Selasa, 10 Desember 2013

The Day, Chapter 2: The End ~ Akhir (terjemahan novel online Daniela Rubio)



Chapter 2: The End ~ Akhir

Perjalanan ke sekolah tidak terlalu buruk, hanya kemacetan di jalan yang sama, seperti pagi-pagi sebelumnya. Aku mendengarkan radio dan ikut menyayikan lagu apa saja yang diputar, apapun genrenya. Saat ini, genre lagu tidak berarti lagi bagiku.
Aku mampir di rumah Brent, dan membunyikan klakson tiga kali untuk memberitahukan aku sudah ada disini.
“Hey squirt! Selamat ulang tahun!” dia tersenyum lebar padaku, kubalas dengan senyum pura-pura. “Ini untukmu,” ucapnya, memberiku sebuah kotak dengan lagak gentleman.
Aku mengambilnya, berpura-pura tersanjung. Aku merobek pembungkusnya, ber-acting terkejut meskipun sudah tahu apa isi kotak itu. “Aww Brent! Kau tidak perlu repot-repot!” Aku menahan napas saat mengeluarkan gelang Tiffany dengan berlian berbentuk bola tennis dari dalam kotaknya.
“Tapi aku ingin repot,” Ia mengatakannya disertai dengan kedipan mata.
Aku menoleh padanya, termangu melihat penampilannya. Wajah Brent seperti wajah milik dewa-dewa Yunani. Rahangnya terpahat sempurna, ditambah sebuah hidung sempurna untuk mendampingi rahang itu. Matanya hijau teduh yang warnanya hanya akan kau dapatkan di dalamnya samudera antah berantah. Rambutnya sewarna kayu – sejenis kayu yang ayah dan aku biasa beli di toko bangunan, lalu menghabiskan waktu seminggu bersama-sama mengubahnya menjadi sebuah meja untuk rumah kami.
Pada dasarnya, dia cowok dengan tampang sempurna. Kau tahu, tipe yang biasa gadis-gadis gambarkan dalam novel percintaan? Cowok yang kau cintai karena dia oh dia-so hot atau oh dia-so sweet? Yeah, Brent adalah cowok sejenis itu.
Aku bahkan tidak menyadari aku sedang menangis hingga Brent menampakkan ekspresi sedih. “Hailee, kau baik-baik saja?” Ia bertanya pelan, menggunakan ibu jarinya untuk menghapus air mata dari pipiku.
Oke. Kenangan tentang saat-saat yang kuhabiskan dengan ayah selalu membuatku menangis. Aku cepat-cepat menyadarkan diri seketika kenyataan menampar wajahku. Tidak, aku tidak boleh menangis. Tidak di depan Brent.
Ini aneh; orang lain tidak menyadari apapun yang terjadi padaku kecuali kejadian yang terjadi hari ini. Tetapi Brent, dia menyadarinya. Jangan-jangan . . . ah, aku mengaggap otakku saat ini sedang mengada-ada dan buru-buru membuang pikiran itu.
Aku meyakinkannya aku tidak apa-apa dan menyalakan mobilku lagi, keluar dari halaman rumahnya menuju jalan raya.
Brent terus memandangi wajahku sepanjang perjalan menuju sekolah, yang makan waktu sekitar sepuluh menit. Aku berusaha berpura-pura tidak menyadari, tetapi tatapannya membuat pipiku memerah, dan aku berusaha untuk tidak menampakkannya. Caranya menatapku seperti ia bisa melihat sampai kedalam diriku, ke dalam jiwaku, membuat diriku ingin ditelan oleh kursi mobil ini saja.
Maksudku, tentu saja kami sudah berteman akrab sejak taman kanak-kanak, saat ada anak yang mengejekku, dia akan melawannya, lalu mengusir mereka. Suatu hari, dia menemaniku jalan kaki pulang ke rumah dan meyakinkanku bahwa aku adalah gadis tercantik yang pernah ia lihat dan anak-anak pengganggu itu hanya cemburu padaku.
Tentu saja, dia waktu itu mengatakannya, hanya karena ia kasihan padaku. aku yakin dia tidak pernah menyangka kami akan menjadi sahabat. Tetapi saat mama mengundangnya untuk datang esok harinya, dia setuju. Dan itulah saat di mana semua ini bermula.
Aku menyayangi Brent. Aku tidak benar-benar tahu apa yang aku lakukan jika hari-hariku tidak mengikutsertakan Brent di dalamnya. Dia satu-satunya yang mendukungku, dan meskipun aku punya banyak teman, hanya dia yang kupercaya.
Kami akhirnya sampai di sekolah dan seketika dikerubuti teman-teman.
“Selamat ulang tahun Hailee!”
“Aw Hailee! Akhirnya kau legal juga!”
“Kau berhasil! 18!”
“Ha, akhirnya kau cocok menjadi seorang senior seperti kami.”
“Bagus Hailee! Akhirnya kau bertampang dan bertingkah seperti anak dua tahun.”
Komentar terakhir membuat semua orang berhenti lalu tertawa, tetapi seketika mereka menyorot si empunya suara saat menyadari itu adalah Ivellise, satu-satunya orang di sekolah ini – di dunia ini – yang tidak menyukaiku.
Rambutnya blonde, makeup nya sempurna, dan bentuk tubuhnya diinginkan oleh semua orang yang bermata dua, termasuk para cowok. Dia itu boneka Barbie, membawa anjing Chihuahua di tas 1), dan memakai rok lebih dari dua puluh senti di atas lutut, menyalahi dress code sekolah
Aku membencinya, dia membenciku
Masalahnya adalah . . . dulunya kami sahabat.
Brent, Ivellise dan aku dulunya adalah Three Musketeers; selai kacang, dan jelly di tambah pisang 2); Miranda, Lizzie, dan Gordon 3); Miley, Lilli ,dan Olliver 4). Tak terpisahkan.
Hingga, tiba hari dimana Ivellise mulai mencukur alisnya, dia menjadi terlalu keren untuk kami. Ritual harian bermain video games dan memesan pizza menjadi sangat “tidak berguna dan menggemukkan” baginya. Jadi, kami berdua mebiarkannya meniggalkan kami. Dan untuk itu, ia membenci kami. Ia ingin mengubahku menjadi seperti dirinya, dan menjadikan Brent pacar. Tapi kami tidak mau itu. Akhirnya, sejak kelas 9, hanya tersisa Brent dan aku, dan aku baik-baik saja dengan itu.
Aku terkejut mendengar Ivellise. Bukan karena terhina, tapi karena setiap hari dia mengatakan hal yang sama persis kepadaku. Tetap saja aku membalasnya dengan kata-kata yang lebih pedas.
“Bukannya mamamu lebih pantas dipanggil anak umur dua tahun? Maksudku, hasil operasi plastik, pasti membuat wajahnya lebih kencang dari anak dua tahun,” balasku puas, sadar apa yang kukatakan tidak hanya kenyataan, tapi juga sangat telak.
Semua orang mulai tertawa, dan muka Ivellise menjadi merah karena marah atau mungkin malu, aku tidak yakin. Ia melotot ke arahku, dan kubalas dengan senyum.
“Okay . . . tenang-tenang, Ivy, tolong pergi saja, aku yakin Hailee punya janji bertemu degan orang yang lebih penting. Jadi . . . bye.” Brent bicara, memastikan dirinya berdiri ada dekat di sampingku -- jaga-jaga kalo si Ivy berubah menjadi liar, dan Brent ingin menghalaunya.
“BAIK,” Ivy menggerutu, dan berlalu, aku memberinya lambaian tangan mengejek.
Brent berbalik kepadaku dan mendengus, ia sudah memasang muka “ceramah” nya, dan aku tidak ingin mendengarnya hari ini.
“Dengar, aku tidak mau mendengarnya saat ini,” gerutuku, lalu berbalik dan menyilangkan tangan di depan dada.
“Dia hanya ingin membuatmu kesal, Hails,” dia mengatakannya dengan nada yang menenangkan, berusaha membuatku mengerti.
“Aku tidak perduli! Dia selalu melakukannya!” teriakku, dan semua orang menoleh padaku.
“Kalau kau melawan api dengan api, kau hanya akan mendapat-“
“Api yang lebih besar. Aku tahu,” potongku cepat.
“Jadi kenapa kau masih menanggapi permainanannya?”
Aku sangat tidak ingin menjawab pertanyaan itu, jadi aku hanya membalas dengan melempar pertanyaan kepadanya. “Kenapa kau memanggilnya Ivy?” tanyaku, lalu menatapnya dan mengeretkan alisku.
Mulutnya terbuka seakan mau mengatakan sesuatu, dan kemudian kembali menutupnya, seakan berpikir keras. Dia menghela napas dan menjawab “itu menenangkannya.”
Aku menatapnya seakan dia baru saja kedapatan berbohong dan mengatakan, “uh-uh, tentu saja.”
Ia memberiku tatapan memohon dan aku memutuskan berhenti membahasnya. Tiba-tiba bel berbunyi dan kami tergopoh-gopoh masuk kelas.
Setengah hari selalu berlalu dengan lancar seperti biasanya. Orang-orang dari kiri kananku mengatakan “selamat ulang tahun!” Ponselku terus bergetar menandakan pemberitahuan dari Facebook, bahwa seseorang menulis di dindingku.
Saat Brent dan aku berjalan menuju makan siang, kami berpapasan dengan Ivellise berjalan menuju kantor, dan aku merasa melihatnya menangis.
“Kayaknya dia …” aku berbisik, tapi tertahan, takut Ivellise mendengarku.
Brent menunggu hingga kami cukup jauh dan menjawab, “menangis? Yah dia menangis. Ingat tidak, hari ini ayahnya keluar dari penjara?
“Oh, iya.” Aku menggumam, dan mengingat kembali bulan itu.
Ivellise dan aku masih berteman, dan dia datang padaku suatu hari menangis. Dia memberitahuku kalau ayahnya yang bekerja sebagai broker dipanjara, dan dituduh menipu. Kami masih delapan tahun waktu itu, dan ayahnya dihukum sepuluh tahun, jadi aku mengerti kenapa dia begitu emosional. Dia mungkin merindukan ayahnya.
Brent dan aku pergi ke kantin, mengambil makanan, dan keluar dari antrian, aku melihat sahabatku yang lain, Sarah, membawa kue ulangtahun raksasa, dengan lilin menyala di atasnya. Oh tidak, pikirku, dan aku mencari wajah Brent dengan panik Aku benci adegan ini. Brent hanya tersenyum polos balik kepadaku dan mengedipkan mata. Lalu, ia menarik tanganku dan menyeretku ke arah Sarah yang menunggu bersama kue dan microphone
“Selamat pagi, Beverly High! Seperti yang kalian tahu, hari ini adalah ulang tahun Hailee Ann Windsor yang ke-18 dan ini sangat istimewa untuknya,” Sarah mendekat kepadaku dan melingkarkan satu lengannya di leherku. “Ini adalah kejutan untuknya yang diatur oleh orang-orang hebat di sana” ia menunjuk ke sebuah meja yang diisi oleh teman-temanku yang lain melambaikan tangan kepadaku. “Jadi, untuk merayakannya, kami mengadakan pesta Masquarade 5) di klub Pham’s, dan kalian semua diundang! Pastikan kalian membawa hadiah!” dia mematikan mikrofon dan memberi tanda kepada band. Band dan teman-temanku mulai menyanyikan “Happy Birthday.” Semua orang ikut bernyanyi. Aku sangat malu, aku belum pernah mendapatkan perhatian sebesar ini dari orang-orang di sekolah. Saat lagu berakhir, semua orang bersorak dan aku meniup lilin. Aku tersenyum ke semua orang lalu memeluk Brent dan Sarah.
“Kalian tidak perlu repot-repot melakukannya,” kataku.
“Kami yang mau baby girl! Kau pantas mendapatkannya,” Balas Brent.
“Yeah! Dan kau terlihat sangat lucu, dengan pipimu yang memerah, Hailee,” Sarah menggoda.
Wajahku makin memerah, saat kusadari aku makin terlihat bodoh di depan seluruh penghuni sekolah.
“Aw! Dia sangat cute!” Brent ikut menggoda, dan aku memukul lengannya pelan, kemudian mulai berjalan menuju meja, mempercayakan Brent membawakan kue dan makanan kami dari antrian makan siang.
“Aku benci kalian guys!” aku menggeram kepada teman-temanku yang memenuhi meja, yang malah membuat mereka serentak tertawa terpingkal-pingkal.
“Aw, Hailee, kami tahu kau suka menjadi pusat perhatian seperti tadi,” ucap salah satu temanku, Ana.
“Oh suka, suka sekali,” balasku dengan sarkasme. Kemudian aku menghela nafas dan mengambil tempat duduk di antara Brent dan Sarah.
“Jadi, teman-teman, pestanya dimulai pukul tujuh.” Sarah mengumumkan dengan semangat.
Aku hampir saja tersedak kue yang kumakan. “Tujuh? Aku bahkan belum punya gaun! Atau topeng!”
Aku benci bagaimana orang sudah punya persiapan dan aku belum. Sekarang, aku harus ke mall, dan cepat-cepat membeli gaun, dan topeng! Masih menjadi misteri bagaimana bisa mereka menyimpan rahasia tentang pesta ini dariku selama ini.
Tapi, aku juga tahu apa yang akan terjadi setelah ini, jadi aku tidak khawatir, aku hanya berpura-pura terlihat khawatir.
“Jangan khawatir, wahai kutil yang mungil, aku sudah menyiapkan untukmu,” Kata Sarah, seolah-olah itu hal yang paling jelas di dunia.
Lagi-lagi, aku sudah tahu bentuk gaunku.
“Sebuah gaun Max Azria warna pink, dan aku punya topeng khusus dibuat untukmu dan disesuaikan dengan topengnya,” lanjut Sarah saat melihat ekspresiku.
Aku meringis. “Trims.”
“Kembali.” Ia balas tersenyum, dan perbincangan berlanjut seperti biasanya.
***
Tujuh jam kemudian, Brent menjemput kami dari rumah Sarah. Aku tidak punya waktu untuk pulang ke rumah. Aku hanya mengirim pesan kepada mama aku harus pergi ke pesta – yang sudah diketahuinya – dan dia hanya membalas dia akan menungguku esok pagi, sudah tahu aku akan menghabiskan malam bersama Sarah atau Brent. Aku setuju, dan lanjut menuju kursi penumpang di mobil Brent, aku duduk di samping sedangkan Sarah mengambil yang belakang.
Sekarang aku memikirkan rumahku, seandainya aku pulang ke rumah waktu itu. Mungkin hal itu tak akan terjadi …
“Hey.” Lamunanku terpotong oleh Brent yang mencoba menarik perhatianku. “Kita akan bersenang-senang malam ini, kau baik-baik saja?
Lagi-lagi, aku terkejut bagaimana dia tahu ketika ada yang salah denganku, dan bagaimana dia menyadari segala yang kulakukan, tidak seperti orang lain, yang kelihatan seperti robot, diprogram untuk melihat dan mendengar apa yang terjadi di hari itu.
“Ya, kita akan bersenang-senang.” Aku tersenyum padanya, mencoba menutup kesedihanku, dan dia melihatku tidak yakin, tapi kemudian mengangguk akhirnya.
Ketika kami sampai, pestanya sudah memanas. Orang-orang menari, tertawa, dan bersenang-senang. Ada yang minum, dan aku menutup hidung, jijik. Alcohol itu menjijikkan, dan aku tidak akan pernah meminumnya, tapi lain ceritanya dengan anak-anak di sekolahku.
“Hey kawan!” anak yang kukenal bernama Austin mendekati kami, napasnya berbau alkohol. Faktanya dia bilang “kawan” membuatku berpikir dia benar-benar mabuk, karena tak seorang pun di Beverly Hills High School Academy pernah mengatakan itu tanpa mendapatkan tatapan aneh dari orang-orang. Brent dan aku hanya mengangguk padanya sebagai pengganti kata hello, tidak mungkin kami untuk tinggal dan dan bercakap-cakap kemudian minum teh bersama anak itu.
Kami sampai di belakang, bagian VIP di mana semua teman dekatku berkumpul. Rupanya Sarah tidak ingin berdansa dengan orang-orang penuh keringat yang tidak benar-benar dikenalnya, dan dia tidak menginginkan aku dikelilingi para lelaki yang merayu untuk berdansa.
Aku menyalami dengan hangat semua orang di area VIP, dan kami mulai menikmati pesta.
***
Aku mulai haus, dan melihat sebuah botol cola yang terlihat unik, jadi aku membukanya dan mulai menenggaknya. Aku terkejut, perasaan panas ditenggorokanku bukan karena gelembung-gelembung cola, tapi karena alkohol dalam minuman itu.
“Hailee! Apa yang kau lakukan?” Tanya Brent, memukul pelan punggungku, berusaha meredakan cegukanku. Ia melihat botol di tanganku dan matanya membelalak. “Kamu minum Jack Daniel’s?” Brent meraih air dari meja di sebelahku kemudian menyerahkannya di tanganku.
Aku mengambilnya, dan meminum air itu, menikmati rasa murni nya, “aku mengira itu coca cola dalam botol yang mewah,” aku berkata malu-malu.
Brent menggelangkan kepala dan tertawa kecil. “Ah, Hails, lain kali baca label sebelum minum.”
Aku melihat sekelilingku, menyadari tidak ada yang memperhatikan kami berdua, dan kemudian aku menyadari ini kali pertama itu terjadi, di hari-hari ku yang repetitif.
Aku mengangguk mengiyakan, dan Brent mengaitkan lengannya di tanganku. “Ayo kita cari udara segar,” ajaknya.
Aku mengangguk, dan kami ada di pintu belakang. Kami membuka topeng, dan berjalan sepanjang lorong kecil. Sebagian besar orang akan takut, tapi aku sedikit mabuk dari alkohol yang tak sengaja kuminum, dan aku merasa aman karena ada Brent di sampingku,
“Kayaknya kita harus pulang,” dia mengatakannya khawatir sambil berjuang untuk membuatku berjalan lurus.
“No! Aku ingin tinggal di sini selamanya! Dan—“  aku tiba-tiba dihentikan oleh suara senjata api dan aku merasakan sebuah sensasi rasa kosong di sebelah kiri, tepat di bawah paru-paruku. Tiba-tiba aku tak bisa bernapas, dan akupun jatuh terkapar.
“Oh Tuhan! Hailee!” Brent berteriak tak berdaya. Ia melihat ke arah penembak itu, tapi aku rasa dia tidak melihat siapa-siapa. Aku mulai merasa ngantuk, usahaku untuk tetap membuka mata membuatku letih. Pendengaranku mulai samar-samar dan kembali terdengar suara tembakan dari kejauhan. Brent tiba-tiba terlonjak. Aku memalingkan kepalaku untuk melihat kemana dia pergi, dan melihatnya dia terlentang di sampingku, sebuah lubang di tengah dadanya.
Dia memandang ke arahku, dan aku merasa tertusuk di dalam jantungku. Ia meraih dan menggengam tanganku, kami saling berpandangan.
Aku benar-benar mencintainya, dan seharusnya aku sudah mengatakan itu. Aku sudah hampir melakukannya, aku melihat mata hitamnya terputar ke belakang, dan tubuhnya terkapar kaku, tak bernyawa. Dan yang bisa kulakukan hanya menangis dalam hati saat mataku semakin berat.
Seandainya aku punya satu hari lagi, aku akan memberi tahunya, bahwa aku mencintanya.
Dan segalanya pun menghitam.

(catatan penerjemah: 1. gaya Paris Hilton, 2. Snack kesukaan remaja Amerika, 3. Karakter dalam serial anak Lizzy McGuire di Disney Channel; 4. Para pemain Hannah Montana; 5. Pesta topeng)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar