
4/5 stars
Seminggu yang lalu saya kapok membaca buku YA dengan PoV dari gadis umur 17an. Ya, saya masih trauma dengan buku Shatter Me-nya Tahereh Mafi. Tapi sekarang saya menarik ucapan itu kembali. Saya menemukan buku yang lumayan mengembalikan kepercayaan saya. Buku itu adalah Throne of Glass oleh Sarah J Maas. Sudah lama saya ingin membaca buku ini, tapi selalu ragu, karena ekspektasi saya terhadap buku ini sebenarnya cukup rendah. Cover dengan gambar cewek di depannya kadang membuat saya kurang tertarik.
This is a decent read. Sebenarnya tidak ada tentang buku ini yg ground breaking. Tidak ada yang wah. Cuma saya puas dengan eksekusi penulisnya.
Pujian:
1. Buku ini saya katakan cukup seimbang. Dystopian, magic, action, politik, romance dan misteri nya terbagi dengan merata dan membuat saya cukup puas. Hanya saya masih penasaran dengan semua ujian yang harus dilalui oleh Celaena, yang sebagian besar oleh penulis dipercepat atau di-skip begitu saja.
2. Saya senang dengan ketiga karakter utama--kalau Dorian dan Chaol dianggap karakter utama. Banter mereka sangat luwes, lucu dan menggemaskan (???).
3. World building nya walaupun gak terlalu kelihatan tapi menurut saya "aman", gak ada sesuatu yang bikin saya mengerutkan dahi kayak di Divergent.
4. Final battle mengingatkan saya pada Naruto.
Complain:
1. Kok bisa bisanya sih si Nehemiah gak tau kalo lagi ada kompetisi pemilihan Champion raja di Rithford, selama ini dia ngapain aja?
2. Ternyata si Assasin tidak se bad ass yang saya bayangkan. Berkali kali Celaena mendapatkan bantuan dari orang lain. Ini mungkin keputusan penulis untuk membuat karakternya serealistis mungkin, tetapi menurutku ini agak bikin pembaca kecewa.
Dan saya tidak sabar membaca buku selanjutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar