Disclaimer : ini adalah hasil terjemahan saya untuk novel berjudul One Man Guy yang ditulis oleh Michael Barakiva, saya tidak mengambil keuntungan materil dalam jenis apapun, saya hanya meminjam karya penulis ini untuk dijadikan bahan latihan.
One Man Guy
1
Alek memandang menu dengan curiga. Ia mencium
aroma marinara dan sebuah perangkap.
"Selamat datang di Trattoria dell'Arte. Nama
saya Lizzy. Bisa saya tawarkan minuman sebagai pembuka?" pelayan itu masih
muda, mungkin seorang anak kuliahan yang sedang pulang kampung untuk liburan
musim panas, dengan wajah ramah, bulat, dibingkai oleh rambut yang ujung-ujungnya
keriting. Alek kasihan padanya. Pelayan itu tidak tahu dengan siapa ia
berhadapan.
"Air mineral botolan apa yang kau
punya?" tanya ibu Alek, sementara ayah dan saudara laki-lakinya mengamati
daftar menu seperti seorang penjahat yang mencari titik lemah lawannya.
Meskipun kedua orang tuanya lahir di negara ini, ibu Alek berbicara dengan
sedikit aksen yang diwarisinya dari lingkungan Little Armenia di Los Angeles di
mana ia dibesarkan. Seringkali aksen itu terdengar halus saat ibunya berbicara,
dengan huruf hidup agak dipanjangkan sehingga memberikannya aura misterius dari
eropa yang tidak terlacak. Tapi jika ibunya mau, ia bisa mengubah aksennya
seperti laba-laba yang menenun sebuah jaring yang sangat indah sehingga menarik
mangsanya mendekat untuk dibunuh.
“Air mineral segera datang!” Lizzy merespon
dengan ceria, salah paham.
“Tidak, kami ingin tahu merk air mineralnya,”
ayah Alek menekankan maksud ibunya.
“Oh,” kata Lizzy, seakan-akan ayahnya bercanda
“Kamu tahu, banyak air mineral yang sebenarnya
memiliki level kontaminasi yang sama dengan air ledeng.” Ibu Alek memberikan
informasi kepada Lizzy yang malang seolah-olah telah menyelamatkan nyawa
pelayan itu.
Alek melihat kakaknya, Nik, tapi ia terus saja
mengacuhkan Alek. Alek kembali memandang Lizzy dengan kasihan, dengan sia-sia
melalui telepati, ia memberikan kode ke pelayan itu untuk bersiap menghadapi
cobaan berat yang akan terjadi.
“Kami punya Evian,” Lizzy menawarkan.
“Evian bagus,” ayahnya menyetujui.
Lizzy kembali relaks. “Jadi, Evian?”
“Apa kau menyimpannya di suhu ruangan?” ibu Alek
bertanya
“Maaf?” Lizzy bertanya dengan gugup. Alek curiga
situasi penuh horor akan mulai menyongsong.
Ibu Alek meraih kesempatan ini untuk memberikan
kuliah. “mencerna air dingin akan menyulitkan tubuh,” jelasnya, “karena tubuh
harus menyesuaikan suhu bahan yang dicerna dengan suhu tubuh sebelum sampai ke
perut. Itu mengapa kami lebih memilih air dengan suhu ruangan.”
“Itu sehat untuk sistem pencernaan” Nik
menambahkan, seakan ini adalah sesuatu yang harus diketahui oleh semua orang.
“Saya bisa siapkan,” Lizzy menawarkan dengan pelan,
sadar berada posisi tiga lawan satu.
“Bagus sekali,” lanjut ibu Alek. “Dan jika tidak,
bisa kau minta sesorang di dapur untuk menghangatkannya ke suhu ruangan?”
Lizzy tertawa, seolah ibu Alek sedang bercanda.
Tapi Alek tahu ibunya sedang tidak bercanda.
“Tidak lebih dari enam puluh delapan derajat.
Tujuh puluh paling tinggi” instruksinya. “Aku tidak mau airnya panas, karena
nanti kami harus memasukkan es ke dalamnya, dan itu hanya akan menambah kontaminasi,
yang mana sama saja. Saya yakin kamu mengerti.” Alek mencurigai Lizzy sedang
memikirkan dosa apa yang telah diperbuatnya di kehidupan sebelumnya yang
membuat ia harus melayani meja ini. “kecuali, tentu saja, kamu punya es yang
terbuat dari air mineral.”
“Tidak,” Lizzy mengatakan dengan pelan, seakan-akan
dia berbicara dengan penjahat berbahaya. “Saya rasa semua es kami terbuat dari
air keran.”
“Jadi mari kita lihat apa kami bisa mendapatkan
Evian dengan suhu ruangan,” ibu Alek memutuskan. Lizzy pergi terbirit-birit.
Alek pikir seharusnya ilegal untuk orang Armenia
makan di restoran. Atau harus ada peringatan seperti pada pembungkus rokok: “Melayani Orang Armenia Bisa Sangat Berbahaya
Untuk Kesehatan Anda.” Masalahnya adalah orang Armenia sangat bangga dengan
diri mereka sebagai juru masak yang hebat, mereka menolak membayar untuk
sesuatu yang mereka rasa bisa melakukannya dengan lebih baik.
“Aku harap mereka punya zatar di sini.” Nik menaikkan nada suaranya cukup keras sehingga
para staff bisa mendengarnya mengeluhkan tentang tidak adanya makanan pedas a
la timur tengah di restoran ini.
“Kita bisa membuatnya nanti saat kita pulang”
timpal ibunya. Alek berfikir apakah keluarga non-Armenia juga menghabiskan
waktunya di restoran merencanakan makanan cadangan jika makanan yang mereka
pesan tidak sesuai selera mereka.
“Jadi, Alek, ibumu dan ayah punya suatu hal yang
perlu kami bicarakan denganmu,” ayahnya memulai.
“Aku tahu.” Alek merespon. “dan pasti, itu hal
yang buruk karena sudah berbulan-bulan aku minta kalian membawaku kesini.” Ia
mencelupkan sepotong roti ke dalam minyak zaitun.
“Kau tahu, mereka mungkin saja ingin melakukan
sesuatu yang menyenangkanmu,” kata Nik. Alek bisa mendengar walapun sebenarnya kau tidak pantas
mendapatkannya ikut di belakang kalimat itu.
“Terus, katakan saja” kata Alek
“Kamu akan ikut sekolah musim panas!” ibunya
mengumumkan, seperti ia baru saja mendapatkan penghargaan.
“Aku apa?” Alek melupakan potongan roti yang
berlumuran minyak zaitun di piringnya.
“Mereka bilang kamu akan pergi ke sekolah musim
panas,” Nik mengulang perkataan ibunya dari seberang meja.
“Aku bukannya tidak bisa mendengar mereka, bodoh.
Tapi aku tidak percaya,” potong Alek.
“Aleksander, tolong pelankan suaramu,” ayahnya
memperingatkannya, sambil menggosokkan tangan ke janggut yang mulai beruban
yang dipanjangkannya tahun ini. “kita di tempat umum.”
Jika Alek berada di mood yang lebih baik, ia mungkin
membalasnya dengan bercanda. “Kenapa aku harus ke sekolah musim panas? Seperti
aku tidak lulus saja.” Alek mulai mengira-ngira, mencoba mencari keajaiban apa
yang telah dilakukannya di minggu terakhir sekolah yang membuatnya harus
menerima takdir buruk ini.
“Sayang, Ibu Schmidt bilang ia bisa membuat
pengecualian untukmu,” ibu Alek menjelaskan
“jika kamu mengulang bahasa inggris dan matematika dan mendapatkan nilai
yang cukup, kamu bisa tetap berada di kelas unggulan tahun dapan.”
“Ibu bicara dengan ibu Schmidt di belakang ku?
Ini konspirasi.”
“Aleksander, kamu empat belas tahun. Kami orang
tuamu. Ketika kami berbicara dengan guru pembimbingmu, itu untuk kebaikanmu
sendiri,” ayah mengomelinya.
“Well, mungkin saja aku masih bisa meningkatkan
nilaiku— “
Ibu Alek memotongnya. “Ibu Schmidt memberitahu
kami meskipun kamu mendapatkan skor tertinggi, itu masih belum menjamin kau
berada di kelas unggulan.”
“Well, siapa yang perduli tentang itu?” Alek
melawan. “aku akan mengambil kelas biasa tahun depan. Itu tidak berarti kiamat
kan.”
“Kau tahu Alek” ayahnya memulai, “South Windsor
memiliki sistem sekolah umum terbaik di New Jersey. Kakek buyutmu terbang dari
Turki saat terjadi pembunuhan massal terhadap orang Armenia hampir seratus
tahun yang lalu dan tiba di negeri ini tanpa membawa apa-apa. Mereka
menyerahkan tanah mereka, harta mereka, dan sejarah mereka untuk datang ke
negara di mana mereka bisa aman dan di mana anak-anak mereka akan tumbuh tanpa
penyiksaan dan menerima pendidikan terbaik di dunia.”
Alek tahu ketika ayahnya mulai berceramah
mengenai “masa lalu”, itu berarti hal ini serius.
“Pengorbanan mereka berarti bahwa kau memiliki
sebuah tanggung jawab untuk melakukan yang terbaik yang kau bisa”, ayahnya
mengakhiri.
“Tapi bagaimana dengan tennis camp?” Tangis Alek.
Orang tuanya melihat Lizzy kembali dengan sebuah
botol Evian dan kemudian berhenti berbicara. Jangan sampai orang luar mengetahui rahasia keluar Khederian, pikir
Alek.
“Aku punya berita bagus—kami menyimpan beberapa
Evian pada suhu ruangan di dalam gudang,” kata Lizzy, dengan naif membuka
botol.
“Aku harap tadi kau mengatakan airnya berada
dalam botol plastik,” ibu Alek menyesal dengan nada sedikit meminta maaf
sebelum Lizzy menuangkan air dari botol.
“Maaf?” tanya Lizzy
“Kami tidak minum air yang dari botol plastik,”
ibu Alek menjelaskan, seakan kata-kata yang keluar dari mulutnya masuk akal. “Pertama,
poliyvinil klorida membawa polutan
yang dicurigai mengganggu kesimbangan hormon. Kedua, bisphenol A telah lama dihubungkan dengan obesitas dan
ke-abnormalan pada kromosom. Dan kamu tidak akan mau tahu apa yang terjadi pada
plastik jika terkena sinar matahari!” Alek sangat mengagumi kemampuan ibunya
dalam menyampaikan hal-hal gila secara masuk akal. “kami minta teh hijau saja,”
ibu Alek memutuskan.
“Bisa saya jelaskan menu spesial kami?” Lizzy
menanyakan, mengambil satu langkah ke belakang bersiap mengantisipasi serangan.
“Sebenarnya, bisa kami menanyakan beberapa
pertanyaan dulu?” ayah Alek membalas.
“Tentu,” Lizzy merespon dengan letih. Orang tua
Alek bersatu melakukan interogasi.
“Kalian mendapatkan mozarella dari perkebunan
mana?”
“Sayuran apa saja yang kalian dapatkan dari
petani lokal?”
“Apakah tomatnya organik?”
“Apa acarnya direbus sebelum diasinkan?”
“Apa kacang polongnya segar atau beku?”
“Apa dombanya internasional atau lokal?
Lizzy mengintip catatan yang dibuatnya denga
tergesa-gesa “um saya liat dulu. mozarellanya dari pasar umum, saya pikir
beberapa dari labu dan ketimunnya lokal, dan saya tidak tahu mengenai tomatnya.
Apalagi yang kalian tanyakan? Sesuatu tentang acar?”
Lizzy melakukan sebisanya selama pengeroyokan
berlangsung, tapi pada akhirnya, spiritnya telah hancur. Senyuman sinis Nik
setiap kali si pelayan gagal menjawab pertanyaan juga tidak membantu.
“Apa kalian sudah tahu apa yang akan kalian
pesan?” Lizzy bertanya lembut, memegang erat buku catatan kecilnya seperti
sebuah tameng. “atau kalian masih butuh waktu lagi?”
“Saya pikir kami masih memutuskan,” kata ayah
Alek.
Alek bersumpah mendengar Lizzy yang tadinya ramah
mulai mengeluarkan kata-kata kotor ketika berbalik pergi. “Setidaknya dengan teh,
mereka harus merebus airnya terlebih dahulu, jadi kita tahu itu aman,” ibunya
berbisik “jadi, sampai di mana kita tadi?”
“Aku tanya bagaimana bisa aku pergi ke sekolah
musim panas kalau tennis camp mulai dua minggu lagi. Ingat tennis camp? Hal
yang kalian janjikan bisa aku lakukan karena kalian melarangku ikut tim
sekolah?”
“Kami tidak menginginkan kau ikut tim karena kami
pikir akan labih baik jika kau konsentrasi meningkatkan nilaimu. Ayah takut
latihan tennis harus menunggu juga,” ayahnya menjelaskan.
“Bagaimana dengan uang pangkalnya? Ayah tahu
mereka tidak akan mengembalikan uangnya kan?” balas Alek.
“Kami tahu Alek”. Respon ibunya. “Tapi uangnya
kita relakan saja. Akademis yang kita dahulukan di rumah kita.”
“this is suck,”
desis Alek.
“jangan pakai kata itu,” kata ayahnya refleks.
Alek mengingat pertama kali ia mendengar temannya mengumpat di depan
orangtuanya—umpatan yang sebenarnya, bukan damn
atau suck. Itu tidak akan terjadi di
rumahnya.
“Well, kalau kau menganggap tugas-tugasnya
terlalu menantang, aku senang membantu mu.” Nick senyum mengejek.
Alek menendang kakaknya di bawah meja.
“Alek, hentikan itu!” ibu mengingatkannya. “Orang
akan membicarakan kita!” Ibunya mengedarkan pandangannyan ke sekeliling untuk
melihat apakah ada yang melihat tindakannya.
“Tuhan, bu, apa ibu mengerti, tida ada yang
melihat kita. Tidak ada yang peduli apa yang kita lakukan. Aku bisa berdiri di
atas meja ini dan melempar roti ke mereka dan mereka tidak akan perduli.” Untuk
mendemonstrasikan perkataannya, Alek memotong rotinya yang kini sudah lembek,
terendam dalam minyak dan cuka balsamik, dan kemudian membidikkannya ke
seberang meja ke arah Nik.
“Aleksander, cukup,” ayahnya memarahinya.
“sekarang letakkan roti itu, duduk seperti orang dewasa, yang selalu kau minta
untuk diperlakukan, dan nikmati makanan yang kita bayar.”
Makanan yang dibayar oleh
ibu, kata Alek pada dirinya
sendiri. Tapi Alek tahu lebih baik tidak mengatakannya keras-keras. Sejak
ayahnya dipecat dari perusahan arsitektur tahun lalu dan ibunya harus kembali
bekerja dengan waktu penuh, ayahnya menjadi sangat sensitif soal uang.
“Well, makasih, guys,” kata Alek, dengan nada
berpemanis buatan. “Mari kita lihat—kalian pikir aku idiot, kalian memberi tahu
seminggu sebelum sekolah berakhir bahwa aku harus menghabiskan sisa musim panas
di dalam gua keputus-asaan yang mana di gedung SMA-ku, aku bahkan tidak bisa
ikut latihan tenis meskipun kalian berjanji bahwa aku bisa ikut—apa masih ada
siksaan yang ingin kalian tambahkan?”
“Well,” Ibu Alek berkata, memainkan ujung serbet
dengan gugup.
“Oh, tuhan, kalian bercanda kan? Apa lagi?”
Ibu melihat ke arah ayahnya meminta pertolongan,
tapi ayahnya sendiri sedang mengamati dengan cermat daftar menu seolah-olah itu
adalah cetak biru bahtera nabi Nuh.
“Kau tidak perlu berada di atas lima persen dari
ranking kelasmu,” jawab Nik. “Jika kau ikut sekolah musim panas, kamu tidak
bisa ikut di liburan keluarga.”
“Andranik, biar kami yang jelaskan,” kata
ayahnya, akhirnya melepaskan pandangannya dari menu. Nik, yang telah tumbuh
empat inchi selama tahun ketiganya di SMA, masih punya kesopanan untuk diam
sekali saja. “Alek, ketika kami berjanji untuk ikut ke air terjun Niagara
bersama dengan para keluarga dari gereja di musim panas ini, kami membelinya
dalam paket grup. Jika kami keluar sekarang, kita akan merusak liburan orang
lain.”
“Belum lagi aku harus minta izin khusus dari
camp-camp yang kuikuti,” tambah Nik.
