Chapter 2: The End ~ Akhir
Perjalanan ke
sekolah tidak terlalu buruk, hanya kemacetan di jalan yang sama, seperti
pagi-pagi sebelumnya. Aku mendengarkan radio dan ikut menyayikan lagu apa saja
yang diputar, apapun genrenya. Saat ini, genre lagu tidak berarti lagi bagiku.
Aku mampir di
rumah Brent, dan membunyikan klakson tiga kali untuk memberitahukan aku sudah
ada disini.
“Hey squirt! Selamat ulang tahun!” dia
tersenyum lebar padaku, kubalas dengan senyum pura-pura. “Ini untukmu,”
ucapnya, memberiku sebuah kotak dengan lagak gentleman.
Aku
mengambilnya, berpura-pura tersanjung. Aku merobek pembungkusnya, ber-acting terkejut meskipun sudah tahu apa
isi kotak itu. “Aww Brent! Kau tidak perlu repot-repot!” Aku menahan napas saat
mengeluarkan gelang Tiffany dengan berlian berbentuk bola tennis dari dalam
kotaknya.
“Tapi aku ingin
repot,” Ia mengatakannya disertai dengan kedipan mata.
Aku menoleh
padanya, termangu melihat penampilannya. Wajah Brent seperti wajah milik
dewa-dewa Yunani. Rahangnya terpahat sempurna, ditambah sebuah hidung sempurna
untuk mendampingi rahang itu. Matanya hijau teduh yang warnanya hanya akan kau
dapatkan di dalamnya samudera antah berantah. Rambutnya sewarna kayu – sejenis kayu
yang ayah dan aku biasa beli di toko bangunan, lalu menghabiskan waktu seminggu
bersama-sama mengubahnya menjadi sebuah meja untuk rumah kami.
Pada dasarnya,
dia cowok dengan tampang sempurna. Kau tahu, tipe yang biasa gadis-gadis
gambarkan dalam novel percintaan? Cowok yang kau cintai karena dia oh dia-so hot atau oh dia-so sweet? Yeah, Brent adalah cowok sejenis itu.
Aku bahkan
tidak menyadari aku sedang menangis hingga Brent menampakkan ekspresi sedih.
“Hailee, kau baik-baik saja?” Ia bertanya pelan, menggunakan ibu jarinya untuk
menghapus air mata dari pipiku.
Oke. Kenangan
tentang saat-saat yang kuhabiskan dengan ayah selalu membuatku menangis. Aku
cepat-cepat menyadarkan diri seketika kenyataan menampar wajahku. Tidak, aku
tidak boleh menangis. Tidak di depan Brent.
Ini aneh; orang
lain tidak menyadari apapun yang terjadi padaku kecuali kejadian yang terjadi
hari ini. Tetapi Brent, dia menyadarinya. Jangan-jangan . . . ah, aku mengaggap
otakku saat ini sedang mengada-ada dan buru-buru membuang pikiran itu.
Aku
meyakinkannya aku tidak apa-apa dan menyalakan mobilku lagi, keluar dari
halaman rumahnya menuju jalan raya.
Brent terus
memandangi wajahku sepanjang perjalan menuju sekolah, yang makan waktu sekitar
sepuluh menit. Aku berusaha berpura-pura tidak menyadari, tetapi tatapannya
membuat pipiku memerah, dan aku berusaha untuk tidak menampakkannya. Caranya
menatapku seperti ia bisa melihat sampai kedalam diriku, ke dalam jiwaku,
membuat diriku ingin ditelan oleh kursi mobil ini saja.
Maksudku, tentu
saja kami sudah berteman akrab sejak taman kanak-kanak, saat ada anak yang
mengejekku, dia akan melawannya, lalu mengusir mereka. Suatu hari, dia
menemaniku jalan kaki pulang ke rumah dan meyakinkanku bahwa aku adalah gadis
tercantik yang pernah ia lihat dan anak-anak pengganggu itu hanya cemburu
padaku.
Tentu saja, dia
waktu itu mengatakannya, hanya karena ia kasihan padaku. aku yakin dia tidak
pernah menyangka kami akan menjadi sahabat. Tetapi saat mama mengundangnya
untuk datang esok harinya, dia setuju. Dan itulah saat di mana semua ini
bermula.
Aku menyayangi
Brent. Aku tidak benar-benar tahu apa yang aku lakukan jika hari-hariku tidak
mengikutsertakan Brent di dalamnya. Dia satu-satunya yang mendukungku, dan
meskipun aku punya banyak teman, hanya dia yang kupercaya.
Kami akhirnya
sampai di sekolah dan seketika dikerubuti teman-teman.
“Selamat ulang
tahun Hailee!”
“Aw Hailee!
Akhirnya kau legal juga!”
“Kau berhasil!
18!”
“Ha, akhirnya
kau cocok menjadi seorang senior seperti kami.”
“Bagus Hailee!
Akhirnya kau bertampang dan bertingkah seperti anak dua tahun.”
Komentar
terakhir membuat semua orang berhenti lalu tertawa, tetapi seketika mereka
menyorot si empunya suara saat menyadari itu adalah Ivellise, satu-satunya
orang di sekolah ini – di dunia ini – yang tidak menyukaiku.
Rambutnya
blonde, makeup nya sempurna, dan bentuk tubuhnya diinginkan oleh semua orang
yang bermata dua, termasuk para cowok. Dia itu boneka Barbie, membawa anjing
Chihuahua di tas 1), dan memakai rok lebih dari dua puluh senti di
atas lutut, menyalahi dress code
sekolah
Aku
membencinya, dia membenciku
Masalahnya
adalah . . . dulunya kami sahabat.
Brent, Ivellise
dan aku dulunya adalah Three Musketeers; selai kacang, dan jelly di tambah
pisang 2); Miranda, Lizzie, dan Gordon 3); Miley, Lilli ,dan
Olliver 4). Tak terpisahkan.
Hingga, tiba
hari dimana Ivellise mulai mencukur alisnya, dia menjadi terlalu keren untuk
kami. Ritual harian bermain video games dan memesan pizza menjadi sangat “tidak
berguna dan menggemukkan” baginya. Jadi, kami berdua mebiarkannya meniggalkan
kami. Dan untuk itu, ia membenci kami. Ia ingin mengubahku menjadi seperti
dirinya, dan menjadikan Brent pacar. Tapi kami tidak mau itu. Akhirnya, sejak
kelas 9, hanya tersisa Brent dan aku, dan aku baik-baik saja dengan itu.
Aku terkejut
mendengar Ivellise. Bukan karena terhina, tapi karena setiap hari dia
mengatakan hal yang sama persis kepadaku. Tetap saja aku membalasnya dengan
kata-kata yang lebih pedas.
“Bukannya mamamu
lebih pantas dipanggil anak umur dua tahun? Maksudku, hasil operasi plastik,
pasti membuat wajahnya lebih kencang dari anak dua tahun,” balasku puas, sadar
apa yang kukatakan tidak hanya kenyataan, tapi juga sangat telak.
Semua orang
mulai tertawa, dan muka Ivellise menjadi merah karena marah atau mungkin malu,
aku tidak yakin. Ia melotot ke arahku, dan kubalas dengan senyum.
“Okay . . .
tenang-tenang, Ivy, tolong pergi saja, aku yakin Hailee punya janji bertemu
degan orang yang lebih penting. Jadi . . . bye.” Brent bicara, memastikan
dirinya berdiri ada dekat di sampingku -- jaga-jaga kalo si Ivy berubah menjadi
liar, dan Brent ingin menghalaunya.
“BAIK,” Ivy
menggerutu, dan berlalu, aku memberinya lambaian tangan mengejek.
Brent berbalik
kepadaku dan mendengus, ia sudah memasang muka “ceramah” nya, dan aku tidak
ingin mendengarnya hari ini.
“Dengar, aku
tidak mau mendengarnya saat ini,” gerutuku, lalu berbalik dan menyilangkan
tangan di depan dada.
“Dia hanya
ingin membuatmu kesal, Hails,” dia mengatakannya dengan nada yang menenangkan,
berusaha membuatku mengerti.
“Aku tidak
perduli! Dia selalu melakukannya!” teriakku, dan semua orang menoleh padaku.
“Kalau kau
melawan api dengan api, kau hanya akan mendapat-“
“Api yang lebih
besar. Aku tahu,” potongku cepat.
“Jadi kenapa
kau masih menanggapi permainanannya?”
Aku sangat
tidak ingin menjawab pertanyaan itu, jadi aku hanya membalas dengan melempar
pertanyaan kepadanya. “Kenapa kau memanggilnya Ivy?” tanyaku, lalu menatapnya
dan mengeretkan alisku.
Mulutnya
terbuka seakan mau mengatakan sesuatu, dan kemudian kembali menutupnya, seakan
berpikir keras. Dia menghela napas dan menjawab “itu menenangkannya.”
Aku menatapnya
seakan dia baru saja kedapatan berbohong dan mengatakan, “uh-uh, tentu saja.”
Ia memberiku
tatapan memohon dan aku memutuskan berhenti membahasnya. Tiba-tiba bel berbunyi
dan kami tergopoh-gopoh masuk kelas.
Setengah hari
selalu berlalu dengan lancar seperti biasanya. Orang-orang dari kiri kananku
mengatakan “selamat ulang tahun!” Ponselku terus bergetar menandakan
pemberitahuan dari Facebook, bahwa seseorang menulis di dindingku.
Saat Brent dan
aku berjalan menuju makan siang, kami berpapasan dengan Ivellise berjalan
menuju kantor, dan aku merasa melihatnya menangis.
“Kayaknya dia
…” aku berbisik, tapi tertahan, takut Ivellise mendengarku.
Brent menunggu
hingga kami cukup jauh dan menjawab, “menangis? Yah dia menangis. Ingat tidak,
hari ini ayahnya keluar dari penjara?
“Oh, iya.” Aku
menggumam, dan mengingat kembali bulan itu.
Ivellise dan
aku masih berteman, dan dia datang padaku suatu hari menangis. Dia memberitahuku
kalau ayahnya yang bekerja sebagai broker dipanjara, dan dituduh menipu. Kami
masih delapan tahun waktu itu, dan ayahnya dihukum sepuluh tahun, jadi aku
mengerti kenapa dia begitu emosional. Dia mungkin merindukan ayahnya.
Brent dan aku
pergi ke kantin, mengambil makanan, dan keluar dari antrian, aku melihat
sahabatku yang lain, Sarah, membawa kue ulangtahun raksasa, dengan lilin
menyala di atasnya. Oh tidak, pikirku, dan aku mencari wajah Brent dengan panik
Aku benci adegan ini. Brent hanya tersenyum polos balik kepadaku dan
mengedipkan mata. Lalu, ia menarik tanganku dan menyeretku ke arah Sarah yang
menunggu bersama kue dan microphone
“Selamat pagi,
Beverly High! Seperti yang kalian tahu, hari ini adalah ulang tahun Hailee Ann
Windsor yang ke-18 dan ini sangat istimewa untuknya,” Sarah mendekat kepadaku
dan melingkarkan satu lengannya di leherku. “Ini adalah kejutan untuknya yang
diatur oleh orang-orang hebat di sana” ia menunjuk ke sebuah meja yang diisi
oleh teman-temanku yang lain melambaikan tangan kepadaku. “Jadi, untuk
merayakannya, kami mengadakan pesta Masquarade
5) di klub Pham’s, dan kalian semua diundang! Pastikan kalian membawa
hadiah!” dia mematikan mikrofon dan memberi tanda kepada band. Band dan teman-temanku
mulai menyanyikan “Happy Birthday.”
Semua orang ikut bernyanyi. Aku sangat malu, aku belum pernah mendapatkan
perhatian sebesar ini dari orang-orang di sekolah. Saat lagu berakhir, semua
orang bersorak dan aku meniup lilin. Aku tersenyum ke semua orang lalu memeluk
Brent dan Sarah.
“Kalian tidak
perlu repot-repot melakukannya,” kataku.
“Kami yang mau baby girl! Kau pantas mendapatkannya,”
Balas Brent.
“Yeah! Dan kau
terlihat sangat lucu, dengan pipimu yang memerah, Hailee,” Sarah menggoda.
Wajahku makin
memerah, saat kusadari aku makin terlihat bodoh di depan seluruh penghuni
sekolah.
“Aw! Dia sangat
cute!” Brent ikut menggoda, dan aku
memukul lengannya pelan, kemudian mulai berjalan menuju meja, mempercayakan
Brent membawakan kue dan makanan kami dari antrian makan siang.
“Aku benci
kalian guys!” aku menggeram kepada
teman-temanku yang memenuhi meja, yang malah membuat mereka serentak tertawa
terpingkal-pingkal.
“Aw, Hailee,
kami tahu kau suka menjadi pusat perhatian seperti tadi,” ucap salah satu
temanku, Ana.
“Oh suka, suka
sekali,” balasku dengan sarkasme. Kemudian aku menghela nafas dan mengambil
tempat duduk di antara Brent dan Sarah.
“Jadi,
teman-teman, pestanya dimulai pukul tujuh.” Sarah mengumumkan dengan semangat.
Aku hampir saja
tersedak kue yang kumakan. “Tujuh? Aku bahkan belum punya gaun! Atau topeng!”
Aku benci
bagaimana orang sudah punya persiapan dan aku belum. Sekarang, aku harus ke
mall, dan cepat-cepat membeli gaun, dan topeng! Masih menjadi misteri bagaimana
bisa mereka menyimpan rahasia tentang pesta ini dariku selama ini.
Tapi, aku juga
tahu apa yang akan terjadi setelah ini, jadi aku tidak khawatir, aku hanya
berpura-pura terlihat khawatir.
“Jangan
khawatir, wahai kutil yang mungil, aku sudah menyiapkan untukmu,” Kata Sarah,
seolah-olah itu hal yang paling jelas di dunia.
Lagi-lagi, aku
sudah tahu bentuk gaunku.
“Sebuah gaun
Max Azria warna pink, dan aku punya topeng khusus dibuat untukmu dan
disesuaikan dengan topengnya,” lanjut Sarah saat melihat ekspresiku.
Aku meringis.
“Trims.”
“Kembali.” Ia
balas tersenyum, dan perbincangan berlanjut seperti biasanya.
***
Tujuh jam
kemudian, Brent menjemput kami dari rumah Sarah. Aku tidak punya waktu untuk
pulang ke rumah. Aku hanya mengirim pesan kepada mama aku harus pergi ke pesta
– yang sudah diketahuinya – dan dia hanya membalas dia akan menungguku esok
pagi, sudah tahu aku akan menghabiskan malam bersama Sarah atau Brent. Aku
setuju, dan lanjut menuju kursi penumpang di mobil Brent, aku duduk di samping
sedangkan Sarah mengambil yang belakang.
Sekarang aku memikirkan rumahku, seandainya
aku pulang ke rumah waktu itu. Mungkin hal itu tak akan terjadi …
“Hey.”
Lamunanku terpotong oleh Brent yang mencoba menarik perhatianku. “Kita akan
bersenang-senang malam ini, kau baik-baik saja?
Lagi-lagi, aku
terkejut bagaimana dia tahu ketika ada yang salah denganku, dan bagaimana dia
menyadari segala yang kulakukan, tidak seperti orang lain, yang kelihatan
seperti robot, diprogram untuk melihat dan mendengar apa yang terjadi di hari
itu.
“Ya, kita akan
bersenang-senang.” Aku tersenyum padanya, mencoba menutup kesedihanku, dan dia
melihatku tidak yakin, tapi kemudian mengangguk akhirnya.
Ketika kami
sampai, pestanya sudah memanas. Orang-orang menari, tertawa, dan
bersenang-senang. Ada yang minum, dan aku menutup hidung, jijik. Alcohol itu
menjijikkan, dan aku tidak akan pernah meminumnya, tapi lain ceritanya dengan
anak-anak di sekolahku.
“Hey kawan!”
anak yang kukenal bernama Austin mendekati kami, napasnya berbau alkohol.
Faktanya dia bilang “kawan” membuatku berpikir dia benar-benar mabuk, karena
tak seorang pun di Beverly Hills High School Academy pernah mengatakan itu
tanpa mendapatkan tatapan aneh dari orang-orang. Brent dan aku hanya mengangguk
padanya sebagai pengganti kata hello, tidak mungkin kami untuk tinggal dan dan
bercakap-cakap kemudian minum teh bersama anak itu.
Kami sampai di
belakang, bagian VIP di mana semua teman dekatku berkumpul. Rupanya Sarah tidak
ingin berdansa dengan orang-orang penuh keringat yang tidak benar-benar
dikenalnya, dan dia tidak menginginkan aku dikelilingi para lelaki yang merayu
untuk berdansa.
Aku menyalami
dengan hangat semua orang di area VIP, dan kami mulai menikmati pesta.
***
Aku mulai haus,
dan melihat sebuah botol cola yang terlihat unik, jadi aku membukanya dan mulai
menenggaknya. Aku terkejut, perasaan panas ditenggorokanku bukan karena
gelembung-gelembung cola, tapi karena alkohol dalam minuman itu.
“Hailee! Apa
yang kau lakukan?” Tanya Brent, memukul pelan punggungku, berusaha meredakan
cegukanku. Ia melihat botol di tanganku dan matanya membelalak. “Kamu minum
Jack Daniel’s?” Brent meraih air dari meja di sebelahku kemudian menyerahkannya
di tanganku.
Aku
mengambilnya, dan meminum air itu, menikmati rasa murni nya, “aku mengira itu
coca cola dalam botol yang mewah,” aku berkata malu-malu.
Brent
menggelangkan kepala dan tertawa kecil. “Ah, Hails, lain kali baca label
sebelum minum.”
Aku melihat
sekelilingku, menyadari tidak ada yang memperhatikan kami berdua, dan kemudian
aku menyadari ini kali pertama itu terjadi, di hari-hari ku yang repetitif.
Aku mengangguk
mengiyakan, dan Brent mengaitkan lengannya di tanganku. “Ayo kita cari udara
segar,” ajaknya.
Aku mengangguk,
dan kami ada di pintu belakang. Kami membuka topeng, dan berjalan sepanjang
lorong kecil. Sebagian besar orang akan takut, tapi aku sedikit mabuk dari
alkohol yang tak sengaja kuminum, dan aku merasa aman karena ada Brent di
sampingku,
“Kayaknya kita
harus pulang,” dia mengatakannya khawatir sambil berjuang untuk membuatku
berjalan lurus.
“No! Aku ingin
tinggal di sini selamanya! Dan—“ aku
tiba-tiba dihentikan oleh suara senjata api dan aku merasakan sebuah sensasi
rasa kosong di sebelah kiri, tepat di bawah paru-paruku. Tiba-tiba aku tak bisa
bernapas, dan akupun jatuh terkapar.
“Oh Tuhan!
Hailee!” Brent berteriak tak berdaya. Ia melihat ke arah penembak itu, tapi aku
rasa dia tidak melihat siapa-siapa. Aku mulai merasa ngantuk, usahaku untuk
tetap membuka mata membuatku letih. Pendengaranku mulai samar-samar dan kembali
terdengar suara tembakan dari kejauhan. Brent tiba-tiba terlonjak. Aku
memalingkan kepalaku untuk melihat kemana dia pergi, dan melihatnya dia
terlentang di sampingku, sebuah lubang di tengah dadanya.
Dia memandang
ke arahku, dan aku merasa tertusuk di dalam jantungku. Ia meraih dan menggengam
tanganku, kami saling berpandangan.
Aku benar-benar mencintainya, dan
seharusnya aku sudah mengatakan itu. Aku sudah hampir melakukannya, aku melihat
mata hitamnya terputar ke belakang, dan tubuhnya terkapar kaku, tak bernyawa.
Dan yang bisa kulakukan hanya menangis dalam hati saat mataku semakin berat.
Seandainya aku punya satu hari lagi, aku
akan memberi tahunya, bahwa aku mencintanya.
Dan segalanya pun
menghitam.
(catatan penerjemah: 1. gaya Paris Hilton, 2. Snack kesukaan remaja Amerika, 3. Karakter dalam serial anak Lizzy McGuire di Disney Channel; 4. Para pemain Hannah Montana; 5. Pesta topeng)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar