunya sedang tidak bercanda.
“Tidak lebih dari enam puluh delapan derajat. Tujuh puluh paling tinggi” instruksinya. “Aku tidak mau airnya panas, karena nanti kami harus memasukkan es ke dalamnya, dan itu hanya akan menambah kontaminasi, yang mana sama saja. Saya yakin kamu mengerti.” Alek mencurigai Lizzy sedang memikirkan dosa apa yang telah diperbuatnya di kehidupan sebelumnya yang membuat ia harus melayani meja ini. “kecuali, tentu saja, kamu punya es yang terbuat dari air mineral.”
“Tidak,” Lizzy mengatakan dengan pelan, seakan-akan dia berbicara dengan penjahat berbahaya. “Saya rasa semua es kami terbuat dari air keran.”
“Jadi mari kita lihat apa kami bisa mendapatkan Evian dengan suhu ruangan,” ibu Alek memutuskan. Lizzy pergi terbirit-birit.
Alek pikir seharusnya ilegal untuk orang Armenia makan di restoran. Atau harus ada peringatan seperti pada pembungkus rokok: “Melayani Orang Armenia Bisa Sangat Berbahaya Untuk Kesehatan Anda.” Masalahnya adalah orang Armenia sangat bangga dengan diri mereka sebagai juru masak yang hebat, mereka menolak membayar untuk sesuatu yang mereka rasa bisa melakukannya dengan lebih baik.
“Aku harap mereka punya zatar di sini.” Nik menaikkan nada suaranya cukup keras sehingga para staff bisa mendengarnya mengeluhkan tentang tidak adanya makanan pedas a la timur tengah di restoran ini.
“Kita bisa membuatnya nanti saat kita pulang” timpal ibunya. Alek berfikir apakah keluarga non-Armenia juga menghabiskan waktunya di restoran merencanakan makanan cadangan jika makanan yang mereka pesan tidak sesuai selera mereka.
“Jadi, Alek, ibumu dan ayah punya suatu hal yang perlu kami bicarakan denganmu,” ayahnya memulai.
“Aku tahu.” Alek merespon. “dan pasti, itu hal yang buruk karena sudah berbulan-bulan aku minta kalian membawaku kesini.” Ia mencelupkan sepotong roti ke dalam minyak zaitun.
“Kau tahu, mereka mungkin saja ingin melakukan sesuatu yang menyenangkanmu,” kata Nik. Alek bisa mendengar walapun sebenarnya kau tidak pantas mendapatkannya ikut di belakang kalimat itu.
“Terus, katakan saja” kata Alek
“Kamu akan ikut sekolah musim panas!” ibunya mengumumkan, seperti ia baru saja mendapatkan penghargaan.
“Aku apa?” Alek melupakan potongan roti yang berlumuran minyak zaitun di piringnya.
“Mereka bilang kamu akan pergi ke sekolah musim panas,” Nik mengulang perkataan ibunya dari seberang meja.
“Aku bukannya tidak bisa mendengar mereka, bodoh. Tapi aku tidak percaya,” potong Alek.
“Aleksander, tolong pelankan suaramu,” ayahnya memperingatkannya, sambil menggosokkan tangan ke janggut yang mulai beruban yang dipanjangkannya tahun ini. “kita di tempat umum.”
Jika Alek berada di mood yang lebih baik, ia mungkin membalasnya dengan bercanda. “Kenapa aku harus ke sekolah musim panas? Seperti aku tidak lulus saja.” Alek mulai mengira-ngira, mencoba mencari keajaiban apa yang telah dilakukannya di minggu terakhir sekolah yang membuatnya harus menerima takdir buruk ini.
“Sayang, Ibu Schmidt bilang ia bisa membuat pengecualian untukmu,” ibu Alek menjelaskan  “jika kamu mengulang bahasa inggris dan matematika dan mendapatkan nilai yang cukup, kamu bisa tetap berada di kelas unggulan tahun dapan.”
“Ibu bicara dengan ibu Schmidt di belakang ku? Ini konspirasi.”
“Aleksander, kamu empat belas tahun. Kami orang tuamu. Ketika kami berbicara dengan guru pembimbingmu, itu untuk kebaikanmu sendiri,” ayah mengomelinya.
“Well, mungkin saja aku masih bisa meningkatkan nilaiku— “
Ibu Alek memotongnya. “Ibu Schmidt memberitahu kami meskipun kamu mendapatkan skor tertinggi, itu masih belum menjamin kau berada di kelas unggulan.”
“Well, siapa yang perduli tentang itu?” Alek melawan. “aku akan mengambil kelas biasa tahun depan. Itu tidak berarti kiamat kan.”
“Kau tahu Alek” ayahnya memulai, “South Windsor memiliki sistem sekolah umum terbaik di New Jersey. Kakek buyutmu terbang dari Turki saat terjadi pembunuhan massal terhadap orang Armenia hampir seratus tahun yang lalu dan tiba di negeri ini tanpa membawa apa-apa. Mereka menyerahkan tanah mereka, harta mereka, dan sejarah mereka untuk datang ke negara di mana mereka bisa aman dan di mana anak-anak mereka akan tumbuh tanpa penyiksaan dan menerima pendidikan terbaik di dunia.”
Alek tahu ketika ayahnya mulai berceramah mengenai “masa lalu”, itu berarti hal ini serius.
“Pengorbanan mereka berarti bahwa kau memiliki sebuah tanggung jawab untuk melakukan yang terbaik yang kau bisa”, ayahnya mengakhiri.
“Tapi bagaimana dengan tennis camp?” Tangis Alek.
Orang tuanya melihat Lizzy kembali dengan sebuah botol Evian dan kemudian berhenti berbicara. Jangan sampai orang luar mengetahui rahasia keluar Khederian, pikir Alek.
“Aku punya berita bagus—kami menyimpan beberapa Evian pada suhu ruangan di dalam gudang,” kata Lizzy, dengan naif membuka botol.
“Aku harap tadi kau mengatakan airnya berada dalam botol plastik,” ibu Alek menyesal dengan nada sedikit meminta maaf sebelum Lizzy menuangkan air dari botol.
“Maaf?” tanya Lizzy
“Kami tidak minum air yang dari botol plastik,” ibu Alek menjelaskan, seakan kata-kata yang keluar dari mulutnya masuk akal. “Pertama, poliyvinil klorida membawa polutan yang dicurigai mengganggu kesimbangan hormon. Kedua, bisphenol A telah lama dihubungkan dengan obesitas dan ke-abnormalan pada kromosom. Dan kamu tidak akan mau tahu apa yang terjadi pada plastik jika terkena sinar matahari!” Alek sangat mengagumi kemampuan ibunya dalam menyampaikan hal-hal gila secara masuk akal. “kami minta teh hijau saja,” ibu Alek memutuskan.
“Bisa saya jelaskan menu spesial kami?” Lizzy menanyakan, mengambil satu langkah ke belakang bersiap mengantisipasi serangan.
“Sebenarnya, bisa kami menanyakan beberapa pertanyaan dulu?” ayah Alek membalas.
“Tentu,” Lizzy merespon dengan letih. Orang tua Alek bersatu melakukan interogasi.
“Kalian mendapatkan mozarella dari perkebunan mana?”
“Sayuran apa saja yang kalian dapatkan dari petani lokal?”
“Apakah tomatnya organik?”
“Apa acarnya direbus sebelum diasinkan?”
“Apa kacang polongnya segar atau beku?”
“Apa dombanya internasional atau lokal?
Lizzy mengintip catatan yang dibuatnya denga tergesa-gesa “um saya liat dulu. mozarellanya dari pasar umum, saya pikir beberapa dari labu dan ketimunnya lokal, dan saya tidak tahu mengenai tomatnya. Apalagi yang kalian tanyakan? Sesuatu tentang acar?”
Lizzy melakukan sebisanya selama pengeroyokan berlangsung, tapi pada akhirnya, spiritnya telah hancur. Senyuman sinis Nik setiap kali si pelayan gagal menjawab pertanyaan juga tidak membantu.
“Apa kalian sudah tahu apa yang akan kalian pesan?” Lizzy bertanya lembut, memegang erat buku catatan kecilnya seperti sebuah tameng. “atau kalian masih butuh waktu lagi?”
“Saya pikir kami masih memutuskan,” kata ayah Alek.
Alek bersumpah mendengar Lizzy yang tadinya ramah mulai mengeluarkan kata-kata kotor ketika berbalik pergi. “Setidaknya dengan teh, mereka harus merebus airnya terlebih dahulu, jadi kita tahu itu aman,” ibunya berbisik “jadi, sampai di mana kita tadi?”
“Aku tanya bagaimana bisa aku pergi ke sekolah musim panas kalau tennis camp mulai dua minggu lagi. Ingat tennis camp? Hal yang kalian janjikan bisa aku lakukan karena kalian melarangku ikut tim sekolah?”
“Kami tidak menginginkan kau ikut tim karena kami pikir akan labih baik jika kau konsentrasi meningkatkan nilaimu. Ayah takut latihan tennis harus menunggu juga,” ayahnya menjelaskan.
“Bagaimana dengan uang pangkalnya? Ayah tahu mereka tidak akan mengembalikan uangnya kan?” balas Alek.
“Kami tahu Alek”. Respon ibunya. “Tapi uangnya kita relakan saja. Akademis yang kita dahulukan di rumah kita.”
“this is suck,” desis Alek.
“jangan pakai kata itu,” kata ayahnya refleks. Alek mengingat pertama kali ia mendengar temannya mengumpat di depan orangtuanya—umpatan yang sebenarnya, bukan damn atau suck. Itu tidak akan terjadi di rumahnya.
“Well, kalau kau menganggap tugas-tugasnya terlalu menantang, aku senang membantu mu.” Nick senyum mengejek.
Alek menendang kakaknya di bawah meja.
“Alek, hentikan itu!” ibu mengingatkannya. “Orang akan membicarakan kita!” Ibunya mengedarkan pandangannyan ke sekeliling untuk melihat apakah ada yang melihat tindakannya.
“Tuhan, bu, apa ibu mengerti, tida ada yang melihat kita. Tidak ada yang peduli apa yang kita lakukan. Aku bisa berdiri di atas meja ini dan melempar roti ke mereka dan mereka tidak akan perduli.” Untuk mendemonstrasikan perkataannya, Alek memotong rotinya yang kini sudah lembek, terendam dalam minyak dan cuka balsamik, dan kemudian membidikkannya ke seberang meja ke arah Nik.
“Aleksander, cukup,” ayahnya memarahinya. “sekarang letakkan roti itu, duduk seperti orang dewasa, yang selalu kau minta untuk diperlakukan, dan nikmati makanan yang kita bayar.”
Makanan yang dibayar oleh ibu, kata Alek pada dirinya sendiri. Tapi Alek tahu lebih baik tidak mengatakannya keras-keras. Sejak ayahnya dipecat dari perusahan arsitektur tahun lalu dan ibunya harus kembali bekerja dengan waktu penuh, ayahnya menjadi sangat sensitif soal uang.
“Well, makasih, guys,” kata Alek, dengan nada berpemanis buatan. “Mari kita lihat—kalian pikir aku idiot, kalian memberi tahu seminggu sebelum sekolah berakhir bahwa aku harus menghabiskan sisa musim panas di dalam gua keputus-asaan yang mana di gedung SMA-ku, aku bahkan tidak bisa ikut latihan tenis meskipun kalian berjanji bahwa aku bisa ikut—apa masih ada siksaan yang ingin kalian tambahkan?”
“Well,” Ibu Alek berkata, memainkan ujung serbet dengan gugup.
“Oh, tuhan, kalian bercanda kan? Apa lagi?”
Ibu melihat ke arah ayahnya meminta pertolongan, tapi ayahnya sendiri sedang mengamati dengan cermat daftar menu seolah-olah itu adalah cetak biru bahtera nabi Nuh.
“Kau tidak perlu berada di atas lima persen dari ranking kelasmu,” jawab Nik. “Jika kau ikut sekolah musim panas, kamu tidak bisa ikut di liburan keluarga.”
“Andranik, biar kami yang jelaskan,” kata ayahnya, akhirnya melepaskan pandangannya dari menu. Nik, yang telah tumbuh empat inchi selama tahun ketiganya di SMA, masih punya kesopanan untuk diam sekali saja. “Alek, ketika kami berjanji untuk ikut ke air terjun Niagara bersama dengan para keluarga dari gereja di musim panas ini, kami membelinya dalam paket grup. Jika kami keluar sekarang, kita akan merusak liburan orang lain.”
“Belum lagi aku harus minta izin khusus dari camp-camp yang kuikuti,” tambah Nik.
“Jadi, kalian mengatakan padaku bahwa kalian memilih orang-orang dari gereka dibandingkan anak kalian sendiri untuk liburan keluarga?” tanya Alek. “dan aku yakin dengan fakta bahwa pacar Nik adalah salah satu dari orang-orang itu adalah kebetulan, kan? Maksudku, aku sudah terbiasa kalian memilih Nik daripada aku, tapi memilih Nanar dibandingkan darah daging kalian sendiri?”
“Nanar tidak ada hubungannya dengan ini,” Nik memotong
“Terserah.”
“Alek, keluarga Nanar hanya salah satu dari banyak keluarga yang kami kecewakan jika kami mambatalkannya sekarang,” ibunya menjelaskan.
Nik meletakkan Coke yang dihirupnya dengan tampang sangat puas. “Lagipula, kami semua dari Armenian Youth merencanakan melakukan penelitian tugas sejarah kami di Toronto Archives.”
“Belum lagi kami harus merelakan uang yang telah kami bayarkan,” sambung ayahnya.
“Aku masih belum mengerti kenapa kita tidak melakukan liburan sendiri seperti keluarga normal lainnya,” tanya Alek tidak sabar.
“Well, jika itu yang kamu mau lakukan tahun depan, itu yang akan kita lakukan, ayahmu dan ibu telah memutuskan bahwa kamu tidak bisa ikut tahun ini, kamu yang akan menentukan kemana kita akan liburan tahun depan.”
“Jika aku tidak kembali sekolah musim panas tahun depan kan, maksud kalian.” serobot Alek. “Karena siapa tahu? Mungkin aku akan mendapatkan”—Alek menarik nafas dengan efek dramatis—“oh jangan sampai—nilai C lagi, dan mereka akan mengancam akan menendangku keluar dari kelas unggulan lagi, dan aku harus mengorbankan musim panasku yang lain kepada institusi paling kejam dalam sejarah peradaban manusia.”
“Yang benar saja . . .” ayahnya mulai, tetapi berhenti ketika ia melihat Lizzy jalan kembali dengan perlahan, berusaha menyeimbangkan sebuah cerek air panas dan empat cangkir dengan empat the celup di dalamnya.
Ibu Alek tersenyum ke pada pelayan ketika ia sampai ke meja. Lizzy pikir ini sebagai tanda yang baik, tetapi Alek lebih tahu yang sebenarnya. “apa kau punya teh bubuk?” ibunya bertanya.
“Teh bubuk?” tanya Lizzy dengan pelan.
“Penelitian menunjukkan bahwa kertas yang digunakan di teh celup—“
Oh my God!” Alek meledak. “kenapa ibu menyiksa gadis ini? Dia bahkan tidak ada hubungan dengan ibu! Dan tidak ada yang mendapat penyakit kanker dari meminum teh celup. Ibu mendengarku? TIDAK ADA. Dan tidak ada yang sakit kanker setelah meminum Evian dari botol plastik!” cara pengunjung restoran lain memandang Alek memberitahunya mungkin saja dia menggunakan suara luar ruangannya, tapi dia tidak perduli. “apa ini seharusnya makan malamku? Hadiah pengganti sakit hatiku karena dikhianati orang tuaku, untuk musim panas neraka? Kalau begitu kita makan malam dengan caraku.” Ia melihat ke arah Lizzy, yang wajah bingungnya seketika berubah menjadi ekspresi terima kasih. “Teh nya enak, terima kasih.” Alek membuka menu dengan cepat. “Saya pesan carbonara. Mereka pesan steak. Dan orang tolol di sudut itu yang mulutnya terbuka seperti ikan pesan lasagna. Dan pastikan dagingnya matang sempurna, oke?”
Lizzy mengangguk ya, dengan cepat mencatat pesanan ke buku kecilnya.
“sekarang cepat pergi, sebelum mereka punya kesempatan mengatakan sesuatu!”
Lizzy tidak butuh dorongan lagi. Ia berlari pergi, ikatan apronnya melambai di belakangnya.
Saat Lizzy sudah tidak bisa mendengar, ibu Alek membungkuk ke arah Alek. “Aku harap mereka memasak dagingnya dengan baik,” bisiknya. “Kalau tidak, aku akan menyuruh mereka memasaknya kembali.”