“Jadi, kalian mengatakan padaku bahwa kalian
memilih orang-orang dari gereka dibandingkan anak kalian sendiri untuk liburan
keluarga?” tanya Alek. “dan aku yakin dengan fakta bahwa pacar Nik adalah salah
satu dari orang-orang itu adalah kebetulan, kan? Maksudku, aku sudah terbiasa
kalian memilih Nik daripada aku, tapi memilih Nanar dibandingkan darah daging
kalian sendiri?”
“Nanar tidak ada hubungannya dengan ini,” Nik
memotong
“Terserah.”
“Alek, keluarga Nanar hanya salah satu dari
banyak keluarga yang kami kecewakan jika kami mambatalkannya sekarang,” ibunya
menjelaskan.
Nik meletakkan Coke yang dihirupnya dengan
tampang sangat puas. “Lagipula, kami semua dari Armenian Youth merencanakan
melakukan penelitian tugas sejarah kami di Toronto Archives.”
“Belum lagi kami harus merelakan uang yang telah
kami bayarkan,” sambung ayahnya.
“Aku masih belum mengerti kenapa kita tidak
melakukan liburan sendiri seperti keluarga normal lainnya,” tanya Alek tidak
sabar.
“Well, jika itu yang kamu mau lakukan tahun
depan, itu yang akan kita lakukan, ayahmu dan ibu telah memutuskan bahwa kamu
tidak bisa ikut tahun ini, kamu yang akan menentukan kemana kita akan liburan
tahun depan.”
“Jika aku tidak kembali sekolah musim panas tahun
depan kan, maksud kalian.” serobot Alek. “Karena siapa tahu? Mungkin aku akan
mendapatkan”—Alek menarik nafas dengan efek dramatis—“oh jangan sampai—nilai C
lagi, dan mereka akan mengancam akan menendangku keluar dari kelas unggulan
lagi, dan aku harus mengorbankan musim panasku yang lain kepada institusi
paling kejam dalam sejarah peradaban manusia.”
“Yang benar saja . . .” ayahnya mulai, tetapi
berhenti ketika ia melihat Lizzy jalan kembali dengan perlahan, berusaha
menyeimbangkan sebuah cerek air panas dan empat cangkir dengan empat the celup
di dalamnya.
Ibu Alek tersenyum ke pada pelayan ketika ia
sampai ke meja. Lizzy pikir ini sebagai tanda yang baik, tetapi Alek lebih tahu
yang sebenarnya. “apa kau punya teh bubuk?” ibunya bertanya.
“Teh bubuk?” tanya Lizzy dengan pelan.
“Penelitian menunjukkan bahwa kertas yang
digunakan di teh celup—“
“Oh my God!”
Alek meledak. “kenapa ibu menyiksa gadis ini? Dia bahkan tidak ada hubungan
dengan ibu! Dan tidak ada yang mendapat penyakit kanker dari meminum teh celup.
Ibu mendengarku? TIDAK ADA. Dan tidak ada yang sakit kanker setelah meminum
Evian dari botol plastik!” cara pengunjung restoran lain memandang Alek
memberitahunya mungkin saja dia menggunakan suara luar ruangannya, tapi dia
tidak perduli. “apa ini seharusnya makan malamku? Hadiah pengganti sakit hatiku
karena dikhianati orang tuaku, untuk musim panas neraka? Kalau begitu kita
makan malam dengan caraku.” Ia melihat ke arah Lizzy, yang wajah bingungnya
seketika berubah menjadi ekspresi terima kasih. “Teh nya enak, terima kasih.”
Alek membuka menu dengan cepat. “Saya pesan carbonara. Mereka pesan steak. Dan
orang tolol di sudut itu yang mulutnya terbuka seperti ikan pesan lasagna. Dan
pastikan dagingnya matang sempurna, oke?”
Lizzy mengangguk ya, dengan cepat mencatat
pesanan ke buku kecilnya.
“sekarang cepat pergi, sebelum mereka punya
kesempatan mengatakan sesuatu!”
Lizzy tidak butuh dorongan lagi. Ia berlari
pergi, ikatan apronnya melambai di belakangnya.
Saat Lizzy sudah tidak bisa mendengar, ibu Alek
membungkuk ke arah Alek. “Aku harap mereka memasak dagingnya dengan baik,”
bisiknya. “Kalau tidak, aku akan menyuruh mereka memasaknya kembali.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar