Rabu, 11 Desember 2013

AKB48! My New Obsession



Awal mula saya mengenal AKB48 terjadi beberapa minggu yang lalu. waktu itu ada teman (baca: Rahmat Sapar aka Chiko aka Chikoster) yang iseng memutar video klip AKB48 yang berjudul Yuuhi wo Miteiruka, dan saya terpana dengan nada lagunya yang sederhana tapi mampu mebuat saya merinding mendengarnya--saat itu saya belum memperhatikan para cewek yang menyanyikannya.

"Merinding" adalah salah satu indikator saya dalam menilai seberapa bagus sebuah lagu. Makin lama merindingnya berarti semakin bagus. Merinding kali ini sama merindingnya pada saat pertama kali saya mendengar lagunya James Morrison yang I Won't Let You Go (ada yang merinding? atau cuma saya?); atau pada saat mendengar Anggun saat meng-cover lagu Life on Mars (kalo ada yang tidak tahu, maklum saja saya memang suka lagu yang aneh) atau lagu Bronte milik Gotye (kalo tidak kenal lagu ini silahkan di-googling). Nah, karena penasaran saya minta videonya diulang-ulang dan filenya dikopi bersama lagu-lagu AKB48 lainnya. Dan mulai saat itu saya mulai keranjingan dengan AKB48.

Memang saya sudah mengenal JKT48 sebelumnya, yang notabene merupakan group sister dari AKB48. Tapi, saya bukan diehard fan mereka, saya cuma suka -- dalam taraf normal -- karena si Chikoster tiap hari mencecoki saya dengan hal-hal yang berhubungan dengan Cindy Yuvia yang menurutnya kawaii (dasar pedo!). Menurut saya, JKT48, they're fine but lacking in charisma of a star. Mungkin karena mereka sangat muda jika dibandingkan dengan AKB48 yang sudah didirikan sejak tahun 2005 (CMIIW!). Melody dan Godzilla cilik (baca: Nabilah) belum bisa menyaingi karisma Maeda Atsuko sebagai center-front. Mereka masih butuh jam terbang yang lebih lama untuk menyamai AKB48.

Well, dari video-video yang diberikan oleh Chikoster --sekitar 6 video-- saya menambah perbendaharaan dengan mencari-cari videoklip mereka di Youtube, dan saya mendapatkan video Manatsu No Sounds Good yang mengegerkan rumah. Karena adik yang cewek ikut nonton video itu, dan dia histeris!! -______-



Karena saya kelihatan mulai tertarik dan sakaw jika sehari tidak nonton video AKB48, pada akhirnya Chikoster menyumbangkan koleksi video adiknya yang juga penggemar, yang total besar filenya 12 GB ckckck. Nah, di bawah ini saya menjabarkan alasan utama kenapa saya memasukkan nama AKB48 ke dalam list artis favorit, bersanding dengan Keane, Coldplay, Kings of Leon dan lainnya. Adapun alasan saya adalah.

1. Musik yang Catchy tapi tak murahan
Saya merupakan tipe pendengar musik yang sangat mempercayai "jatuh cinta pada pendengaran pertama", kalo nada awal sebuah lagu bisa menarik perhatian saya maka lagu itu akan saya sukai, tapi ini tidak berlaku untuk lagu dalam negeri. Hampir semua lagu AKB48 yang pernah saya dengar memenuhi syarat ini, ditambah dengan nada lagu mereka yang catchy, mudah diingat, memberi semangat dan sangat mencirikan jiwa mereka yang muda dan energik. Kalo ada yang tanya, kenapa saya memasukkan kata "tak murahan" ke dalam sub-judul di atas? itu karena banyak lagu yang catchy dan mudah diingat, tapi murahan. Contohnya kalian pasti sudah tahu.

2. Banyak pilihan
Bayangkan sebuah grup yang memiliki personel lebih dari 80 orang dan mereka memiliki keunikan masing-masing yang mendapatkan kesempatan disorot yang hampir sama. Kita pasti akan memiliki 1-2 atau lebih sosok favorit yang akan kita nantikan penampilannya. Sama dengan saya, saya suka dengan sosok Mariko, hahaha dengan alasan standar, dia cantik, unik dengan rambutnya yang pendek tapi sangat feminin dan pokoknya membuat saya bahagia dengan hanya memandangnya dari layar laptop.

Selain dalam hal personil, sebenarnya AKB48 memberi kita banyak pilihan dalam genre musik, mulai dari pop, rock, ska, folk, hingga jazz, tapi sayang kayaknya belum ada hip-hop ya? (tolong diralat kalo saya salah!). Saya sangat suka dengan musik-musik mereka yang berbau rock seperti ALIVE dan Beginner, suara gitarnya lebih keren dari Kangen Band, percaya deh!

3. Penyemangat!
Di saat bagun tidur dan butuh sesuatu yang membuat mata melek, tidak perlu kopi seember. Cukup putar salah satu lagu AKB48 yang bertempo cepat seperti Shoujo Tachiyo. Efeknya seperti ada sekelompok tentara yang menyanyikan lagu mars kebesaran mereka untuk memberikan semangat kepada teman-temannya yang akan pergi berperang di Afghanistan hehehe. Ganbateee Ganbattee!

4. Daya tahan tubuh personelnya
Satu lagi yang saya kagumi adalah daya tahan tubuh personel AKB48 yang kuat, mungkin hasil latihan fisik tiap hari mereka. Saya menonton video konser yang di Tokyo Dome mereka yang berdurasi 4 jam (lagi-lagi koreksi saya kalo salah!), disitu mereka tidak berhenti lompat kesana-kemari, berlari sepanjang panggung yang panjangnya ada sekitar 50 meter, sambil teriak-teriak dan tak terlihat sedikitpun muka capek mereka. Saya saja kalo disuruh lari di tempat, 5 menit kayaknya sudah ngos-ngosan minta tabung oksigen. Saya jadi berfikir bagaimana kalo Ch3ryb3ll3 disuruh nyanyi River dengan megikuti koreografi AKB48, mereka sanggup gak ya?

Dibandingkan dengan fans AKB48 yang lain, saya akui pengetahuan saya tentang mereka sangat sedikit. Saya tidak hafal nama-nama personelnya. Saya juga kadang tidak mengerti istilah-istilah yang digunakan di grup itu. Di postingan ini saya terus minta untuk dikoreksi karena tidak ingin menyakiti hati para penggemar mereka dengan menulis hal-hal yang tidak sesuai faktanya hehehe.
Salam!

Selasa, 10 Desember 2013

The Day, Chapter 2: The End ~ Akhir (terjemahan novel online Daniela Rubio)



Chapter 2: The End ~ Akhir

Perjalanan ke sekolah tidak terlalu buruk, hanya kemacetan di jalan yang sama, seperti pagi-pagi sebelumnya. Aku mendengarkan radio dan ikut menyayikan lagu apa saja yang diputar, apapun genrenya. Saat ini, genre lagu tidak berarti lagi bagiku.
Aku mampir di rumah Brent, dan membunyikan klakson tiga kali untuk memberitahukan aku sudah ada disini.
“Hey squirt! Selamat ulang tahun!” dia tersenyum lebar padaku, kubalas dengan senyum pura-pura. “Ini untukmu,” ucapnya, memberiku sebuah kotak dengan lagak gentleman.
Aku mengambilnya, berpura-pura tersanjung. Aku merobek pembungkusnya, ber-acting terkejut meskipun sudah tahu apa isi kotak itu. “Aww Brent! Kau tidak perlu repot-repot!” Aku menahan napas saat mengeluarkan gelang Tiffany dengan berlian berbentuk bola tennis dari dalam kotaknya.
“Tapi aku ingin repot,” Ia mengatakannya disertai dengan kedipan mata.
Aku menoleh padanya, termangu melihat penampilannya. Wajah Brent seperti wajah milik dewa-dewa Yunani. Rahangnya terpahat sempurna, ditambah sebuah hidung sempurna untuk mendampingi rahang itu. Matanya hijau teduh yang warnanya hanya akan kau dapatkan di dalamnya samudera antah berantah. Rambutnya sewarna kayu – sejenis kayu yang ayah dan aku biasa beli di toko bangunan, lalu menghabiskan waktu seminggu bersama-sama mengubahnya menjadi sebuah meja untuk rumah kami.
Pada dasarnya, dia cowok dengan tampang sempurna. Kau tahu, tipe yang biasa gadis-gadis gambarkan dalam novel percintaan? Cowok yang kau cintai karena dia oh dia-so hot atau oh dia-so sweet? Yeah, Brent adalah cowok sejenis itu.
Aku bahkan tidak menyadari aku sedang menangis hingga Brent menampakkan ekspresi sedih. “Hailee, kau baik-baik saja?” Ia bertanya pelan, menggunakan ibu jarinya untuk menghapus air mata dari pipiku.
Oke. Kenangan tentang saat-saat yang kuhabiskan dengan ayah selalu membuatku menangis. Aku cepat-cepat menyadarkan diri seketika kenyataan menampar wajahku. Tidak, aku tidak boleh menangis. Tidak di depan Brent.
Ini aneh; orang lain tidak menyadari apapun yang terjadi padaku kecuali kejadian yang terjadi hari ini. Tetapi Brent, dia menyadarinya. Jangan-jangan . . . ah, aku mengaggap otakku saat ini sedang mengada-ada dan buru-buru membuang pikiran itu.
Aku meyakinkannya aku tidak apa-apa dan menyalakan mobilku lagi, keluar dari halaman rumahnya menuju jalan raya.
Brent terus memandangi wajahku sepanjang perjalan menuju sekolah, yang makan waktu sekitar sepuluh menit. Aku berusaha berpura-pura tidak menyadari, tetapi tatapannya membuat pipiku memerah, dan aku berusaha untuk tidak menampakkannya. Caranya menatapku seperti ia bisa melihat sampai kedalam diriku, ke dalam jiwaku, membuat diriku ingin ditelan oleh kursi mobil ini saja.
Maksudku, tentu saja kami sudah berteman akrab sejak taman kanak-kanak, saat ada anak yang mengejekku, dia akan melawannya, lalu mengusir mereka. Suatu hari, dia menemaniku jalan kaki pulang ke rumah dan meyakinkanku bahwa aku adalah gadis tercantik yang pernah ia lihat dan anak-anak pengganggu itu hanya cemburu padaku.
Tentu saja, dia waktu itu mengatakannya, hanya karena ia kasihan padaku. aku yakin dia tidak pernah menyangka kami akan menjadi sahabat. Tetapi saat mama mengundangnya untuk datang esok harinya, dia setuju. Dan itulah saat di mana semua ini bermula.
Aku menyayangi Brent. Aku tidak benar-benar tahu apa yang aku lakukan jika hari-hariku tidak mengikutsertakan Brent di dalamnya. Dia satu-satunya yang mendukungku, dan meskipun aku punya banyak teman, hanya dia yang kupercaya.
Kami akhirnya sampai di sekolah dan seketika dikerubuti teman-teman.
“Selamat ulang tahun Hailee!”
“Aw Hailee! Akhirnya kau legal juga!”
“Kau berhasil! 18!”
“Ha, akhirnya kau cocok menjadi seorang senior seperti kami.”
“Bagus Hailee! Akhirnya kau bertampang dan bertingkah seperti anak dua tahun.”
Komentar terakhir membuat semua orang berhenti lalu tertawa, tetapi seketika mereka menyorot si empunya suara saat menyadari itu adalah Ivellise, satu-satunya orang di sekolah ini – di dunia ini – yang tidak menyukaiku.
Rambutnya blonde, makeup nya sempurna, dan bentuk tubuhnya diinginkan oleh semua orang yang bermata dua, termasuk para cowok. Dia itu boneka Barbie, membawa anjing Chihuahua di tas 1), dan memakai rok lebih dari dua puluh senti di atas lutut, menyalahi dress code sekolah
Aku membencinya, dia membenciku
Masalahnya adalah . . . dulunya kami sahabat.
Brent, Ivellise dan aku dulunya adalah Three Musketeers; selai kacang, dan jelly di tambah pisang 2); Miranda, Lizzie, dan Gordon 3); Miley, Lilli ,dan Olliver 4). Tak terpisahkan.
Hingga, tiba hari dimana Ivellise mulai mencukur alisnya, dia menjadi terlalu keren untuk kami. Ritual harian bermain video games dan memesan pizza menjadi sangat “tidak berguna dan menggemukkan” baginya. Jadi, kami berdua mebiarkannya meniggalkan kami. Dan untuk itu, ia membenci kami. Ia ingin mengubahku menjadi seperti dirinya, dan menjadikan Brent pacar. Tapi kami tidak mau itu. Akhirnya, sejak kelas 9, hanya tersisa Brent dan aku, dan aku baik-baik saja dengan itu.
Aku terkejut mendengar Ivellise. Bukan karena terhina, tapi karena setiap hari dia mengatakan hal yang sama persis kepadaku. Tetap saja aku membalasnya dengan kata-kata yang lebih pedas.
“Bukannya mamamu lebih pantas dipanggil anak umur dua tahun? Maksudku, hasil operasi plastik, pasti membuat wajahnya lebih kencang dari anak dua tahun,” balasku puas, sadar apa yang kukatakan tidak hanya kenyataan, tapi juga sangat telak.
Semua orang mulai tertawa, dan muka Ivellise menjadi merah karena marah atau mungkin malu, aku tidak yakin. Ia melotot ke arahku, dan kubalas dengan senyum.
“Okay . . . tenang-tenang, Ivy, tolong pergi saja, aku yakin Hailee punya janji bertemu degan orang yang lebih penting. Jadi . . . bye.” Brent bicara, memastikan dirinya berdiri ada dekat di sampingku -- jaga-jaga kalo si Ivy berubah menjadi liar, dan Brent ingin menghalaunya.
“BAIK,” Ivy menggerutu, dan berlalu, aku memberinya lambaian tangan mengejek.
Brent berbalik kepadaku dan mendengus, ia sudah memasang muka “ceramah” nya, dan aku tidak ingin mendengarnya hari ini.
“Dengar, aku tidak mau mendengarnya saat ini,” gerutuku, lalu berbalik dan menyilangkan tangan di depan dada.
“Dia hanya ingin membuatmu kesal, Hails,” dia mengatakannya dengan nada yang menenangkan, berusaha membuatku mengerti.
“Aku tidak perduli! Dia selalu melakukannya!” teriakku, dan semua orang menoleh padaku.
“Kalau kau melawan api dengan api, kau hanya akan mendapat-“
“Api yang lebih besar. Aku tahu,” potongku cepat.
“Jadi kenapa kau masih menanggapi permainanannya?”
Aku sangat tidak ingin menjawab pertanyaan itu, jadi aku hanya membalas dengan melempar pertanyaan kepadanya. “Kenapa kau memanggilnya Ivy?” tanyaku, lalu menatapnya dan mengeretkan alisku.
Mulutnya terbuka seakan mau mengatakan sesuatu, dan kemudian kembali menutupnya, seakan berpikir keras. Dia menghela napas dan menjawab “itu menenangkannya.”
Aku menatapnya seakan dia baru saja kedapatan berbohong dan mengatakan, “uh-uh, tentu saja.”
Ia memberiku tatapan memohon dan aku memutuskan berhenti membahasnya. Tiba-tiba bel berbunyi dan kami tergopoh-gopoh masuk kelas.
Setengah hari selalu berlalu dengan lancar seperti biasanya. Orang-orang dari kiri kananku mengatakan “selamat ulang tahun!” Ponselku terus bergetar menandakan pemberitahuan dari Facebook, bahwa seseorang menulis di dindingku.
Saat Brent dan aku berjalan menuju makan siang, kami berpapasan dengan Ivellise berjalan menuju kantor, dan aku merasa melihatnya menangis.
“Kayaknya dia …” aku berbisik, tapi tertahan, takut Ivellise mendengarku.
Brent menunggu hingga kami cukup jauh dan menjawab, “menangis? Yah dia menangis. Ingat tidak, hari ini ayahnya keluar dari penjara?
“Oh, iya.” Aku menggumam, dan mengingat kembali bulan itu.
Ivellise dan aku masih berteman, dan dia datang padaku suatu hari menangis. Dia memberitahuku kalau ayahnya yang bekerja sebagai broker dipanjara, dan dituduh menipu. Kami masih delapan tahun waktu itu, dan ayahnya dihukum sepuluh tahun, jadi aku mengerti kenapa dia begitu emosional. Dia mungkin merindukan ayahnya.
Brent dan aku pergi ke kantin, mengambil makanan, dan keluar dari antrian, aku melihat sahabatku yang lain, Sarah, membawa kue ulangtahun raksasa, dengan lilin menyala di atasnya. Oh tidak, pikirku, dan aku mencari wajah Brent dengan panik Aku benci adegan ini. Brent hanya tersenyum polos balik kepadaku dan mengedipkan mata. Lalu, ia menarik tanganku dan menyeretku ke arah Sarah yang menunggu bersama kue dan microphone
“Selamat pagi, Beverly High! Seperti yang kalian tahu, hari ini adalah ulang tahun Hailee Ann Windsor yang ke-18 dan ini sangat istimewa untuknya,” Sarah mendekat kepadaku dan melingkarkan satu lengannya di leherku. “Ini adalah kejutan untuknya yang diatur oleh orang-orang hebat di sana” ia menunjuk ke sebuah meja yang diisi oleh teman-temanku yang lain melambaikan tangan kepadaku. “Jadi, untuk merayakannya, kami mengadakan pesta Masquarade 5) di klub Pham’s, dan kalian semua diundang! Pastikan kalian membawa hadiah!” dia mematikan mikrofon dan memberi tanda kepada band. Band dan teman-temanku mulai menyanyikan “Happy Birthday.” Semua orang ikut bernyanyi. Aku sangat malu, aku belum pernah mendapatkan perhatian sebesar ini dari orang-orang di sekolah. Saat lagu berakhir, semua orang bersorak dan aku meniup lilin. Aku tersenyum ke semua orang lalu memeluk Brent dan Sarah.
“Kalian tidak perlu repot-repot melakukannya,” kataku.
“Kami yang mau baby girl! Kau pantas mendapatkannya,” Balas Brent.
“Yeah! Dan kau terlihat sangat lucu, dengan pipimu yang memerah, Hailee,” Sarah menggoda.
Wajahku makin memerah, saat kusadari aku makin terlihat bodoh di depan seluruh penghuni sekolah.
“Aw! Dia sangat cute!” Brent ikut menggoda, dan aku memukul lengannya pelan, kemudian mulai berjalan menuju meja, mempercayakan Brent membawakan kue dan makanan kami dari antrian makan siang.
“Aku benci kalian guys!” aku menggeram kepada teman-temanku yang memenuhi meja, yang malah membuat mereka serentak tertawa terpingkal-pingkal.
“Aw, Hailee, kami tahu kau suka menjadi pusat perhatian seperti tadi,” ucap salah satu temanku, Ana.
“Oh suka, suka sekali,” balasku dengan sarkasme. Kemudian aku menghela nafas dan mengambil tempat duduk di antara Brent dan Sarah.
“Jadi, teman-teman, pestanya dimulai pukul tujuh.” Sarah mengumumkan dengan semangat.
Aku hampir saja tersedak kue yang kumakan. “Tujuh? Aku bahkan belum punya gaun! Atau topeng!”
Aku benci bagaimana orang sudah punya persiapan dan aku belum. Sekarang, aku harus ke mall, dan cepat-cepat membeli gaun, dan topeng! Masih menjadi misteri bagaimana bisa mereka menyimpan rahasia tentang pesta ini dariku selama ini.
Tapi, aku juga tahu apa yang akan terjadi setelah ini, jadi aku tidak khawatir, aku hanya berpura-pura terlihat khawatir.
“Jangan khawatir, wahai kutil yang mungil, aku sudah menyiapkan untukmu,” Kata Sarah, seolah-olah itu hal yang paling jelas di dunia.
Lagi-lagi, aku sudah tahu bentuk gaunku.
“Sebuah gaun Max Azria warna pink, dan aku punya topeng khusus dibuat untukmu dan disesuaikan dengan topengnya,” lanjut Sarah saat melihat ekspresiku.
Aku meringis. “Trims.”
“Kembali.” Ia balas tersenyum, dan perbincangan berlanjut seperti biasanya.
***
Tujuh jam kemudian, Brent menjemput kami dari rumah Sarah. Aku tidak punya waktu untuk pulang ke rumah. Aku hanya mengirim pesan kepada mama aku harus pergi ke pesta – yang sudah diketahuinya – dan dia hanya membalas dia akan menungguku esok pagi, sudah tahu aku akan menghabiskan malam bersama Sarah atau Brent. Aku setuju, dan lanjut menuju kursi penumpang di mobil Brent, aku duduk di samping sedangkan Sarah mengambil yang belakang.
Sekarang aku memikirkan rumahku, seandainya aku pulang ke rumah waktu itu. Mungkin hal itu tak akan terjadi …
“Hey.” Lamunanku terpotong oleh Brent yang mencoba menarik perhatianku. “Kita akan bersenang-senang malam ini, kau baik-baik saja?
Lagi-lagi, aku terkejut bagaimana dia tahu ketika ada yang salah denganku, dan bagaimana dia menyadari segala yang kulakukan, tidak seperti orang lain, yang kelihatan seperti robot, diprogram untuk melihat dan mendengar apa yang terjadi di hari itu.
“Ya, kita akan bersenang-senang.” Aku tersenyum padanya, mencoba menutup kesedihanku, dan dia melihatku tidak yakin, tapi kemudian mengangguk akhirnya.
Ketika kami sampai, pestanya sudah memanas. Orang-orang menari, tertawa, dan bersenang-senang. Ada yang minum, dan aku menutup hidung, jijik. Alcohol itu menjijikkan, dan aku tidak akan pernah meminumnya, tapi lain ceritanya dengan anak-anak di sekolahku.
“Hey kawan!” anak yang kukenal bernama Austin mendekati kami, napasnya berbau alkohol. Faktanya dia bilang “kawan” membuatku berpikir dia benar-benar mabuk, karena tak seorang pun di Beverly Hills High School Academy pernah mengatakan itu tanpa mendapatkan tatapan aneh dari orang-orang. Brent dan aku hanya mengangguk padanya sebagai pengganti kata hello, tidak mungkin kami untuk tinggal dan dan bercakap-cakap kemudian minum teh bersama anak itu.
Kami sampai di belakang, bagian VIP di mana semua teman dekatku berkumpul. Rupanya Sarah tidak ingin berdansa dengan orang-orang penuh keringat yang tidak benar-benar dikenalnya, dan dia tidak menginginkan aku dikelilingi para lelaki yang merayu untuk berdansa.
Aku menyalami dengan hangat semua orang di area VIP, dan kami mulai menikmati pesta.
***
Aku mulai haus, dan melihat sebuah botol cola yang terlihat unik, jadi aku membukanya dan mulai menenggaknya. Aku terkejut, perasaan panas ditenggorokanku bukan karena gelembung-gelembung cola, tapi karena alkohol dalam minuman itu.
“Hailee! Apa yang kau lakukan?” Tanya Brent, memukul pelan punggungku, berusaha meredakan cegukanku. Ia melihat botol di tanganku dan matanya membelalak. “Kamu minum Jack Daniel’s?” Brent meraih air dari meja di sebelahku kemudian menyerahkannya di tanganku.
Aku mengambilnya, dan meminum air itu, menikmati rasa murni nya, “aku mengira itu coca cola dalam botol yang mewah,” aku berkata malu-malu.
Brent menggelangkan kepala dan tertawa kecil. “Ah, Hails, lain kali baca label sebelum minum.”
Aku melihat sekelilingku, menyadari tidak ada yang memperhatikan kami berdua, dan kemudian aku menyadari ini kali pertama itu terjadi, di hari-hari ku yang repetitif.
Aku mengangguk mengiyakan, dan Brent mengaitkan lengannya di tanganku. “Ayo kita cari udara segar,” ajaknya.
Aku mengangguk, dan kami ada di pintu belakang. Kami membuka topeng, dan berjalan sepanjang lorong kecil. Sebagian besar orang akan takut, tapi aku sedikit mabuk dari alkohol yang tak sengaja kuminum, dan aku merasa aman karena ada Brent di sampingku,
“Kayaknya kita harus pulang,” dia mengatakannya khawatir sambil berjuang untuk membuatku berjalan lurus.
“No! Aku ingin tinggal di sini selamanya! Dan—“  aku tiba-tiba dihentikan oleh suara senjata api dan aku merasakan sebuah sensasi rasa kosong di sebelah kiri, tepat di bawah paru-paruku. Tiba-tiba aku tak bisa bernapas, dan akupun jatuh terkapar.
“Oh Tuhan! Hailee!” Brent berteriak tak berdaya. Ia melihat ke arah penembak itu, tapi aku rasa dia tidak melihat siapa-siapa. Aku mulai merasa ngantuk, usahaku untuk tetap membuka mata membuatku letih. Pendengaranku mulai samar-samar dan kembali terdengar suara tembakan dari kejauhan. Brent tiba-tiba terlonjak. Aku memalingkan kepalaku untuk melihat kemana dia pergi, dan melihatnya dia terlentang di sampingku, sebuah lubang di tengah dadanya.
Dia memandang ke arahku, dan aku merasa tertusuk di dalam jantungku. Ia meraih dan menggengam tanganku, kami saling berpandangan.
Aku benar-benar mencintainya, dan seharusnya aku sudah mengatakan itu. Aku sudah hampir melakukannya, aku melihat mata hitamnya terputar ke belakang, dan tubuhnya terkapar kaku, tak bernyawa. Dan yang bisa kulakukan hanya menangis dalam hati saat mataku semakin berat.
Seandainya aku punya satu hari lagi, aku akan memberi tahunya, bahwa aku mencintanya.
Dan segalanya pun menghitam.

(catatan penerjemah: 1. gaya Paris Hilton, 2. Snack kesukaan remaja Amerika, 3. Karakter dalam serial anak Lizzy McGuire di Disney Channel; 4. Para pemain Hannah Montana; 5. Pesta topeng)

Kamis, 05 Desember 2013

Keane - Difficult Child (Terjemahan lirik)


Keane - Difficult Child

Baby, I’ve been travelling so long
(sayang, telah lama ku berkelana)
Searching for the things for which you ask,
(mencari segala yang kau pinta)
Trying to make you think I could become
(mencoba untuk menjadi sesorang yang kau bayangkan)
The things you want
(sesuatu yang kau inginkan)

Baby I’ve been working so hard
(sayang, aku telah bekerja sangat keras)
Scratching in the dirt and in the fire
(menggali di dalam tanah dan api)

Begging for the beautiful life
(memohon kehidupan yang indah)
That you require
(yang kau butuhkan)

I know I’m like a difficult child
(aku tahu, aku bagaikan anak yang rewel)
Screaming through the night
(menjerit sepanjang malam)
So, help me find the light
(jadi, bantu aku temukan cahaya)
Without you I’m a broken down car
(tanpamu aku mobil yang rusak)
Rusting in the yard,
(berkarat di halaman)
Still waiting for the part
(masih menunggu untuk diperbaiki)

Now finally I’m back in our road,
(sekarang ku telah kembali ke jalan)
Crunching on the shingle in the drive,
(berderak di atas sirap jalanan)
Hungry for your love as I return,
(lapar akan cinta saat ku kembali)
But there’s no sign
(namun tak ada tanda) 

I know I’m like a difficult child
(aku tahu, aku bagaikan anak yang rewel)
Screaming through the night
(menjerit sepanjang malam)
So, help me find the light
(jadi, bantu aku temukan cahaya)
Without you I’m a broken down car
(tanpamu aku mobil yang rusak)
Rusting in the yard,
(berkarat di halaman)
Still waiting for the part
(masih menunggu untuk diperbaiki)

I thought that you’d be waiting like a soldier's queen,
(aku mengira kau akan menunggu layaknya ratu seorang ratu para prajurit)
Gazing from your window, holding out for me
(Memandang dari jendelamu, bertahan untukku)
What a fool I’ve been again
(sungguh bodohnya aku lagi)

I know I’m like a difficult child
(aku tahu, aku bagaikan anak yang rewel)
Screaming through the night
(menjerit sepanjang malam)
So, help me find the light
(jadi, bantu aku temukan cahaya)
Without you I’m a broken down car
(tanpamu aku mobil yang rusak)
Rusting in the yard,
(berkarat di halaman)
Still waiting for the part
(masih menunggu untuk diperbaiki)

Rabu, 04 Desember 2013

The Day Chap. 1 -- by Daniela Rubio (terjemahan)



catatan:  ini adalah novel remaja yang iseng-iseng saya terjemahkan tanpa seizin penulisnya, silahkan dibaca dan diberi kritik jika ada hasil terjemahan yang salah atau ada tata bahasa yang salah, bisa juga beri saran bagaimana cara menulis terjemahan yang menarik, karena setelah membaca hasil terjemahanku sendiri, saya merasa kok kata-kata yang saya gunakan kaku sekali. yang tertarik membaca naskah bahasa inggris nya silahkan cek disini!



Hari itu ulang tahun Hailee Windsor yang ke-18. Ia salah satu dari korban penembakan, meninggal di hari paling penting dalam hidupnya. Sebelum meninggal, ia meminta satu kesempatan untuk menyatakan cinta kepada sahabatnya, Brent. Hailee tak menyadari keesokan harinya ia terbangun di tanggal 6 Juni itu lagi. Esok harinya lagi. Dan seterusnya.

 

The Day

Daniela Rubio

Chapter 1: The Beginning ~ Awal Mula

Aku merasakan peluru menusuk paru-paruku, mengosongkan udara di dalamnya, dan mengisinya dengan darah. Bernapas jadi hal yang tak mungkin, dan usaha sia-siaku hanya membuat kematianku semakin cepat. Jatuhnya diriku ke lantai beton di bawahku tiba-tiba menjadi gerakan super lambat, setiap segi hidupku menjadi sangat jelas. Aku tak percaya, aku akan sia-sia seperti itu. Andai aku punya satu hari lagi . . .

Aku terbangun, tiba-tiba merasakan leherku kaku seperti biasanya setiap pagi. Melirik ke jam dinding dan mencatatnya di kepalaku bahwa saat ini jam 8:45 pagi, jadi aku punya waktu dua jam sebelum diriku harus berada di sekolah. Matahari bersinar terang di mataku, dan berusaha sebisanya menghalaunya dari wajahku saat bangun dengan malas dari tempat tidur, lalu menyeret kakiku sepanjang lantai kayu untuk bersiap-siap.

Setelah berpakaian, aku duduk di depan meja rias, bersiap untuk merias wajah dan rambutku. Aku menyambar alat pelurus rambut, dan menggunakannya di rambut hitamku, dengan sempurna menyingkirkan gelombang-gelombangnya. Lalu, dengan make-up, kubingkai mata biruku dengan warna cokelat yang membuatnya berkilau, sedikit merah di pipi, memberikan perhatian khusus pada warna apel agar kulitku yang terlalu pucat dapat bercahaya cantik. Aku selesai dalam 10 menit, lalu membuka pintu kamar.

Anjingku, Mr. Meowsir menuntut jatah makanannya saat melihatku. Aku menunduk dan memberikan tepukan lembut di kepalanya.

“Aw, Mr. Meowsir, kamu lapar anjing mungil?” aku mengatakannya dengan sangat manis, seakan-akan anjingku mengerti apa yang kukatakan.

Aku menuju dapur dan menemukan mama duduk di meja makan, sedang menyeruput kopinya.

“Hey ma, bagaimana tidurnya?” aku bertanya, memandangnya hati-hati, mencari tanda-tanda perubahan. Dia terlihat sangat cantik, sinar matahari mengenai kepalanya, dan memperindah setiap helai rambut merahnya, warna merah membuat mata hijaunya bersinar seperti lampu lalu lintas. 

“Seperti bayi,” dia mengatakannya dengan ceria, namun kantung di bawah matanya berkata lain. “Bisa tidak kau mengambilkan anjing itu makanannya? Aku khawatir akan mengirimnya lagi ke tempat pelatihan jika dia mencakar salah satu lemari kacaku.”

Aku mengerutkan dahi saat membuka pantry, meraih makanan anjing, membuka penutup, dan menuangkannya di mangkuk anjing. Wow, mama ku sekali-sekali bisa sangat menjengkelkan; dengan suara seraknya; aksen Perancis yang jelas pada setiap huruf hidup yang diucapkannya.

Mr. Meowsir kelihatan sangat senang mendapatkan makanan keringnya. Aku memandanginya makan, menghidupkan kembali hari itu, bertahun-tahun lalu.

Itu adalah ulang tahun ketujuhku; mama mengadakan pesta untukku, mengundang hampir seisi kota. Hadiahku adalah seekor anjing, orang tuaku memutuskan akan sangat bagus jika memberikanku satu, dan ditambah sekantung makanan anjing sebagai ekstra. Brent dan aku mengira makanan anjing itu adalah kudapan spesial, jadi Brent mengambil segenggam dan memberikannya kepadaku lalu aku memakannya, dan sangat menyukainya.

Aku mendesah merindukan saat itu, mataku mulai perih, tapi aku memaksa mataku terbuka untuk mengeringkan air mata yang memaksa untuk mengalir.

Aku memandangi mama, dan aku melihat dia tidak memperhatikan air mataku. Mengapa dia harus memperhatikan? Lagipula, Itu tidak pernah terjadi pada hari sebelumnya.

Membuka kulkas, dan aku menyadari fakta bahwa kami tak punya susu — fakta yang sebenarnya sudah kuketahui, sama seperti hari sebelumnya.

“Ma, susu mana?” aku bertanya dengan santai.

“Oh, maaf sayang aku memakai semuanya kemarin, membuat Flan kesukaanmu untuk acara ulang tahunmu malam ini.”

Aku mengangguk ragu, sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Gadis-gadisku yang cantik! Selamat pagi!” seru ayahku, kemudian tersenyum pada mama dan aku. Rambut cokelat gelapnya terlihat basah dan baru diberi gel, mata abu-abunya memandang mama seperti dia adalah oksigen, alasannya untuk ada di dunia.

“Oh Darius, bisakah kau santai?” mama mengejek.

“Oh tentu saja tidak bisa Alexandrie. Sayangku, berikan aku alasan untuk santai.”

Aku menggelengkan kepala terhadap tingkah mereka. Mereka itu pasangan yang unik.

Yang gagah menikahi yang cantik, dan mereka menghasilkan anak yang tidak terlalu cantik sepertiku. Lucu, bagaimana gen bisa menghianatimu sekali-sekali. Aku sebenarnya tidak jelek, hanya saja tidak cukup cantik. Dan sedihnya, aku tidak punya aksen yang eksotik, atau nama yang eksotik. Aku hanya Hailee. Hailee si gadis biasa.

Tentu, di sekolah aku disukai, dan itu mungkin saja karena orang tuaku. Mereka berdua adalah CEO dari perusahaannya masing-masing, mama di pusat perbelanjaan pakaian, dan ayah di perusahaan minyak di California selatan. Kami masih memiliki kehidupan yang sederhana; kami tinggal di rumah yang relatif kecil – well, kecil untukku – dan kami masing-masing punya mobil. Yeah, aku tetap saja belajar di sekolah swasta, dan mobilku cukup mahal, tapi aku tetap berpikir itu sederhana dibandingkan dengan beberapa keluarga di sekolahku.

Tetap saja, apa guna orang lain menerimamu jika kau tidak bisa menerima dirimu sendiri?

“Hey Hail-Rain,” ayah menggunakan nama kecilku, dan aku menoleh melihatnya tersenyum. “kau tidak keberatan pergi membeli susu untuk kita?” ayah bertanya, menunjuk kearah garasi dengan gerakan dagunya.

Aku menggigit bibir, berpura-pura mempertimbangkannya.

“kau ingin di bayar berapa?” ayah bertanya sambil tersenyum.

“apa saja yang ingin ayah beri padaku,” aku membalasnya dengan licik, dan aku tahu bahwa apa yang ayah  ingin berikan padaku lebih banyak daripada yang kuinginkan. Aku juga sudah tahu apa yang ingin ayah tawarkan, dan itu tidak akan merubah apa yang telah kukatakan.

“bagaimana kalau kau membawa mobil Buggati mamamu hari ini?” ia menjawab, mengabaikan tatapan tajam yang disorotkan mama kepadanya.

“Yes! Terimakasih ayah!” pekikku, memeluknya erat.

“sama-sama sweetheart,” balasnya, menepuk-nepuk punggungku.

Dengan cepat kulaksanakan tugasku, menyambar sarapan dan segelas jus jeruk, dan kemudian menuju pintu, tasku sudah menunggu di dalam mobil. Aku memberi orangtuaku lambaian tangan, tinggal sedikit lebih lama dan memandangi senyum hangat yang mereka berikan, meskipun sebenarnya itu bukan untukku.

Aku melawan linangan air mata untuk kedua kalinya hari ini. Aku berharap ini bukan terakhir kalinya aku melihat mereka.