Rabu, 04 Desember 2013

The Day Chap. 1 -- by Daniela Rubio (terjemahan)



catatan:  ini adalah novel remaja yang iseng-iseng saya terjemahkan tanpa seizin penulisnya, silahkan dibaca dan diberi kritik jika ada hasil terjemahan yang salah atau ada tata bahasa yang salah, bisa juga beri saran bagaimana cara menulis terjemahan yang menarik, karena setelah membaca hasil terjemahanku sendiri, saya merasa kok kata-kata yang saya gunakan kaku sekali. yang tertarik membaca naskah bahasa inggris nya silahkan cek disini!



Hari itu ulang tahun Hailee Windsor yang ke-18. Ia salah satu dari korban penembakan, meninggal di hari paling penting dalam hidupnya. Sebelum meninggal, ia meminta satu kesempatan untuk menyatakan cinta kepada sahabatnya, Brent. Hailee tak menyadari keesokan harinya ia terbangun di tanggal 6 Juni itu lagi. Esok harinya lagi. Dan seterusnya.

 

The Day

Daniela Rubio

Chapter 1: The Beginning ~ Awal Mula

Aku merasakan peluru menusuk paru-paruku, mengosongkan udara di dalamnya, dan mengisinya dengan darah. Bernapas jadi hal yang tak mungkin, dan usaha sia-siaku hanya membuat kematianku semakin cepat. Jatuhnya diriku ke lantai beton di bawahku tiba-tiba menjadi gerakan super lambat, setiap segi hidupku menjadi sangat jelas. Aku tak percaya, aku akan sia-sia seperti itu. Andai aku punya satu hari lagi . . .

Aku terbangun, tiba-tiba merasakan leherku kaku seperti biasanya setiap pagi. Melirik ke jam dinding dan mencatatnya di kepalaku bahwa saat ini jam 8:45 pagi, jadi aku punya waktu dua jam sebelum diriku harus berada di sekolah. Matahari bersinar terang di mataku, dan berusaha sebisanya menghalaunya dari wajahku saat bangun dengan malas dari tempat tidur, lalu menyeret kakiku sepanjang lantai kayu untuk bersiap-siap.

Setelah berpakaian, aku duduk di depan meja rias, bersiap untuk merias wajah dan rambutku. Aku menyambar alat pelurus rambut, dan menggunakannya di rambut hitamku, dengan sempurna menyingkirkan gelombang-gelombangnya. Lalu, dengan make-up, kubingkai mata biruku dengan warna cokelat yang membuatnya berkilau, sedikit merah di pipi, memberikan perhatian khusus pada warna apel agar kulitku yang terlalu pucat dapat bercahaya cantik. Aku selesai dalam 10 menit, lalu membuka pintu kamar.

Anjingku, Mr. Meowsir menuntut jatah makanannya saat melihatku. Aku menunduk dan memberikan tepukan lembut di kepalanya.

“Aw, Mr. Meowsir, kamu lapar anjing mungil?” aku mengatakannya dengan sangat manis, seakan-akan anjingku mengerti apa yang kukatakan.

Aku menuju dapur dan menemukan mama duduk di meja makan, sedang menyeruput kopinya.

“Hey ma, bagaimana tidurnya?” aku bertanya, memandangnya hati-hati, mencari tanda-tanda perubahan. Dia terlihat sangat cantik, sinar matahari mengenai kepalanya, dan memperindah setiap helai rambut merahnya, warna merah membuat mata hijaunya bersinar seperti lampu lalu lintas. 

“Seperti bayi,” dia mengatakannya dengan ceria, namun kantung di bawah matanya berkata lain. “Bisa tidak kau mengambilkan anjing itu makanannya? Aku khawatir akan mengirimnya lagi ke tempat pelatihan jika dia mencakar salah satu lemari kacaku.”

Aku mengerutkan dahi saat membuka pantry, meraih makanan anjing, membuka penutup, dan menuangkannya di mangkuk anjing. Wow, mama ku sekali-sekali bisa sangat menjengkelkan; dengan suara seraknya; aksen Perancis yang jelas pada setiap huruf hidup yang diucapkannya.

Mr. Meowsir kelihatan sangat senang mendapatkan makanan keringnya. Aku memandanginya makan, menghidupkan kembali hari itu, bertahun-tahun lalu.

Itu adalah ulang tahun ketujuhku; mama mengadakan pesta untukku, mengundang hampir seisi kota. Hadiahku adalah seekor anjing, orang tuaku memutuskan akan sangat bagus jika memberikanku satu, dan ditambah sekantung makanan anjing sebagai ekstra. Brent dan aku mengira makanan anjing itu adalah kudapan spesial, jadi Brent mengambil segenggam dan memberikannya kepadaku lalu aku memakannya, dan sangat menyukainya.

Aku mendesah merindukan saat itu, mataku mulai perih, tapi aku memaksa mataku terbuka untuk mengeringkan air mata yang memaksa untuk mengalir.

Aku memandangi mama, dan aku melihat dia tidak memperhatikan air mataku. Mengapa dia harus memperhatikan? Lagipula, Itu tidak pernah terjadi pada hari sebelumnya.

Membuka kulkas, dan aku menyadari fakta bahwa kami tak punya susu — fakta yang sebenarnya sudah kuketahui, sama seperti hari sebelumnya.

“Ma, susu mana?” aku bertanya dengan santai.

“Oh, maaf sayang aku memakai semuanya kemarin, membuat Flan kesukaanmu untuk acara ulang tahunmu malam ini.”

Aku mengangguk ragu, sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Gadis-gadisku yang cantik! Selamat pagi!” seru ayahku, kemudian tersenyum pada mama dan aku. Rambut cokelat gelapnya terlihat basah dan baru diberi gel, mata abu-abunya memandang mama seperti dia adalah oksigen, alasannya untuk ada di dunia.

“Oh Darius, bisakah kau santai?” mama mengejek.

“Oh tentu saja tidak bisa Alexandrie. Sayangku, berikan aku alasan untuk santai.”

Aku menggelengkan kepala terhadap tingkah mereka. Mereka itu pasangan yang unik.

Yang gagah menikahi yang cantik, dan mereka menghasilkan anak yang tidak terlalu cantik sepertiku. Lucu, bagaimana gen bisa menghianatimu sekali-sekali. Aku sebenarnya tidak jelek, hanya saja tidak cukup cantik. Dan sedihnya, aku tidak punya aksen yang eksotik, atau nama yang eksotik. Aku hanya Hailee. Hailee si gadis biasa.

Tentu, di sekolah aku disukai, dan itu mungkin saja karena orang tuaku. Mereka berdua adalah CEO dari perusahaannya masing-masing, mama di pusat perbelanjaan pakaian, dan ayah di perusahaan minyak di California selatan. Kami masih memiliki kehidupan yang sederhana; kami tinggal di rumah yang relatif kecil – well, kecil untukku – dan kami masing-masing punya mobil. Yeah, aku tetap saja belajar di sekolah swasta, dan mobilku cukup mahal, tapi aku tetap berpikir itu sederhana dibandingkan dengan beberapa keluarga di sekolahku.

Tetap saja, apa guna orang lain menerimamu jika kau tidak bisa menerima dirimu sendiri?

“Hey Hail-Rain,” ayah menggunakan nama kecilku, dan aku menoleh melihatnya tersenyum. “kau tidak keberatan pergi membeli susu untuk kita?” ayah bertanya, menunjuk kearah garasi dengan gerakan dagunya.

Aku menggigit bibir, berpura-pura mempertimbangkannya.

“kau ingin di bayar berapa?” ayah bertanya sambil tersenyum.

“apa saja yang ingin ayah beri padaku,” aku membalasnya dengan licik, dan aku tahu bahwa apa yang ayah  ingin berikan padaku lebih banyak daripada yang kuinginkan. Aku juga sudah tahu apa yang ingin ayah tawarkan, dan itu tidak akan merubah apa yang telah kukatakan.

“bagaimana kalau kau membawa mobil Buggati mamamu hari ini?” ia menjawab, mengabaikan tatapan tajam yang disorotkan mama kepadanya.

“Yes! Terimakasih ayah!” pekikku, memeluknya erat.

“sama-sama sweetheart,” balasnya, menepuk-nepuk punggungku.

Dengan cepat kulaksanakan tugasku, menyambar sarapan dan segelas jus jeruk, dan kemudian menuju pintu, tasku sudah menunggu di dalam mobil. Aku memberi orangtuaku lambaian tangan, tinggal sedikit lebih lama dan memandangi senyum hangat yang mereka berikan, meskipun sebenarnya itu bukan untukku.

Aku melawan linangan air mata untuk kedua kalinya hari ini. Aku berharap ini bukan terakhir kalinya aku melihat mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar